Apa yang sejatinya dicari manusia? Mereka membolak-balikkan pemahaman, dogma, dan ajaran. Melalui terobosan-terobosan yang logis hingga musykil atas tatanan dan keseimbangan. Secara mendasar atau hanya permukaan segala metode, intensitas, gaya, dan langgam kehidupan. Kiranya sederhana saja: rasa aman. O

Rasa aman yang pada pengejawantahnnya merupa pada bentuk-bentuk kepastian. Keniscayaan yang terpola sesuai kalkulasi dan takaran personal, kelompok atau golongan.

Kepastian ini meliputi banyak hal: terkait apa yang dimakan, seberapa banyak tersedia pasokan di lumbung persediaan, sampai generasi keberapakah jaminan hidup layak bisa dipastikan, sejauh mana lagi rentang kuasa atas koloni mampu dilestarikan. Singkatnya, kepastian mengenai serba berkecukupannya hidup hingga tujuh turunan.

Pada saat yang sama muncul secara natural  rasa was-was (insecure) akan ketidaksanggupan internal dan ancaman eksternal yang menjadikan gambaran indah itu berbalik menjadi buram. Artinya, bak dua sisi mata uang, rasa aman melahirkan ketidakamanan. Perasaan selalu terancam dan hari-hari yang terus menggelisahkan ( insecuricious). Gebalau pemikiran yang kemudian termanifestasi dalam tindakan-tindakan taktis, manipulatif, dan kontraproduktif. Satu perilaku yang dimaksudkan memotong laju normal hitungan waktu.

Perhatikan titik-titik tertentu pada bergulirnya waktu. Pola dan interaksi sosial dan komunal manusia. Anda dulunya bisa dengan tenang berjualan tanpa ada momok penggusuran mengintai. Sebagai pemilik warung Anda bisa dengan tenang mempersilakan pembeli menikmati makan minumnya tanpa sedikitpun dihantui syak wasangka pembeli berkhianat. Anda bisa dengan tenang melepas anak-anak bersekolah dan bermain bahkan hingga ke kampung sebelah, tanpa menyisakan rasa khawatir sesuatu yang buruk menimpa mereka.

Waktu tak akan berhenti hingga tiba suatu zaman dimana agar orang bisa dipercaya, ia harus mati-matian berganti topeng, menjajakan wajahnya diecer di pinggir-pinggir jalan. Bahkan dengan mudahnya tanpa rasa bersalah memproduksi berita palsu, menyebarkannya, menebarkannya, tanpa peduli ia membesar menjadi badai yang melumat martabat dan nilai dasar kemanusiaan.

Pada silang sengkarut sedemikian, rasa aman menjadi barang mewah. Kemudian menjadi utopia dan halusinasi massal. Diperjuangkanlah ia rasa aman dengan menghalalkan segala cara, bahkan walaupun harus menisbikan rasa aman sesamanya. Dan pada gilirannya, setiap orang masing-masing pihak dan golongan merasa sangat tidak aman, insecure. Menggumpal dan membesar menjadi rasa tidak aman berjamaah, insecuricious.

Kehancuran Indonesia di 2030 sebenarnya tak ubahnya dengan ramalan Nastrodamus, jangka Jaya Baya, syair Ranggawarsita atau sekian prakiraan yang dibuat oleh sekian cenayang lainnya. Namun mengapa lontaran yang dikutip dari novel kontemporer ini merisaukan banyak nama? Kepentingan strategis apa yang membuat mereka seperti terbakar jenggot wibawanya dan menyangkal  sekeras-kerasnya?

Di sisi lain, kejernihan Maiyah takdzim dan sendika atas dawuh Nabi kinasih, yang disitir dan dilakoni sungguh-sungguh oleh Mbah Nun, menyatakan bahwa orang beriman adalah mereka yang bisa memberikan rasa aman pada sekitarnya. Sejajar dengan itu, orang yang beriman harus bisa (saling) menyelamatkan tiga hal: nyawa, harkat, dan harta sesamanya.

Senyampang April masih bertajuk angka dua, selagi rembulan masih agak utuh bulatnya, mari diskusikan itu semua. Di Bangbang Wetan yang kali ini menempati pendopo sebuah Taman Budaya.