Kolom Jamaah

Jalan Karunia, Jalan Kehidupan

Jalan  Karunia, Jalan Kehidupan
Oleh: Prayogi (Mas Yogi)
Terbit di BMJ (Buletin Maiyah Jatim): Bulan FEBRUARI 2016

jalan karunia jalan kehidupanSuatu ketika  ada seorang pegawai Bank Perkreditan Rakyat. Entah waktu itu posisinya sebagai apa. Mungkin seorang pemasar . Mungkin bagian operasional  yang sehari-hari  melulu hanya duduk di belakang meja. Mungkin pula  seorang staff  kredit yang memiliki  wewenang memutuskan apakah pengajuan pinjaman dari seseorang akan disetujui atau tidak.

Yang pasti, gaji yang dia peroleh hanya ngepas-ngepaske  saja  untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sehingga dia sangat girang begitu kantor tempatnya bekerja akan menyelenggarakan gathering dan meminta kepada istrinya untuk menyiapkan makanannya.

Pendek kata, rekan-rekannya di kantor dan juga Bos-nya memuji masakan istrinya: enak! Begitu komentar mereka.  Maka, beberapa waktu kemudian saat kantornya kembali menyelenggarakan acara, tetap istri pegawai inilah yang diminta menyiapkan makanan. Begitu terus berlanjut hingga mereka baru menyadari betapa ini merupakan sebuah peluang usaha. Maka, mereka pun lantas secara resmi mendirikan usaha katering. Dimulai dari usaha katering kecil-kecilan, kemudian berkembang hingga saat ini menjadi salah satu katering terbesar di Malang.

Kemudian ada laki-laki kedua. Dia bekerja pada proyek-proyek perumahan. Kurang tahu juga posisinya apa. Namun, sepertinya juga bukan karir yang menjanjikan untuknya. Disisi lain, dia suka mempelajari buku-buku tentang anatomi tubuh dan kesehatan milik saudaranya yang terbengkalai. Saudaranya ini bekerja sebagai tukang pijat professional. Dari hasil mempelajari itu, dia sangat tahu karakter tubuh, jaringan syaraf, jaringan otot, titik-titik refleksi, dsb.

Suatu ketika, dia bertemu dengan Sahabat sekaligus mentornya. Bercengkrama seperti biasanya. Namun kali ini ada hal yang serius yang disampaikan  sang Sahabat. Dia menyarankan agar laki-laki ini mengambil amanah kehidupan sebagai tukang pijat.”Ah, masak saya bekerja seperti itu, Kanda?” tolaknya halus. Dan hal itu berjalan selama bertahun-tahun. Hingga suatu ketika, dia menyerah. Dia bertekad sungguh-sungguh akan memulai kehidupan dengan memenuhi amanah sebagai tukang pijat.  Dan diusia 40an, akhirnya dia menikah.

Sementara pemuda ketiga adalah seorang Transformer. Dia lulusan sebuah perguruan  tinggi negeri ternama dan seringkali bertransformasi dari satu ide ke ide berikutnya. Mulai dari ide membangun bisnis sampai ke ide sebagai partner bisnis. Malangnya, belum ada satu pun idenya yang diwujudkan. Bukan karena kegagalan ditengah upaya, namun bahkan dia belum pernah memulai.  Entah faktor apa yang membuat dia sulit sekali memulai sesuatu. Padahal, dia sangat tahu kalau hidup intinya adalah beramal, berbuat, bekerja. Gagasan-gagasan, sebesar dan seindah apa pun, hanya akan membawa manusia semakin pintar, tapi belum tentu membawakannya sepiring nasi.                 

Sedangkan pemuda keempat ini juga kreatif. Dia melihat peluang usaha dengan memperhatikan pemulung. Karena dia mendapatkan pendidikan yang cukup tinggi, maka dia memiliki ide unik dan memiliki kerangka metode untuk menerjemahkan ide tersebut kedalam wujud nyata. Karena pendidikannya, maka dia malu untuk bekerja layaknya pemulung-pemulung lain. Maka, dia membuat profesi yang belum pernah ada: pemulung bergengsi. Bagaimana caranya, dia membangun Bank Sampah. Beberapa daerah memang sudah ada Bank Sampah. Namun, dia membuat Bank Sampah yang berbeda. Bank Sampah yang benar-benar “mengadopsi” cara ekspansi Bank.  Begitulah dia menjalani hidupnya.

Orang pertama adalah orang yang sudah bekerja dan ditengah perjalanan hidup dikaruniai oleh Allah jalan rezeki yang bahkan dia tidak pernah sangka-sangka. Sementara orang kedua berusaha mati-matian bekerja seperti yang dia inginkan, namun disisi lain, Allah menghadiahi dia dengan kemampuan yang bisa menjadi pintu rezeki. Awalnya memang dia menolak, namun seiring bertambahnya waktu, dia menyadari hadiah dari Allah itu sebagai amanah kehidupan.

Sementara orang ketiga masih saja berhenti asyik pada dunia imajinya. Sedangkan orang keempat memiliki kreativitas yang dibutuhkan untuk mengubah potensi dan rasa malu menjadi bisnis yang menjanjikan. Minimal menjanjikan makan yang cukup untuk dirinya. Ada orang yang harus berjuang dulu habis-habisan, baru kemudian “dihadiahi” oleh Allah. Ada pula jenis orang yang tanpa berjuang dulu, tanpa susah payah, dia langsung mendapatkan perkenan   Allah.   Ada juga yang sudah berjuang habis-habisan dan  “secara kasat mata” tidak juga mendapatkan kemudahan-kemudahan dari Allah dalam hidupnya.

Memang, setiap orang harus benar-benar mentadabburi dirinya. Mengenali dirinya. Mengenali apa kehendak Allah atas dirinya, apa tugasnya dimuka bumi, bagaimana karakter turunnya karunia, dsb. Diatas adalah kasus soal rezeki, kita tinggal mengubah kasusnya dan semua mungkin memiliki pola yang sama: jodoh, pekerjaan, hidayah, dst.

Oleh: Prayogi