Oleh : J.Rosyidi

Pembaca mungkin menerka-nerka, apa korelasi judul tersebut dengan parenting. Saya mendapatkan rangkaian kata tersebut dalam sebuah workshop merancang sekolah merdeka yang diadakan SALAM -Sekolah- alternatif yang didirikin oleh pak Toto Rahardjo dan istrinya, Bu Wahya, yang berlokasi di Jogja. Kalimat tersebut adalah “mantra” yang tidak hanya dihafal, tapi juga dihayati betul oleh anak-anak SALAM.

Saat itu, saya mencoba merenungkan apa makna filosofis di balik mantra tersebut. Karena meskipun itu sesuatu yang baik, tentu saja masih ada keingintahuan darimana asal muasalnya hingga mantra tersebut muncul. Aha.. Tiba tiba saya kemudian tebersit makna Rahmatan Lil Al-Amin. Sebuah misi kenabian yang diemban oleh teladan terbaik kita, Muhammad saw. Bagi saya itu tidak hanya cerdas, tapi brillian! Sebuah konsep abstrak, bahkan yang dewasa pun kadang kesulitan membahasakan apalagi memgejewantahkan dalam perilaku, menjadi sebuah mantra yang demikian mudah dimengerti -bahkan untuk anak usia sekolah dasar sekalipun -dan menjadi “mudah” pula untuk diaplikasikan.

Apa kemudian hubungannya dengan parenting? Yup. Bapak dan ibu benar. KOMUNIKASI. Komunikasi adalah kunci dalam proses parenting. Bagaimana kita bisa mendidik anak kita apabila komunikasi tidak nyambung? Tidak mungkin pula kita meminta anak anak kita untuk mengerti maksud pembicaraan kita, bukan? Yang seharusnya adalah kita yang mencoba menyampaikan pesan dalam bahasa yang dimengerti oleh anak anak kita. Tapi apa yang terjadi? Kebanyakan orang tua tidak mau bersabar dan mencoba memaksakan pemahaman mereka kepada anaknya, meski anak tidak mengerti karena kendala komunikasi yang terjadi.

Dalam komunikasi ada tiga hal yang menjadi kunci terjadinya komunikasi yang baik. Pertama adalah penyampai pesan. Kedua adalah penerima pesan. Dan yang terakhir adalah pesan itu sendiri. Inti dari pesan kebanyakan tidak akan bermasalah. Karena baik orang tua maupun anak tentu menginginkan kebaikan bagi semuanya. Masalahnya tentu saja pada pemberi dan penerima pesan.

Pada banyak kasus yang saya temui, generation gap, perbedaan generasi benar benar menjadi masalah tersendiri bagi orang tua. Anak maunya A, yang ditangkap orang tua B. Dan sebaliknya orang tua menyampaikan C yang dipahami oleh anak adalah D. Demikian seterusnya. Jadinya “Jaka Sembung bawa golok” bukan?

Mengharapkan anak mengubah cara komunikasi memang memungkinkan. Tapi yakinlah itu akan sulit. Selain faktor lingkungan, faktor kedewasaan-kematangan berpikir-  juga mempengaruhi. Maka satu satunya yang mudah dilakukan adalah meng-upgrade kemampuan komunikasi orang tua. Tidak hanya komunikasi verbal semata tapi juga bahasa tubuh ketika berkomunikasi dengan anak pun harus menunjukkan bahwa kita menghargai dan menghormati mereka. Banyak terjadi di lapangan adalah orang tua berkomunikasi dengan anak tidak 100 persen. Masih banyak orang tua yang berkomunikasi sambil menyelesaikan pekerjaannya. Berkomunikasi dengan anak, sambil asik dengan gawainya. Dan lain sebagainya.

Yang kemudian tak kalah penting dalam mendukung kemampuan komunikasi orang tua kepada anak adalah memahami tahapan tumbuh kembang anak baik fisik, terlebih psikis-psikologis. Pemahaman tentang tumbuh kembang ini kemudian bisa diimplementasikan dalam bahasa bahasa yang mudah dipahami anak. Sebagai contoh konsep Rohmatan Lil Alamin adalah sesuatu yang sangat abstrak. Maka anak anak usia sekolah dasar -dan bahkan sekolah menengah pertama saja- masih kesulitan untuk memahaminya. Makanya menggunakan bahasa “Jaga diri, Jaga Teman dan Jaga Alam” yang disebutkan di atas adalah lebih mudah dipahami.

InsyaAllah pada tulisan-tulisan selanjutnya akan lebih teknis. Tapi pada rangkaian  tulisan-tulisan awal ini kita mencoba untuk mengurai garis besarnya terlebih dahulu. Sampai ketemu di tulisan-tulisan selanjutnya ya, Ayah Bunda. Semoga senantiasa diberikan kemudahan dalam mengasuh buah hati tercinta.

 

Penulis adalah pegiat dan pemerhati pendidikan, jamaah Maiyah Bontang. Bisa disapa di facebook Jamaluddin Rosyidi