Oleh: Rio NS

 

Sejak perdagangan ala barter diganti perniagaan dengan uang sebagai alat tukar, kedudukan uang menjadi semacam “tuhan” bagi kehidupan banyak orang. Dalam bentuk kartal maupun giral, ialah materi paling diminati, diupayakan, dicari, diperjuangkan dan kepemilikan berlimpah atasnya menjadi salah satu puncak impian tertinggi bagi kehidupan duniawi.

Lalu dimana harta, tahta, dan wanita berada ? Mereka bertiga adalah puncak berikutnya yang bisa didaki hanya bila kita telah kantongi “brevet” kemampuan menginjakkan kaki di puncak uang. Beda ketinggiannya tidak cukup bermakna sehingga ketika puncak uang telah mampu kita taklukan, altitude tersisa selayaknya jalan lurus dimana kaki bebas melenggang.

Membicarakan tentang uang adalah membahas ironi demi ironi yang secara sukarela kita jalani. Salah satunya, saya percaya banyak dari kita telah mendengar atau bahkan tengah dan telah menitinya, adalah seperti ini: kita sekolah atau disekolahkan menggunakan banyak uang untuk berhasil lulus. Setelah lulus, kita berjuang untuk bisa mendapatkan pekerjaan layak yang menjanjikan remunerasi berlimpah sebagai imbalannya. Kalau itu sudah kita dapatkan, menikah dan beranak pinak adalah fase hidup selanjutnya. Anak, isteri atau suami membutuhkan sejumlah biaya tertentu sehingga tenaga dan waktu kita habiskan demi tercukupinya kebutuhan.

Proses terus berjalan hingga menua tak mampu kita elakkan. Di saat stamina tak lagi prima sementara otak pun kian payah diajak berselancar di dunia nyata, muncul kesadaran betapa uang yang dulu kita bayangkan bisa kita dapatkan dengan sekolah dan bekerja tidak benar-benar sukses kita kumpulkan. Hal mana diperparah dengan alokasi yang tidak sedikit untuk memperoleh kembali posisi sehat–jiwa dan raga–seperti di masa muda.

Singkatnya, di sepanjang kisah hidup manusia, uang tak pernah benar-benar dimilikinya. Ada semacam rasa haus yang tak usai seberapapun banyak ia telah masuk ke saluran cerna kepemilikan materi. Akibat yang nampak adalah bagaimana mereka yang sudah berpenghasilan masih harus berjibaku dalam liga perebutan piala “passive income“. Di sisi lain, banyak kita saksikan lintas profesi dan keahlian mesti dijalankan oleh mereka yang sedang berasyik-masyuk dalam program “side job“.

Sebagian kalangan lain agresif mengikuti seminar, membaca buku dan mendengarkan paket audio dalam kerangka besar “Upgrading Our Financial Quotient”. Dari kelompok berikutnya terlihat betapa untuk mencukupi dahaga tiada akhir itu mereka lakukan langkah-langkah rasuah dan manipulatif. Tindakan ini nyaris dianggap wajar dan lumrah karena meski tergolong “oknum” namun dari segi kuantitas kategorinya sudah “berjama’ah”.

Ironi-ironi terkait upaya pendakian puncak uang yang saya paparkan di atas oleh brain ware tertentu diolah untuk kemudian dijadikan ladang mendulang keuntungan. Dalih atau jargonnya bisa sangat mulia. Ambil contoh: “tumbuh dan berkembang bersama”, “kita adalah dan hanya untuk kita”. Entitasnya bisa bernama Multi Level Marketing, bisnis rumahan yang SOHO (small office home office) atau jaringan budidaya komoditas tertentu yang sangat rentan selera, trend dan perilaku pasar.

Semua dilakukan sebagai upaya SAE: Sinau Andadani Ekonomi (bahasa Jawa: belajar memperbaiki perekonomian). Tak mengapa dan sah-sah saja sepanjang marka halal-haram tak sampai terlanggar karenanya.

Dari itu semua, ada satu methode yang tidak memerlukan extra effort atau tambahan waktu dan sisa-sisa tenaga. Lembaga penjaminnya adalah prima kausa Yang Maha Kuasa. Yups, Allah Swt menjadi penjamin tunggal yang tak terbantahkan.

Kalau mau berhitung, berapa banyak lipatan keuntungan yang akan kita dapatkan, jawabnya adalah 700 percabangan. Selanjutnya, apa bentuk deviden atau laba yang bisa kita petik? Kemaslahatan dunia-akhirat yang tak terhitung serta tentulah abadi-abadan.

 

Gerai Sanabila

 

Mau tahu lebih jauh dan tertarik untuk memulai ? Tak diperlukan starter kit, modal awal dan pembelian produk agar menjadi internal user. Sederhana, murah, mudah dan sangat-sangat friendly. Langkah itu berbentuk menyalurkan infaq dan shodaqoh atau menunaikan kewajiban zakat melalui SANABILA.

Dimana bisa kita temui ? Di gerai SANABILA yang sungguh eye catching pada rutinan Padhang mBulan, BangbangWetan atau sesekali Sinau Bareng dan Buletin Maiyah Jatim yang selalu menyertai. Kiranya langkah pertama anda untuk meningkatkan kecerdasan finansial melaui SANABILA bisa dimulai di sini dan saat ini.

 

—000ooo000—

 

Sekilas tentang penulis : Karena miilleu di sekitarnya lebih banyak millenials, Penulis terbawa rasa untuk selalu muda. Walau rambut perak di kepala kian membuncah, sebanyak ide yang belum tuntas dituangkannya.
Komunukasi bisa dijalin melalui FB N. Prio Sanyoto