Rahim

Jalan yang Dipilih dan Hikmah yang Dituai

Oleh: Dea Rachmadany

Selasa, 12 Oktober 2021. Daerah Masjid Agung, Surabaya.

Sepulang kerja, letih sekali. Ingin rasanya merebahkan badan, namun tidak untuk urusan di otak. Ingin rasanya mengajak otak untuk tenang sejenak. Sehingga saya putuskan untuk keluar rumah untuk menghirup udara di kota besar dambaan para pencari cuan.

Malam itu  jalanan masih ramai oleh pengendara. Entah itu untuk perjalanan pulang atau masih dalam aktivitas pekerjaan. Mereka berusaha untuk seimbang dalam mengendara agar tidak terjadi kecelakaan. Agar tidak saling merugikan dan dirugikan, saling menjaga, dan menyayangi. Gemerlap kota dengan berbagai aktivitas di dalamnya membuat saya serius dalam mengamati. Berusaha memahami perasaan setiap orang-orang yang rela meninggalkan kampung halaman demi bertahan hidup, kerja sampai malam demi menghidupi orang-orang yang mereka jaga dan sayangi, kluntang-kluntung mencari penumpang demi sesuap nasi. Sungguh kehidupan di kota tak seenak yang dikira.

Otak masih belum tenang, saya putar lagu yang sering saya dengar. Melewati cahaya-cahaya lampu jalan sembari menikmati alunan lagu yang tidak tahu apa artinya. Berjalan tanpa arah, tidak tahu mau ke mana. Namun saya niatkan untuk menenangkan otak yang terus saja overthinking.

Tuhan telah menyiapkan banyak jalan. Pilihlah jalan yang telah Tuhan siapkan. Meskipun menurut kita itu salah, Tuhan sudah menyiapkan jalan lain untuk kita terus berjalan. Asalkan niatnya baik dan tidak merugikan banyak orang. Ada kutipan dari sebuah film, “Kadang kita salah melangkah untuk tiba di tempat yang tepat.” Perlu perenungan dan refleksi diri untuk berusaha  tepat  dalam  mengambil  keputusan serta  memilih jalan yang  kita  pilih.  Tuhan memberikan kebebasan untuk mau jadi apa dan mau bentuk yang bagaimana.

Di titik saat perut saya sudah tidak kuat menahan lapar, berbeloklah saya ke toko berwarna merah putih biru. Di sana saya melihat badut lucu yang cukup menarik perhatian. Saya membeli dua botol minuman dan makanan. Saya ajak badut itu makan.

“Halo, Bapak Badut. Ini buat Bapak.” bapak badut awalnya menolak dengan alasan sudah makan.

“Bapak temenin saya makan ya, Pak. Saya sendirian. Gak enak kalau makan sendiri.” Akhirnya bapak badut itu duduk di samping saya, namun masih ragu untuk membuka topeng karena takut ada yang mengenalinya. Lama-kelamaan bapak itu rela membuka topeng, namun masih menutupinya dengan masker yang beliau kenakan.

Saya duduk di samping bapak badut. Sambil makan roti jumbo yang saya beli tadi. Dari situ saya berusaha mencairkan suasana yang hening. Dialog pun terjadi antara saya dan bapak badut itu.

Bapak ini ternyata baru menjalankan profesinya selama 12 hari. Beliau terpaksa menjalankan profesi ini demi menghidupi keluarganya di rumah. Tinggal di kamar kost bersama sang istri dan pandawanya. Dari pagi sampai malam, beliau menggunakan kostum itu untuk menghibur orang-orang yang lewat di depannya. Ada sebuah perkataan bapak ini yang masih membekas di benak saya, “Sebenarnya saya malu kayak gini, Mbak. Tetapi mau gimana lagi. Saya harus bekerja.”

Profesinya yang dulu seorang supir, kini pupus karena di masa pandemi ini banyak tempat yang ramai pengunjung di tutup sementara dengan alasan demi kebaikan bersama. Namun, bagi beberapa orang, mereka harus kehilangan pekerjaannya dan bingung mau kerja apa karena keterbatasan yang mereka miliki. Akhirnya dengan berani untuk melawan keterbatasan yang ada, mereka memilih jalan yang mereka pilih.

Selain itu beliau juga memberikan nasihat-nasihat untuk saya. “Kalau lagi capek sama kerjaan atau sama orang, jangan cerita ke orang tua ya, Mbak. Takutnya nanti orang tua kita mikir yang tidak-tidak. Selagi bisa di atasi sendiri, atasi sendiri aja, Mbak.” Percakapan berakhir ketika makanan yang saya makan habis. Sebelum berpisah bapak tersebut masih sempat berpesan, “Mbaknya kok jauh-jauh ke sini? Ndang pulang, Mbak, nanti sampaj rumah kemalaman lho, Mbak. Kasihan nanti bapaknya nyariin Mbak.” Sebuah perhatian kecil dari Bapak Badut yang sudah cukup untuk menghibur dan membuat pikiran saya tenang. Pulanglah saya ke rumah dengan hati ayem dan pikiran adem.

Di sini saya melihat Tuhan. Bahwa Tuhan sedang mengibur saya lewat bapak badut itu. Membolak-balikkan hati saya untuk menghampirinya. Tuhan memberitahu saya mengenai perasaan yang sedang bapak badut itu resahkan. Dan, Tuhan memberikan hikmah tersirat dari kejadian tersebut.

Dea Rachmadany. Penulis lahir di Kota Pahlawan. Pengagum senja yang kini berusaha memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan makhluk-Nya. Bisa ditemui di akun Instagram @dea.rachmadany.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *