Kolom Jamaah

KECELAKAAN SEJARAH

Oleh: Sunartip Fadlan

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu’alaikum Wr Wb

Perbedaan pendapat yang berujung perselisihan,  pertengkaran hingga peperangan yang terjadi di kekhalifahan Kanjeng Utsman bin ‘Afwan hingga menyebabkan beliau ditikam saat shalat hingga menjadi asbab syahidnya beliau.

Lalu berimbas kepada perselisihan antara Bunda ‘Aisyah ra dengan Sayyidina Ali karramallahu wajahah menyebabkan peperangan Jamal yang berakhir indah dengan saling memaafkan dan memahami.

Lalu berimbas juga kepada terjadinya perselisihan shabat Mu’awiyah yang didukung sahabat ‘Amr bin ‘Ash dengan  85.000 pasukan berhadapan dengan Ali yang didukung Abu Musa al-‘Asyari dengan 95.000 pasukan. Mereka benar-benar menahan diri agar peperangan Siffin tidak terjadi, semua pasukan tercabik cabik hatinya menyaksikan saudara mereka kini di garis depan seberang sana sebagai lawan.

Jelas dalam ingatan mereka bagaimana Rasulullah Muhammad saw menyebarkan Islam, sabar dan tangguh hadapi semua cercaan dan hinaan bahkan fitnah. Hingga teladan Luar biasa mereka hadapi serangan dalam pertempuran, kekejian, embargo ekonomi sepihak dan berbagai penderitaan yang tak terperikan.

Jelas tertambat kuat di ingatan bagaimana Rasulullah tanamkan persaudaraan, persatuan, saling menghormati, menjaga kemuliaan dan kehormatan antar sesama muslim, bahkan dengan mereka yang masih beragama Nasrani dan Yahudi. Demi mengulur waktu dan menghindari peperangan maka mereka membuat berbagai perjanjian peperangan yang cerminkan jiwa kesatria:

*satu* dilarang membunuh tentara yang terluka.

*dua* dilarang mengejar tentara yang melarikan diri.

*tiga* dilarang menyakiti tentara yang menyerah.

*empat* dilarang menjarah harta benda.

*lima* semua jenazah dishalatkan dan didoakan bersama-sama.

*enam* semua kita adalah saudara.

Namun! Peperangan tetap terjadi dan berkecamuk, gugurlah 45 ribu pasukan di pihak Mu’awiyah dan 35ribu dari pihak Ali.

Setiap sore, kedua kubu, mereka bersama mengumpulkan korban, menyalati bersama dan mendoakan mereka semua, mereka kuburkan dalam satu liang, saling berpelukan. Kemudia tentara Kedua belah kubu  shalat berjamaah bersama dalam satu shaf.

Hingga peperangan dihentikan, mereka saling  memaafkan dan saling berpelukan. Tanpa pemenang tanpa pecundang.

Saudaraku!

Semua itu adalah kecelakaan sejarah bagi umat islam bahkan bagi sejarah manusia di perjalanan dunia ini. Ingat, kecelakaan!

Bila ada orang yang menginginkan bahkan dengan sengaja menghendaki kecelakaan itu terulang kembali, agar kita saling berselisih,  bertikai, hingga akhirnya saling membunuh, maka jelas, mereka bukan hanya bodoh tapi juga gila.

Untuk apa kita terlalu sibuk melebarkan perbedaan yang pasti ada? Bukankah itu keniscayaan yang pasti ada dan terjadi sepanjang sejarah? Semestinya energi kita lebih kita manfaatkan mencari dan menjemput berbagai persamaan untuk membangun persatuan, kekuatan dan perdamaian!

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Penulis adalah jama’ah Padhang mBulan dan pengasuh pondok pesantren mahasiswa Al Mutawakkil, Ponorogo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *