Kehidupan Yogya dan Amanah Sang Ayah (1 dari 3)

 

Guratan ini adalah hasil wawancaran bersama Cak Mif, seorang pejuang pendidikan di Jombang, lebih tepatnya di Desa Mentoro, Sumobito, Jombang. Tulisan ini pernah dimuat tahun lal di BMJ sebagai nukleus edisi Mei 2018 dengan judul Pengorbanan dan Keikhlasan “Sang Werkudara” bertepatan dengan bulan kelahiran Beliau. Rasanya relevan untuk naik kembali kepada khalayak lewat media maya saat ini.

Sosok pendiam yang oleh kebanyakan JM biasa disapa Cak Mif ini bernama lengkap Miftachussurur. Lahir di sebuah desa nan tenang bernama Mentoro, pada 28 Mei 1951. Miftachussurur merupakan nama pemberian sang kakek, Mbah Abdul Latif (alm.) yang menurut penuturannya juga merupakan sosok yang memberi nama kepada seluruh putra-putri Ayah Muhammad dan Ibu Chalimah.

Ketika reporter BMJ menemui Cak Mif di kediamannya, Jl. Gubernur Suryo IV Blok C-8, Jombang, tampak ketenangan dan keteduhan terpancar ketika beliau menceritakan banyak hal mulai dari pengalaman hidup di Yogyakarta hingga akhirnya menjalani kesunyian mulia sebagai sebagai seorang guru di desa kelahiran.

 

Suatu Masa di Yogyakarta

Cak Mif mulai hijrah ke Yogyakarta menyusul sang kakak (Cak Fuad) setamat SMP pada tahun 1966. Tujuan utamanya adalah untuk melanjutkan studi di kota pendidikan itu. Saat itu Yogyakarta menjadi primadona karena biaya sekolah yang tergolong murah apabila dibandingkan kota lain.

Sempat ikut tes dan dinyatakan diterima di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Cak Mif memutuskan tidak mengambil kesempatan tersebut karena tidak sanggup membayar uang gedung sebesar 1000 rupiah. Nominal yang tergolong cukup besar di era itu. Kemudian beliau mendaftar di satu-satunya SMA negeri di Jombang pada saat itu, namun kembali tidak diambil dengan alasan yang sama. Akhirnya Cak Mif bersekolah di SMA Teladan Yogyakarta (kini SMA Negeri 1 Yogyakarta) yang saat itu uang gedungnya hanya 100 rupiah.

Selama setahun pertama di kota gudeg, bersama sang kakak yang saat itu sedang berkuliah di IAIN Yogyakarta (kini Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga) dan tiga kerabat lain, Cak Mif indekos di dekat masjid Suronatan, Ngampilan, Yogyakarta. Sebelum akhirnya pindah ke sebuah gandok yang dikontrakkan di daerah Kadipaten Lor nomor 17, Kraton, Yogyakarta. Di gandok itulah Cak Mif mengaku mulai belajar hidup.

Dipelopori oleh Cak Fuad yang menerima jasa pengetikan, masa SMA Cak Mif dihabiskan dengan membantu usaha tersebut yang hasilnya digunakan untuk membiayai sekolah sekaligus menyambung hidup. “Pagi sekolah, sore kerja sampai malam”, tutur Cak Mif.

Sebuah mesin ketik milik Ayah Muhammad yang diboyong ke Yogyakarta oleh Cak Fuad menjadi bekal usaha  yang awalnya hanyalah jasa pengetikan skripsi, laporan, dsb. Secara bergantian Cak Fuad dan Cak Mif ibaratnya menjadi juru ketik bagi mereka yang membutuhkan jasa. Dari situlah Cak Mif mulai mengenal dunia tulis-menulis dan percetakan.

Lambat laun usaha tersebut semakin berkembang hingga mampu mencicil sebuah mesin stensil. Semenjak ada mesin itu, dari yang awalnya hanya jasa pengetikan menjadi usaha percetakan majalah, buku, dsb. Pelanggan rata-rata merupakan mahasiswa yang mencetak majalah kampus, baik itu dalam cakupan jurusan, fakultas, sampai ormawa. Tak jarang pula apabila bahan tulisan kurang, maka selain mencetak, mereka juga bertugas mengisi majalah tersebut apa saja agar tidak ada halaman yang kosong.

