Reportase

Jika Mengaku Cinta Allah, Jangan Mau Enaknya Saja – Reportase BangbangWetan Maret 2021

Tepat setahun kami melewati pandemi. BangbangWetan pun melewatinya melalui rutinan virtual tanpa bertemu secara fisik. Pada Minggu, 21 Maret 2021, bertempat di sekolah MTS Tarbiatus Syarifah, Sukodono, BangbangWetan edisi Maret 2021 dilangsungkan dengan mengambil tema “Merawat Musim, Menjaga Iklim”.

Mengusung format baru secara virtual yang diikuti beberapa jamaah melalui Zoom, BangbangWetan dibuka dengan nderes Surah Al-Fath tepat pukul 20.00 wib dan disambung dengan salawat kepada kanjeng Nabi Muhammad Saw. Tujuh puluh tujuh orang jamaah terlihat bergabung via virtual dengan berbagai macam kegiatan yang juga sedang dikerjakan. Terlihat salah satu jamaah dengan menjaga odong-odongnya ikut serta Maiyahan secara virtual. Rasa rindu yang amat besar membuat jamaah rela menyempatkan waktu di sela-sela aktivitasnya.

Mas Wahyu, salah satu jamaah yang sedang menempuh pendidikan di Australia ikut berbagi pengalaman tentang musim dalam arti yang sebenarnya di Australia. Beliau juga menceritakan bahwa selama pandemi ini warga Australia yang tinggal di rumah tetap dijamin kehidupannya oleh pemerintah dengan bantuan gaji yang tetap dan jika setiap warganya tidak mematuhi peraturan untuk tidak berkumpul atau berkerumun, masing-masing akan dikenakan denda sekitar 50 ribu dolar setiap orangnya. Akan tetapi perkumpulan mahasiswa Indonesia yang berada di sana rela melakukan salat Jum’at di sebuah garasi yang ditutup dengan beberapa mobil agar mereka tetap bisa berkumpul.

Malam ini turut serta beberapa narasumber yakni Pak Ari Blothong KiaiKanjeng, Mas Patub Letto, Mas Beben Jazz, dan Pak Suko yang juga ikut serta membersamai BangbangWetan edisi Maret ini.

Suasana BangbangWetan Maret 2021

Pak Ari Blothong KiaiKanjeng

Beliau membuka dengan berbagi pengalaman bahwa selama ini kita harus mencari cela dan mencari apa yang bisa kita kerjakan. Satu sampai tiga bulan pertama mungkin merasa lari di tempat, akan tetapi bapak-bapak KiaiKanjeng memulai hal baru guna menjaga aktivitas dan kegiatan bermusik mereka dengan melakukan rutinan keroncong setiap Jum’at malam dan latihan setiap Selasa malam. Pak Ari Blothong juga masih menjaga mood bermusik beliau dengan tetap membuat musik dan membuat sesuatu yang menghibur. Salah satunya beliau membuat konten-konten di platform Youtube dengan mengandeng siswa-siswa SMA dan mahasiswa beliau. Tugas yang paling pasti dikerjakan beliau saat pandemi ini adalah menjadi bapak rumah tangga, sekaligus guru dari siswa kelas satu SD. Di dalam pembicaraannya, Pak Ari menjelaskan bahwa waktu sehari 24 jam dirasakan kurang untuk beliau, karena banyak hal yang harus dilakukan. Misalkan membimbing kuliah virtual, tutor les biola, sampai pekerjaan wajib yang dilakukan yakni utek-utek segala macam keyboard untuk menciptakan sebuah karya.

Pak Ari mengingatkan kami, jamaah yang turut rutinan malam ini, bahwa ada atau tidaknya harus kita syukuri dengan apa yang kita kerjakan. Beliau juga memberi kami pandangan bahwa kita harus mempunyai tiga pekerjaan yang saling berkaitan dan satu sama lainnya bisa menjadi obat.

Sebagai salah satu dosen di Institut Seni Indonesia, tidak afdal rasanya jika beliau tidak berbagi tentang hal musik kepada kami. Sebagai akademisi sekaligus musisi, beliau merasa bahwa teori-teori yang ada di dunia pendidikan musik terkadang merasa agak jauh dengan apa yang dimiliki beliau. Misalkan bahwa gamelan itu tidak bisa dimainkan secara mandiri, harus secara orkestra. Gamelan pun dibuat dengan nilai rasa, ritual, dan lelakon agar bisa memberkahi jika dimainkan. Beliau juga mempelajari berbagai musik, mulai dari musik Barat, Arab, Jazz, hingga musik Dangdut. Sebagai violis Kiai Kanjeng, beliau menjelaskan bahwa bermain biola harus mempunyai rasa ikhlas. Sehingga musik yang dihasilkan bisa tersampaikan kepada pendengarnya.

