Keep On Istiqomah

Tetap dengan nuansa kemesraan dan semangat usai terselenggaranya BangbangWetan, para sukarelawan berkumpul kembali dalam FJR (Forum Jumat Rono-rene) pada Jumat, 26 Juli 2019–tepat seminggu setelah kita kupas “Urip Malaikatan”.
Masih di selasar perpustakaan Balai Pemuda Surabaya dan dalam semangat bertatap muka, pertemuan diawali dengan mengevaluasi pelaksananan forum serta persiapan teknis BangbangWetan bulan depan.


Ada krentek ati dari teman-teman untuk mengadakan workshop moderator. Diharapkan dengan terselenggaranya acara tersebut, pegiat bisa lebih tepat dalam mengelola lalu lintas panggung dan tidak perlu risau dengan masalah “cast & recruit” moderator.
Sambil ngletik kacang tanah, buah tangan Kumendan Dudung, obrolan serius terasa santai. Mas Ahid menyampaikan bahwa Mbah Nun sangat senang atas kehadiran Pak Manachem Ali dan berharap filolog Unair itu dapat hadir kembali. Terkait venue, teman-teman mulai memikirkan satu tempat yang permanen dan dilakukan check & recheck sebelum hari-H. Terkait penyaji seni, perlu dilakukan komunikasi lebih intens berkenaan dengan genre musik, daftar lagu, dan durasi penyajian.
Suasana malam di kompleks Balai Pemuda terasa hangat. Sinambi klesetan, teman-teman yang datang menunjukkan rona gembira. Walau wajah-wajah letih tergambar karena ada yang mesti menempuh perjalanan dan menyelesaikan pekerjaan, satu-dua di antara mereka mengeluh kurangnya kesehatan badan, tetapi semangat untuk hadir memancar kuat bagi satu pertemuan.
Sempat pula dibahas dengan ringan topik yang lagi hangat terkait siapa calon terbaik yang akan memimpin Surabaya ke depan. Pembicaraan dipadatkan ke arah pijakan apa yang menjadi tema BangbangWetan bulan depan. Misalnya di dalam suasana Idulqurban, mengutip analogi Cah Angon, bahwa pemimpin akan terbukti berhasil tidaknya menjadi pemimpin jika sudah berhasil angon kambing. Acara malam itu diakhiri tepat jam 00.00 dengan simpanan semangat untuk bertemu di FJR selanjutnya. [AU/SDE/Red.]