Oleh: Rio NS

 

…Itulah sebabnya Orang Maiyah diperingatkan Allah “jangan menghardik waktu”. Orang Maiyah terus lelaku, menanam, menabur, menyebar dan menyebarkan.”

[Muhammad Ainun Nadjib. “Bangbang Isim”, 23 Maret 2015]

 

 

 

Dari sekian banyak Simpul dan Lingkar Maiyah, tampaknya, hanya Bangbang Wetan (selanjutnya BbW) yang para pegiatnya konsisten menamakan dirinya sendiri sebagai Isim. Pemadatan kelompok orang-orang di balik terus berlangsungnya forum rutin bulanan di Surabaya ini terjadi di Kongres Isim, 24 Maret 2015. Pemadatan yang berlangsung di Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda Surabaya itu merupakan tindak lanjut dari “pembagian peran” dalam organisme Maiyah yang digagas Mbah Nun. Struktur lengkapnya adalah Dzat, Sifat, Isim, dan terakhir Jisim/jasad.

 

Penambahan jumlah Simpul dan Lingkar di periode 2015-2019 memang sungguh signifikan. Satu kenyataan yang menggembirakan dari perspektif kian banyaknya kesungguhan orang-orang yang bermaksud mempelajari, berkhidmat dan memperluas jangkauan resonansi nilai-nilai Maiyah. Selama rentang waktu itu pula, Isim BbW tidak mengalami perubahan dari segi rancang bangun maupun nama-nama yang menopang keutuhan arsitekturalnya.

 

Benarkah tegak-kokohnya bangunan Isim BbW dari segi kesatuan dan kohesitasnya benar-benar terjaga dalam perjalanan waktu 4 tahun? Jawabnya tentu saja “tidak”, karena jawaban “iya” atas pertanyaan itu adalah bentuk arogansi dan pengingkaran akan sunnatullah mengenai abadinya perubahan. Nama-nama yang tinggal kata tertulis dalam struktur Isim, personil yang karena “takdirnya” menjalankan beberapa fungsi, tumpang tindih tugas dan posisi serta beberapa bagian yang invalid atau bahkan harus mengalami mati suri adalah gejala yang bisa dibaca bila masuk lebih dalam ke dapur BbW. Kenyataan menyedihkan, menggelikan sekaligus tak memberikan impresi apa pun karena sepertinya ini pulalah hukum alam bagi apa pun format di mana sekelompok manusia berserikat dan berkumpul.

 

Unsur-unsur yang terkandung gesekan orang per orang seperti kesibukan, kepentingan, gaya dan selera, harapan atau cita-cita, watak maupun pembawaan, selalu berkelindan dengan komitmen, kontinuitas, intensitas, dan kesungguhan. Hal-hal tersebut mewarnai ruang dan waktu yang menjadi media dari interaksi dalam satu kerumunan, komunitas hingga masyarakat juga bangsa. Jumlah dan ragam cerita uniknya bertambah banyak bila kita sertakan jalinan kontak dan hubungan dengan pihak luar. Usikan, godaan, bahkan intimidasi dan ancaman merupakan gambaran wajar yang menimpa setiap keterkaitan dan keterikatan dengan eksternal.

 

Demikian halnya dengan romansa Isim BbW dalam perjalanannya sebagai satu organisme. Bersyukur bahwa apa pun yang terjadi di “dapur pengolahan”, keluaran yang disajikan Isim BbW tetap mengandung standar kualitas yang terjaga. Bahwa kemudian sesekali muncul penurunan mutu atau pernah pula absennya “produk” tertentu, mari kita maklumi sebagai dampak dari bioritmik yang manusiawi belaka.

 

Namun, meminjam jargon yang sering kita dengar sebagai “apa yang lahir dan keluar dari hati akan berlabuh di hati” menjadi kerisauan bersama, orang per orang. Segala apa yang terus menerus mereka kerjakan tak ingin mereka lakukan semata sebagai penggugur kewajiban. Otomatisasi pemenuhan tugas-tugas terkait, misalnya kewajiban menyerahkan TPR (Tema, Prolog, Poster, dan Reportase) maupun upaya menghidupkan endapan-endapan (Sanabila, FJR, Majelis Sholawat Rolasan) menimbulkan akumulasi gebalau. Kerisuan sebagai padatan energi inilah yang pada gilirannya mengkristal menjadi ledakan kecil berbentuk Rembuk Isim BangBang Wetan 2019 (REMIS BbW 2019). Pertemuan resmi Isim BbW itu berlangsung spartan satu hari penuh di sebuah lembaga pendidikan dasar Islam di lingkungan Pekarungan, Sidoarjo.

