Reportase

Janji Allah Kepada Orang-orang Yang Menyibak Selimutnya

 


Janji Allah Kepada Orang-orang Yang Menyibak Selimutnya

(Reportase BangbangWetan 14 Maret 2017)

  • Jaman Simulakra

Jaman Simulakra. Jaman dimana manusia kehilangan kemampuan membedakan mana kenyataan dan mana khayalan. Melakukan sesuatu tanpa bisa memaknai; memakai dasi tanpa bisa menemukan apa manfaat dasi. Saat itu, manusia tertutupi oleh selimut-selimut yang memanjakan kebutuhan serta keinginan manusia. Walhasil, manusia lebih memilih kenyamanan selimut (kemul) dunia (ndunyo) dibandingkan menghadapi kenyataan hidup di luar selimut. Kondisi ini amat menjerumuskan, sampai-sampai Allah mengingatkan kita untuk bangun dan menyingkirkan selimut kenyamanan tersebut. Tetapi, berapa banyak orang di era serba instan ini yang bersedia bersusah-payah melakukannya? Terutama, bagi manusia muda yang umumnya masih dalam naungan perlindungan orangtua. Bukankah lebih enak membiarkan diri hanyut, terlarut mengikuti tren masa kini, berasyik-masyuk dengan kekasih hati, atau melampiaskan dahaga akut akan eksistensi diri lewat media sosial? Adakah pemuda yang lebih memilih melatih daya pikirnya dengan menggeluti buku-buku berisi pemikiran para tokoh, dan memilih menyingsingkan lengan untuk membangkitkan kesadaran masyarakatnya akan keterlenaan tersebut?

Jawabannya ada pada sosok pemuda 15 tahun, bernama Seno Bagaskoro, yang malam itu sengaja diundang Pak Suko untuk hadir dalam Majelis Maiyah BangbangWetan Maret 2017 dengan tema Kemulan nDunyo. Seno adalah seorang siswa kelas satu SMA yang tak hanya bangun dari selimut, tetapi sekaligus berjuang membangunkan kawan-kawan pelajar lain lewat ‘Aliansi Pelajar Surabaya’ yang ia prakarsai. Organisasi ini tidak bertujuan untuk melawan sistem sekolah, tetapi mengajak para pelajar bahu-membahu supaya sekolah mereka berdaya untuk melindungi para pelajar dari ketidakadilan yang terjadi dalam dunia pendidikan.

Ketika ditanya perihal selimut dalam dunia pemuda, Seno menjelaskan. Menggugah para pemuda jaman penjajahan atau jaman revolusi untuk keluar dari kenyamanan selimut, lebih mudah dilakukan daripada menggugah pemuda jaman sekarang. Para pemuda jaman perjuangan fisik menghadapi ancaman yang jelas, seperti penjajah dan senjata yang memang bertujuan untuk membunuh dan menguasai. Namun, para pemuda jaman sekarang menghadapi ancaman yang tampilannya luar biasa melenakan, namun sesungguhnya menjerumuskan. Kemunculan selimut versi paling mutakhir abad ini, yaitu internet dan sosial media, memperparah kondisi. Padahal menurut Seno, internet dan media sosial sebenarnya merupakan sarana informasi, sarana pergerakan, dan sarana pendidikan yang paling potensial untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik serta untuk melawan ketidakadilan.

Sebagai seorang pelajar, Seno juga dimintai tanggapan mengenai selimut dalam dunia pendidikan. Ada pendapat bahwa sekolah merupakan selimut yang sengaja dirancang untuk menidurkan para generasi muda. Seno sepakat dengan pendapat tersebut. Ia mengamati bahwa tujuan sistem persekolahan Indonesia masih belum berubah sejak masa kolonial. Pada masa penjajahan Belanda tersebut, sekolah-sekolah didirikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang akan menjalankan putaran roda sistem kapitalisme. Masih dengan tujuan sama, sekolah jaman sekarang menghasilkan para pekerja yang siap mengabdi kepada para pemilik modal. Untuk membuka selimut pendidikan ini, Seno mempunyai beberapa solusi. Pertama, dudukkan guru di tempat yang mulia, bukan sebagai pegawai. Sebab seorang guru haruslah manusia merdeka dalam pengabdiannya mendidik generasi masa depan. Kedua, sekolah seharusnya menjadi wahana pendidikan yang memerdekakan, bukan malah menyeragamkan pikiran dan kemauan pelajar. Selain itu, sekolah tidak boleh meng-alien-asi pelajar dari lingkungannya. Dengan begitu, melalui sekolah, pelajar bisa menghasilkan karya nyata bagi kehidupan. Ketiga, memberdayakan organisasi-organisasi pelajar untuk menjadi pendobrak perubahan dalam sekolah masing-masing.

“Salah satu tujuan Aliansi Pelajar Surabaya adalah menggugah para anggotanya, bahwa merekalah sebetulnya yang memegang kendali Bangsa di masa depan.” tutur Seno.

 

  • Bekal Kita Kepada Allah

Sejak awal mula BangbangWetan (BbW) diadakan pada 10 tahun yang lalu, selain menjadi forum untuk belajar bersama, seakan sudah menjadi hal yang lumrah apabila BbW juga dijadikan ajang wadul (berkeluh kesah) bagi satu atau sekelompok orang. Mulai dari korban luapan lumpur Sidoarjo, korban penggusuran stren Kali Jagir, para pedagang Pasar Turi yang lapak-lapaknya habis terbakar, hingga para Bonek yang ingin dibantu agar Persebaya bisa berkiprah kembali ke belantika persepakbolaan Indonesia.

Begitu juga dengan penyelenggaran BbW Maret 2017 yang dihadiri oleh perwakilan pengungsi korban konflik Sampang dan perwakilan karyawan salah satu PT di wilayah Surabaya Timur. Malam itu, mereka diterima dan ditemani langsung oleh Cak Nun untuk mengeluarkan segala uneg-uneg yang ingin mereka sampaikan. Sambutan hangat kekeluargaan dari para Jannatul Maiyah (JM) membuat mereka merasa diterima sehingga tak sungkan tuk berbicara apa adanya tanpa khawatir akan adanya ancaman.

Perwakilan pengungsi korban konflik Sampang yang mendapat kesempatan pertama, sebelum menerangkan banyak hal, membuka kenangan 20 tahun yang lalu ketika Cak Nun menengahi pro kontra tentang aliran Islam tertentu dalam acara di Singosari, Malang, dengan kata-kata bahwa masalah ideologi dan agama sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara humanis dan sederhana.

Untuk selanjutnya, mereka mulai runtut menerangkan tentang awal mula mereka terusir sekitar 5 tahun yang lalu dari tanah kelahiran mereka di Sampang, preseden-preseden yang biasa kita dengar tentang ajaran aliran Islam mereka, persamaan dan perbedaan dengan aliran Islam lainnya, hingga harapan-harapan kedepannya, baik bagi mereka pada khususnya, maupun bagi Indonesia pada umumnya.

Cak Nun sendiri yang langsung berdiskusi dengan perwakilan korban konflik tersebut juga mengajak para JM untuk tidak menjadi orang fasik (lupa kepada Allah sehingga lupa kepada dirinya sendiri. Al-Hasyr) dan mari ber-tabayyun baik-baik. “Soal setuju tak setuju itu boleh anda omongkan, tapi lebih baik anda simpan dan tak perlu membenci orang yang anda tak setujui”, papar Cak Nun.

 

“Mudah-mudahan Maiyah ini sebuah percontohan bahwa kita itu bisa mengatasi masalah asalkan kita berdialog dengan jernih dengan hati yang saling cinta sebagai sesama ciptaan Allah” – Cak Nun

 

  • Berjuang Menuju Yang Terbaik

Perwakilan karyawan salah satu perusahaan di Surabaya yang mendapat giliran berikutanya, memohon doa dan dukungan dari JM sekalian. Dimana hingga saat ini 200-an karyawan PT tersebut sedang mogok kerja untuk bersolidaritas terhadap rekan kerjanya yang di-PHK sepihak oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

Upaya hukum telah mereka lakukan, termasuk turunnya anjuran dari dinas Kota Surabaya untuk wajib mempekerjakan kembali mereka yang telah di-PHK. Namun, anjuran tersebut tak juga dieksekusi oleh pihak perusahaan. Bahkan, mereka yang sedang mogok kerja tidak digaji selama mereka menjalankan aksinya.

Menurut Cak Nun, negara kita ini masih cacat, sehingga banyak rakyat Indonesia menjadi gelandangan di kampungnya sendiri. Hidup itu begitu kaya kemungkinan sehingga kita mencari yang terbaik, bukan pasti mendapatkan yang terbaik, tapi kita berjuang menuju yang terbaik. Bil hikmah wal mauidhotil hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan.

Cak Nun juga mengajak kita tuk berdoa mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepada Bangsa dan semua rakyat Indonesia. Kalau Allah memberi hidayah semua masalah beres, sedangkan kalau kita hanya mengandalkan diri kita, sangat kecil kemungkinannya untuk bisa menyelesaikan masalah. Maka sudah bagus apabila kita tidak menambah masalah. Sehingga selalu bacalah ‘wa idza faroghta fanshob wa ila robbika farghob’.

“Semoga beliau-beliau yang hadir di malam ini oleh Allah dikeluarkan dari masalahnya, dilapangkan dari sesaknya, dan diberi cahaya dari kegelapannya”, harap Cak Nun.

Sesi ini diakhiri wirid dan doa yang dipimpin langsung oleh Cak Nun untuk memohon pertolongan pada Allah. Karena kepada siapa lagi kita memohon kalau bukan kepadaNya. Allah ‘azza wa jalla.

 

  • Tafsir dan Tadabbur Al-Muzammil

Salah satu ciri-ciri manusia yang kemulan ndunyo adalah orang yang memuji diri sendiri dan golongannya. Terlebih lagi orang yang memuji golongannya dan mengolok-olok golongan yang lain. Inilah yang sering kali dilakukan oleh manusia modern, sibuk memuji diri sendiri. Efek yang terjadi adalah timbulnya suatu golongan tidak mau dikritik oleh golongan lain yang muaranya adalah pertikaian dan perpecahan antar golongan. Kyai Muzammil menjelaskan hal ini dengan menggunakan berbagai contoh golongan, mulai dari dalam Maiyah sendiri, partai, NU dan Muhammadiyah, hingga Sunni dan Syiah.

Surat Al-Muzammil adalah surat ketiga yang diturunkan Allah kepada Rasul Muhammad setelah Al-Alaq dan Al-Qalam. Muzammil berarti selimut. Surat ini sangat cocok diterapkan terhadap kondisi Indonesia saat ini.

Kyai Muzammil menafsirkan surat Al-Muzammil berdasarkan tafsirnya sendiri. Ayat pertama dari surat Al-Muzammil menyatakan bahwa, wahai orang-orang berselimut bangunlah kamu di malam hari, kecuali sedikit.

Cak Nun menambahkan bahwa ada tafsir material dan tafsir substansial. Material bisa dibaratkan jasad dan esensial bisa berarti ruh. Jasad adalah permukaan yang paling kasar dari ruh. Kalau kita mau dan bisa mengeksplorasi secara rohaniyah lapisannya beribu-ribu kali lipat jika dibandingkan kalau kita memakai pendekatan teknis material. Cak Nun mencontohkan tafsir ayat pertama dari Al-Muzammil. ‘Kumil laila’ dalam ayat kalau dimaknai lebih dalam bisa berarti lebih substansial lagi.

“Kalau kamu berada dalam kegelapan, kamu harus bangkit. Kegelapan membuatmu tidak bisa melihat, maka kamu harus memiliki penglihatan ekstra. Malam adalah ketika kamu ditenggelamkan oleh sesuatu yang tidak jelas, maka kamu harus menciptakan kejelasan dalam hidupmu. Setiap saat kita berada dalam kegelapan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sesungguhnya hidup adalah kegelapan. Kita diperjalankan Allah di dalam malam hari.”  Deretan tafsir sangat banyak yang diperuntukkan untuk manusia.

Gelak tawa memuncak diantara para JM ketika Kyai Muzammil mengungkapkan guyonan-guyonan cerdas menyetujui pernyataan dari Cak Nun. Pertanyaan kemudian diajukan Cak Nun kepada Kyai Muzammil. ‘Illa kholila’ dalam ayat pertama surat Al-Muzammil merujuk kepada malamnya atau bangunnya?

“Sebagian mufassir merujuk pada malamnya.” Tandas Kyai Muzammil. Obrolan antara Kyai Muzammil dan Cak Nun dalam membahas ayat pertama Al-Muzammil semakin hangat. Cak Nun dan Kyai Muzammil menyepakati bahwa yang sedikit di sini berarti bangunnya. Entah itu setengah bangkit, sepertiga bangkit, atau terjaga penuh. Allah tidak menuntut kesempurnaan dalam kebangkitan kita, tetapi sebisa-bisanya bangkit.

Cak Nun dan Kyai Muzammil menerjemahkan ayat-ayat Al-Muzammil secara berbeda dengan terjemahan pada umumnya. Ayat keempat diartikan bahwa “bacalah Al-Qur’an dengan detail/lembut.” Detail dan lembut sangat berjodoh. Kalau kita melihat dan merasa dengan kelembutan maka kita akan mengetahui butir-butir terjelas tentang apa yang kita lihat.

Ayat kelima menyatakan bahwa “Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berbobot.” Sesungguhnya ketika berada dalam kegelapan kita diberikan hidayah yang lebih berlipat daripada ketika tidak berada dalam kegelapan. Hal ini terbukti ketika kita mendapatkan ide atau inspirasi yang sangat berbobot ketika berada dalam kesulitan.

Ayat keenam dari surat Al-Muzammil ditafsirkan oleh Kyai Muzammil bahwa “karena sesungguhnya jiwa yang bangkit dalam kegelapan itulah jiwa yang lebih kuat pijakannya dan lebih tegak.” Kyai Muzammil menyarankan untuk men-tadabbur-i surat Al-Muzammil ke dalam diri kita sendiri.

  • Bersabarlah Terhadap Apa Yang Mereka Ucapkan

Meloncat ke ayat kesembilan yang tidak diterjemahkan dalam terjemahan konvensional. Rabbul masyriki wal maghrib. Cak Nun menjelaskan secara lebih dalam lagi. “Dia adalah pengayommu ketika memulai kebangkitan dan maupun ketika menyempurnakannya. Dia mengayomi dan menemani ketika engkau melaksanakan awal atau pagi hari dari tegaknya hidupmu maupun ketika sempurna di sore hari.”

Kenapa ummat Islam kalah? Jawabannya adalah karena kemulan ndunyo. Kemulan ndunyo bisa berarti tergantung kepada materialisme, sangat hubuddunya, sangat tidak punya harga diri kalau tidak memiliki segala sesuatu yang bersifat keduniaan atau kerendahan. Ummat Islam tidak akan kalah kalau mereka tidak berselimut kerendahan. Yang terjadi di Indonesia sekarang adalah kemulan ndunyo yang berarti materialisme. Karena kemulan ndunyo, efeknya adalah ingin kaya, dan akhirnya seluruh lapisan masyarakat membiasakan kolusi, suap, dan lain sebagainya. “kuncinya adalah jangan kemulan ndunyo.” Saran Cak Nun kepada kepada masyarakat Indonesia umumnya dan JM khususnya.

Allah menjanjikan dalam ayat kesepuluh dan sebelas surat Al-Muzammil. “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Biarlah aku yang bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu.” Demikian janji Allah dalam melindungi orang yang tidak berselimut dunia.

Ada dua pernyataan Allah yang ditekankan pada surat Al-Muzammil dan Al Mudatsir. Pernyataan Allah dalam surat ini adalah jaminan bahwa Allah sangat bertindak tanpa meminta manusia bertindak, yang penting kita bangkit, seimbang, dan tegak. Regenerasi pasti terjadi karena hidup adalah regenerasi. Kita tidak bisa melakukan regenerasi diluar sunnah Allah. Cak Nun mencontohkan bahwa Rasulullah tidak diperkenankan memiliki anak laki-laki. Regenerasi adalah otomatis, Allah yang akan menentukan rutenya.

Secara tidak langsung Cak Nun mengajak JM untuk terus berbuat baik kepada siapapun dan apapun. “Hidupku ini modal utamanya adalah rasa bersalah kepada Allah dan kepada manusia, maka saya mau Maiyahan seperti ini setiap malam. Kenapa? Karena saya membayar hutang kepada Allah yang tidak terbatas dan tidak akan terbayarkan.”

Beberapa pertanyaan yang diajukan JM langsung dijawab Cak Nun dengan keilmuan-keilmuan Maiyah. Cak Nun selalu berusaha menguatkan hati JM, menguatkan siapapun yang membutuhkan penguatan dalam kehidupannya.

 

“Hidupmu harus kaya, pikiranmu harus luwes, hatimu harus bertapa terus-menurus supaya kamu tidak diselimuti oleh keinginan-keinginan yang tidak-tidak. Kamu jangan kepincut oleh apapun saja, kepincutlah kepada hasbunallah wa nikmal wakil nikmal maula wa nikmal nashir.” – Cak Nun

 

( Tim Reportase BangbangWetan : email ke redaksi@bangbangwetan.org )