Oleh: S. Haryani C.

 

Musik adalah kebutuhan yang mutlak dalam kehidupan. Setiap kita saat berbicara pasti akan membuat nada, intonasi, dan irama yang khas agar mudah diingat oleh lawan bicara kita. Seandainya saja kita berbicara tanpa menggunakan nada, intonasi, dan irama pasti sangat membosankan untuk didengar. Kehidupan ini bernyanyi dengan caranya masing-masing. Burung yang berterbangan dan berkicau itu bernyanyi, air terjun yang mengalir deras itu bernyanyi, atau gitar, seruling, dan bass yang sahut-menyahut pun bisa dikatakan bernyanyi.

Nah, saat ada yang bernyanyi, pasti ada yang ber-joged ria. Ketika alam Semesta bernyanyi, kehidupan yang sedang berlangsunglah yang tengah ber-joged ria. Kita sebagai manusia, khalifah di muka bumi ini, harus ber-joged sesuai irama Semesta yang dikehendaki Sang Pencipta. Joged pun banyak macamnya, bisa belajar, bekerja, memasak, melakukan perjalanan, dan lain sebagainya.

Dalam setiap pembelajaran (sinau) pasti dibutuhkan nyanyian untuk mem-booster  ilmu yang ingin disampaikan. Ilmu yang disampaikan pun takperlu muluk-muluk dan banyak. Yang terpenting, ilmu yang disampaikan dapat dihayati dan diamalkan oleh para pembelajarnya. Hal ini sejalan dengan metode sinau yang diterapkan oleh Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam setiap sesi sinau bareng.

Saat otak diminta untuk berkonsentrasi tentang ilmu-ilmu yang bernuansa logic, yang bekerja adalah otak kiri. Kita melupakan otak kanan yang saat itu juga perlu asupan nutrisi. Tak heran jika kita pernah ada pada momen-momen “bengong” atau “melamun” ketika ingin berkonsentrasi tinggi terhadap apa-apa yang ada di hadapan. Ini bisa saja terjadi karena otak kanan yang dibiarkan nganggur. Padahal otak kanan tetap ada dan turut berperan, meskipun otak kiri yang dominan diajak bekerja.

Nah, sinau bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng ini mampu memberi asupan nutrisi otak kiri dan otak kanan yang pas. Saat Cak Nun mengajak berpikir jamaahnya dan menemukan momen spaneng, Cak Nun pasti membelokkan arah pembicaraan pada guyonan yang khas. Selanjutnya, pasti akan menawarkan musik KiaiKanjeng kepada jamaah Maiyah. Indah sekali, bukan? Dan KiaiKanjeng siap sedia mengabulkan setiap permintaan jamaah Maiyah. Tak perlu khawatir. Julukan World Music sudah melekat erat pada KiaiKanjeng. Maklum, semua jenis musik dunia mampu dimainkan oleh KiaiKanjeng. Jazz, Blues, Klassik, Jawa, Fussion, Funk, Rock, Metal, Rap, Timur Tengah sampai Latin, semua bisa!

Gamelan Kiai Kanjeng yang sekilas perwajahannya mirip gamelan Jawa jika ditelisik ternyata berbeda. Gamelan KiaiKanjeng umumnya berbahan besi berwarna hitam pekat, sedangkan pada gamelan Jawa berbahan kuningan berwarna kuning keemasan. Pada konsep nada pun gamelan KiaiKanjeng mengalami penyesuaian susunan nada Barat, tradisional, dan Arab, yakni sel-la-si-do-re-mi-fa-sol. Para pegiat gamelan Jawa pasti paham betul tentang gamelan Jawa yang berkonsep nada Slendro dan Pelog. Mereka tidak akan menemukannya di permainan musik gamelan KiaiKanjeng.

Kehadiran KiaiKanjeng di tengah-tengah hausnya jamaah Maiyah yang ngasoh ngelmu kepada para Marja’ dan saudara-saudaranya mampu melegakan. Pasalnya orang yang tengah haus dan menerima pemberian air segar pasti menyejukkan tenggorokan dan menenangkan jiwa. Sense of Ngeng milik KiaiKanjeng inilah yang memberi kesegaran dunia permusikan. Kejujurannya untuk menyajikan musik berdasarkan naluriah bermusik setiap personilnya mampu melegakan haus yang melanda di era digital kini.

Kesejukan air yang disodorkan KiaiKanjeng bukanlah kesejukan fatamorgana yang ada di padang pasir. Bukan! Jika didengar dengan hati, pasti musik KiaiKanjeng bersahabat dengan berbagai kalangan, bahkan kalangan milenial. Semua bisa disatukan, lambang penyatuan. Hal ini bisa saja terjadi sebab gamelan KiaiKanjeng sudah mengalami modifikasi yang disesuaikan dengan permintaan zaman. Gamelan KiaiKanjeng sudah mengalami proses sorogan, yakni penggantian beberapa bilah saron atau demung dan pencong bonang untuk pengadaptasian jenis nada dasar musik yang akan dimainkan. Takheran kan, jika tua, remaja, dan muda bisa disatukan dengan model musik KiaiKanjeng. Asyik!

Takada yang bisa lepas dari musik di dalam kehidupan yang harus terus ber-joged ria ini. Selamat berjoged! Pilihlah musik yang seirama dengan joged-an di kehidupanmu. Semoga Gamelan KiaiKanjeng senantiasa setia menemani per-joged-an kita! Aamiin….

 

S. Haryani C. Pegiat BangbangWetan Surabaya. Gadis kelahiran Sidoarjo ini lulusan Unesa. Bisa berkomunikasi di 33syakieb@gmail.com atau IG @syakiebharyani