 

Gubernur BangbangWetan saat menyampaikan Insight pada acara REMIS

 

Insight yang disampaikan Gubernur BbW mengenai tragedi Granada rupanya menjadi alas yang merajut kembali serabut-serabut kemesraan. Segala kesumat, jelmaan-jelmaan rasa skeptik dan kesalingtidakpahaman akibat komunikasi yang sebatas via layar kaca telah mencair bahkan sebelum topik itu kritis diperbincangkan. Kerinduan, poin-poin kesan dan ingatan lebih mengemuka ketimbang permbahasan logis obyektif yang bersifat organisasional.

 

Terus menyadari fadilah dan peran yang menjadi karunia setiap manusia adalah bara penjaga nyala pertemuan itu, sebagai upaya untuk menghadirkan hidangan terbaik bagi lebih banyak orang—selain tentu saja, sebagai bahan ajar bagi diri sendiri. Tersusunlah kemudian kesepakatan-kesapakatan yang ditabulasikan ke dalam sederetan rencana kerja. Satu rangkaian program yang siap direalisasikan dengan alarm dan pengawasan mandiri.

 

Upaya revitalisasi endapan yang “nyaris hidup enggan mati pun jangan” juga tak luput dari perhatian utama. Terlebih, terkait dengan Sanabila—satu lembaga zakat, infaq, dan shodaqoh; melaluinya, hidup berkemandirian bisa mulai diberdaya-budayakan. Keterbatasan jumlah nama-nama yang tersedia coba disiasati, beberapa pengalaman baik dan catatan kurang mengenakkan dijadikan modal untuk terwujudnya perbaikan berkelanjutan.

 

Menyangkut hidup berkemandirian ini, muncul beberapa usulan agar selain mengoptimalkan kembali peran Original Merchandise (ORM) BangBang Wetan, ada terobosan mengenai penyebaran nilai-nilai Maiyah yang memancar dari sekian banyak aliran wisdom terucap, tersurat dan tersirat dari Mbah Nun. Karena menyangkut adab, tata krama dan aspek legal, bahasan yang belum tuntas ini akan dilanjutkan secara intensif di waktu berikutnya.

 

Pembukaan REMIS BangbangWetan 2019

 

Upaya sambung berkah secara internal, khususnya menyangkut terus bergulirnya energi dan manifestasi nilai-nilai Maiyah, juga dilakukan. Dari mereka yang hadir, terdapat wajah-wajah baru. Rona wajah yang saya tangkap adalah harap sekaligus kesiapan mereka menerima amanah. Untuk itulah, gerakan promptly merupakan respon yang tepat. Memasukkan nama mereka ke dalam kelompok kerja Isim dan bahkan mengikutsertakan mereka ke pelatihan menulis di Kadipiro adalah gambaran akurasi langkah yang kita harapkan segera berbuah efektifitasnya.

 

Seperti namanya (Remis), pertemuan di Pekarungan berhasil menghindarkan konflik terbuka yang sangat mungkin terjadi karena ada sesi nguda rasa. Semacam wadah untuk curhat dan open talk. Sebuah mata acara yang memungkinkan terjadinya upaya pelepasan uneg-uneg dan volume rasa setelah sekian lama tersimpan dalam-dalam. Isim BbW, dengan kebijakan dan kebajikan sinau bareng, memillih untuk tidak menempatkan sesama saudaranya dalam situasi “sekakmat” yang mematikan. Mereka sepakat untuk menjadikan kedudukan sebagai “remis” karena penghayatan atas de-eksistensi serta kesungguhan untuk tak henti menambah saldo pada rekening Bank Kemanfaatan; sebagai diri dengan segala keunikan maupun atas nama keluarga besar BangBang Wetan.

 

Thoriqoh menanam tanpa berharap panen dan puasa zonder penantian akan Hari Raya yang kita yakini bersama menjadikan Pekarungan sebagai tonggak keberangkatan bagi Isim BbW dalam sebuah perjalanan sangat panjang untuk sampai pada tujuan nan tak berkesudahan.

 

Sekilas tentang penulis : Karena miilleu di sekitarnya lebih banyak millenials, Penulis terbawa rasa untuk selalu muda. Walau rambut perak di kepala kian membuncah, sebanyak ide yang belum tuntas dituangkannya.
Komunukasi bisa dijalin melalui FB N. Prio Sanyoto