Jalma Mara Jalma Cidra

 

Kali ini kita bicarakan bumi. Setelah banjir dipolitisir dan genangan air menjadi amunisi receh para floating mass yang laju dendamnya tak pernah berhenti.

 

Dalam khazanah kebijakan Jawa, kita mengenal Bapa Langit Ibu Bumi sebagai falsafah yang menunjukkan posisi terhormat mereka berdua dalam kehidupan. Relasi interpersonal tata kelola kosmos ini mengandung pesan agar pemanfaatan (dan penguasaan pada gilirannya nanti) atas tanah yang kita pijak serta ranah tempat kita hidup, bukan tentang eksplorasi hingga aneksasi. Ia hanya berhubungan dengan harmoni.

 

Terkait hierarki dan relasi antar sesama ciptaan, Mbah Nun sering dawuh bahwa bumi dengan segala isinya merupakan saudara tua manusia. Bila dilihat dari urutan proses pembuatan dan keberadaannya,  pernyataan di atas adalah keniscayaan semata karena secara kronologis penciptaan dimulai dari alam semesta diikuti tetumbuhan, hewan, dan manusia di posisi terakhir.

 

Adalah satu kenyataan ironis–atau di sisi lain kewajaran yang telah diramalkan sebelumnya–si bungsu inilah yang dengan segala kelengkapan akalnya justru mengambil peran seolah dialah Pembarep yang memiliki otoritas untuk menerapkan hukum semau gue. Dalam sejarah dan perkembangannya, manusia bukan hanya melakukan upaya coup d’ taat atas kakak-kakaknya. Ia berpikir serta menempatkan mereka tercipta sepenuhnya untuk dimanfaatkan sebagai sarana bagi keberlanjutan hidupnya.

 

Bagaikan cenayang, di saat manusia masih dalam tahap prapenciptaan, Malaikat mengatakan bahwa “duplikat Tuhan” itu hanya akan “menumpahkan darah dan membuat kekacauan”. Hitungan milenial sejak Nabi Adam dan Ibu Hawa bertemu di Jabal Rahmah menjadi bukti kebenaran dari ramalan sekaligus kekhawatiran makhluk yang mendedikasikan dirinya hanya untuk seratus persen sami’na wa atho’na. Manusia yang fungsi dan peran awalnya diplot oleh Maha Kreator sebagai pengelola menunjukkan gejala lebih sebagai pembuat onar dan eliminator nyawa bagi sesama dan kakak-kakaknya.

 

Kesadaran akan adanya energi terbarukan, keterbatasan daya tampung bumi, kian susutnya keragaman hayati dan plasma nutfah, putusnya banyak mata rantai ekosistem dan jaring makanan, serta mutasi tingkat sel hingga organ dan jaringan sebagai dampak unsur-unsur polutan adalah gejala-gejala yang melahirkan kesadaran akan mendesaknya program, regulasi, kebijakan, dan gaya hidup yang ramah lingkungan.

 

Dari prinsip itu, lahirlah gerakan kampanye dengan jargon-jargon diantaranya: Small is Beautiful, Bumi adalah titipan anak cucu–bukan sekadar warisan, think global act local, dll. Kenyataannya, bersama dengan moto yang diteriakkan, perusakan, eksplorasi, dan eksploitasi nir-upaya pelestarian terus berjalan. Sebuah tragedi keniscayaan dimana Si Bungsu menanam pohon dengan tangan kanan dan pada saat yang sama, tangan kiri bergiat melakukan pembalakan liar dan menggunduli hutan.

 

Fenomena alam yang kini kita rasa dan amati seperti banjir bandang, tanah longsor, kebakaran mega dahsyat di Australia dan Amerika Serikat, persoalan sampah plastik yang kian menggunung, deforestasi besar-besaran, lubang tambang yang kian menganga, hingga ancaman musim panas tanpa es di Kutub Utara rasanya terlalu naif apabila kita artikan sebagai sebuah musibah belaka.  Air, api, angin, logam, kayu, dan tanah sendika dawuh menjalankan sunnatullah. Kitalah yang angkuh dan dengan gampangnya menimpakan kesalahan kepada alam sebagai sebab musabab bencana serta kondisi ke-serbadarurat-an.

 

Kebersamaan sebagai makna dasar dari Maiyah, mengandung muatan arti sebagai langkah beriringan menjalani hidup bersama semua makhluk, sesama ciptaan. Ber-Maiyah atas bumi, lingkungan, hingga semesta adalah satu keharusan. Unggah-ungguh, sadar diri, empan mawa papan nampaknya bisa kita jadikan amunisi dalam perbincangan mengenai hubungan Si Bungsu dengan kakak-kakaknya. Bagaimana ia sebagai Jalma (manusia) mara (datang) dan hidup di bumi telah cidra (ingkar janji) terhadap sifat, kedudukan, dan hakikat kehadirannya di bumi. Tentu saja di rutinan kali ini, BangbangWetan Februari yang sarat ilmu dengan tidak berkurangnya kadar kegembiraan.

 

[Tim Tema BangbangWetan]