Menurut Cak Mif, yang biasa mengisi kekosongan bahan tersebut dengan tulisan, kata mutiara, anekdot, dll adalah Cak Fuad dan Cak Nun.

Sekadar informasi bahwa Cak Nun sendiri mulai ikut ngontrak di Yogyakarta bersama Cak Fuad dan Cak Mif sekitar tahun 1968. Saat itu Cak Nun masih kelas 3 SMP. Beberapa tahun kemudian, tepatnya sekitar tahun 1971, Cak Nas dan Cak Dil juga turut menyusul ketiga kakaknya ke Jogjakarta. Lengkaplah Pandawa tinggal dan menjalankan usaha bersama di daerah Kadipaten.

Usaha stensilan di gandok tersebut terus berjalan hingga Cak Mif lulus SMA dan melanjutkan studi di Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

 

Amanah Sang Ayah

Pada 17 Agustus 1973, Cak Mif menyempatkan pulang ke Mentoro setelah mengantarkan pesanan buku ke sebuah pondok pesantren di daerah Rejoso, Jombang. Namun ketika pamit untuk kembali ke Yogyakarta, sang ayah berpesan untuk menunda keberangkatan. “Ojo mulih sek! Besok ayah lungo entenono nek teko”, begitu kalimat ayah yang dituturkan kembali oleh Cak Mif.

Ternyata, itulah iradatullah, karena pada 19 Agustus 1973, Ayah wafat setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di daerah Gedangan, Sidoarjo.

Cak Mif yang kemudian diperintahkan Ibu untuk menyusul ke RSUD Sidoarjo karena berbagai kendala komunikasi dan transportasi saat itu akhirnya justru tlisipan dengan jenazah ayahanda yang dipulangkan ke Sumobito, rumah asal Ayah Muhammad. Karena hal itulah, Cak Mif, dan kakak adik yang tinggal di Yogyakarta tidak sempat menyaksikan proses pemakaman ayahanda.

Ayah Muhammad wafat dengan meninggalkan warisan yang lebih dari sekadar harta keduniawian. Warisan jariah tersebut berwujud sekolah TK dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Dengan berbagai pertimbangan, Cak Mif memutuskan cuti kuliah sementara dan tinggal di kampung halaman untuk melanjutkan perjuangan ayahanda dalam mengelola sekolah.

Dalam tahun awal mengelola, Cak Mif menemukan suatu kasus di mana sangat jarang anak didik lulusan MI yang melanjutkan ke jenjang SMP sederajat dengan alasan jauhnya jarak. Berangkat dari kasus tersebut Cak Mif memutuskan mendirikan sebuah SMP di Mentoro agar tidak ada lagi anak yang putus sekolah karena kendala jarak sekolah yang jauh.

Dengan berdirinya sebuah SMP, bertambah pulalah hal yang harus dikelola oleh Cak Mif. Sehingga dari yang awalnya hanya berencana cuti kuliah, menjadi harus meninggalkan bangku kuliah Farmasi UGM yang telah dijalaninya selama 3 tahun.

Apakah tidak eman-eman? Pertanyaan yang sampai saat ini masih sering ditanyakan kepada Cak Mif terkait keputusan tersebut. “Saya dididik agar tidak hanya mementingkan diri sendiri, tapi juga masyarakat”, begitu jawab Cak Mif terkait pertanyaan di atas. “Karena kalau meneruskan kuliah di farmasi, lulus paling jadi apoteker atau bekerja di lembaga penelitian”, tambah Cak Mif.

Bagi Cak Mif, seorang guru memiliki peran yang jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat karena bisa terjun langsung dalam mendidik mereka. Asas manfaat itulah yang membuat Cak Mif ikhlas dan tidak merasa eman melepas kuliah yang sebenarnya tinggal sedikit lagi.

(RR/SDE/MNT/Red.)