Mas Patub Letto

Guna menjaga iklim yang sudah beliau kerjakan, Mas Patub berbagi cerita kepada kami bahwa beliau sedang mengagas format baru dalam bermusik selama pandemi ini. Akan tetapi beliau juga merasakan bahwa saat pandemi ini percepatan teknologi semakin cepat dan pesat. Gitaris Letto ini juga mengingatkan kita untuk melakukan apa yang ada di depan kita. Mas Patub juga menegaskan bahwa saat ini bekerja tidak bisa dibuat untuk menjadi kaya. Hanya bisa untuk bertahan hidup dan makan.

Di sela-sela Mas Patub bercerita, Mas Amin sebagai moderator malam itu juga berbagi pengalamannya tentang pandemi di sebuah kota yang masyarakat di sana jika melihat kita yang memakai masker malah dianggap orang aneh. Karena di sana tidak terbiasa dengan pemakaian masker. Mas Patub menyampaikan bahwa orang Maiyah harus siap dianggap aneh, harus siap diasingkan dari lingkungan sekitar. Guna menjaga iklim apa yang beliau lakukan saat ini, Mas Patub menegaskan harus menemukan keasyikan, kenyamanan, dan kefokusan di musiknya.

Mas Beben Jazz

Mas Beben yang ikut serta membersamai Maiyahan virtual malam itu bercerita kepada kami bahwa kita sedang mengalami ujian. Baik ujian ekonomi, mental, serta spiritual. Kekuatan terbesar dan modulasi awal yang kita kerjakan adalah neriman, antusias, bersyukur, dan kreatif. Beliau juga menyampaikan kepada kami bahwa pandemi saat ini bisa dianggap musibah, bisa juga dianggap bahwa ini adalah ujian kekuatan kepada generasi. Generasi yang ditempa musibah atau ujian tetapi tetap bisa bertahan. Karena jangan mengaku cinta kepada Allah, tetapi hanya mau enaknya saja. Kita harus bertahan karena Allah tidak tidur, Allah selalu melihat proses kita.

Setahun terakhir ini beliau masih tetap aktif mengajar dengan berbagai inovasi. Berawal dari live Instagram dan Zoom gratis, sampai saat ini Mas Beben masih mengajar musik secara daring. Karena hidup harus terus bergerak dan masa hidup beliau hingga saat ini adalah masa menemukan diri. Berawal dari seorang atlet bulu tangkis, sekolah IT, menjadi teknisi IT, hingga ki tujuh belas tahun lamanya bermain musik. Beliau merasa kita harus mempunyai kebebasan waktu, bisa bermanfaat buat orang lain dan juga khalifah untuk diri sendiri.

Kami pun diajak untuk mengenang masa-masa beliau mengenal dirinya dengan cerita malam ini. Bahwa beliau pertama kali membaca buku dari Mbah Nun “Tuhan pun Berpuasa”, dari situlah beliau mencari amanah utama yang diberikan Allah kepadanya. Dengan membaca tanda-tanda yang diberikan Allah, beliau menemukan dirinya di dalam musik Jazz. Beliau menyebut apa yang sedang dilakukannya adalah “Bertamasya bersama Allah”. Karena dengan bekal Sarjana Pendidikan Agama Islam dan Magister Ilmu Tasawuf, beliau saat ini menekuni dunia pendidikan bermusik dengan tetap bermain musik Jazz.

Sesi Tanya Jawab:

  1. Sebenarnya Covid itu ada atau tidak?

Mas Patub menjelaskan, saat ini kita harus sudah move on dari hal tersebut. Karena yang dipikirkan bukan ada atau tidaknya, lebih ke bagaimana kita bertahan, bagaimana kita menyikapi hal tersebut.

  • Bagaimana pengalaman ketiganya bahwa musik sebagai sarana mengenal Tuhan?

Pak Ari menjawab pertanyaan tersebut dengan bermusiklah secara ikhlas. Bahwa sesungguhnya musik Gregorian atau musik gereja sendiri adalah sarana mendekatkan kita kepada Tuhan. Akan tetapi saat ini kita masih fokus bahwa musik itu haram. Karena musik sendiri jika mempunyai getaran, frekuensi gelombang delta biasanya nada-nadanya bersifat spiritual yang sayup-sayup. Dengan nada delta pula lebih bisa menembus kepada otak bawah sadar manusia dan juga jika musik diulang-ulang akan menimbulkan gelombang yang besar.

Mas Patub menjelaskan bahwa di musik beliau menemukan keasyikan, kenyamanan, dan kefokusan yang lebih bagaimana mengenal Tuhannya.

Mas Beben membuka dengan pernyataan bahwa di zaman Yunani Kuno yang boleh bermain musik hanyalah orang-orang suci. Mereka juga menganggap bahwa musik itu datangnya dari surga. Tujuan utama beliau bermusik sendiri juga sebagai sarana menghubungkan diri dengan Tuhannya.

Pada pukul 23.48, empat puluh sembilan orang masih bertahan dan terhubung secara virtual. Dipenghujung rutinan BangbangWetan edisi Maret ini, Pak Ari Blothong mengobati kangen kami bermaiyah dengan mempersembahkan salawat Maulan Siwallah dan ditutup dengan doa.

Tim Reportase BangbangWetan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *