Kekuatan Yang Mendasari Kekuatan

Ditulis Oleh: Sabrang Mowo Damar Panuluh

Sabrang Mowo Damar PanuluhSembilan tahun yang lalu, ketika masih merantau di negeri orang, ada momentum di mana saya menggelandang beberapa bulan, tak punya tempat tinggal dan tak begitu punya uang, sehingga sempat menjadikan sebuah masjid terbesar di kota itu sebagai tempat tinggal. Tempat di mana saya mendapatkan sebuah jawaban menarik dari sebuah pertanyaan sederhana.

Pertanyaan itu adalah, “kenapa saya merasa bahwa umat Islam terasa lebih solid di negara non-Islam daripada negara yang mayoritas beragama Islam?” Jawaban dari Syeikh di mesjid tersebut, ”di mana pun, minoritas punya kecenderungan untuk berkumpul bersama demi membangun sebuah kekuatan. Dengan syarat di antara mereka harus mampu melupakan/menghargai perbedaan-perbedaan kecil di antara mereka.”

Ini bukan tentang Islam. Ini kecenderungan psikologi manusia di mana yang merasa minoritas biasanya akan bereaksi dengan berkumpul bersama, berorganisasi, bikin gank atau apalah, demi mendapatkan sebuah kekuatan dari jumlah yang besar.

Kalau mau jujur, sepertinya jamaah Maiyah juga bisa dikatakan semacam ‘kumpulan’ orang-orang. Saya pribadi belum berani mengambil kesimpulan apakah anggotanya adalah kumpulan orang-orang minoritas atau bukan. Yang pasti kita bisa mencari sebenarnya jenis ‘kekuatan‘ yang mana yang dicari oleh Jamaah Maiyah ini. Politik, ekonomi, sosial-budaya?

Kekuatan politik. Untuk menjadi sebuah kekuatan politik, sekumpulan orang seharusnya (harus ala Indonesia) membentuk sebuah partai politik. Ada anggotanya, ada organisasinya, ada pengurusnya dan tak lupa ada lambangnya untuk dicoblos. Oh, maksud saya dicontreng. Tapi sepengamatan saya Jamaah Maiyah belum pernah bergerak ke arah itu. Berarti mungkin bukan kekuatan politik yang dicari.

Kekuatan ekonomi. Untuk menjadi kekuatan ekonomi, sekumpulan orang biasanya membuat sebuah perusahaan, atau minimal perjanjian di antara mereka. Yang efeknya adalah, mereka yang ada dalam perjanjian tersebut merupakan satu entitas di mata dunia ekonomi. Contohnya begini, saham perusahaan bisa berfluktuasi sesuai keadaan pasar global. Akan tetapi gaji pekerja dalam perusahaan tidak fluktuatif seperti sahamnya. Jadi perkumpulan yang bertujuan sebagai kekuatan ekonomi, paling tidak memiliki komitmen di antara satu anggota dengan anggota yang lain untuk bersama-sama sebagai satu kesatuan yang utuh dalam menghadapi pasar luas. Lagi-lagi saya pribadi tidak melihat ini di Jamaah Maiyah.

Kekuatan sosial budaya. Kemampuan untuk mempengaruhi atau menahan sebentuk kondisi. Mungkin di Jamaah Maiyah kita bisa mengatakan ‘ada’ tentang pembentukan kekuatan ini, walaupun untuk mendapatkan ukuran secara pasti dan kuantitatif akan sangat tidak mudah.

Ketika terlibat di lingkungan ini, dari tindak-tanduk, kebiasaan, dan mekanisme, saya melihat sebuah potensi yang berbeda. Jamaah Maiyah tidak membentuk sebuah padatan yang diterjemahkan menjadi kekuatan. Jamaah Maiyah sepertinya berusaha mencari dan menemukan bahan mentah (cair) yang bisa membentuk padatan-padatan tersebut.

Semoga tidak terlalu muluk-muluk jika saya mempunyai harapan yang besar bahwa Jamaah Maiyah mampu membentuk sebuah jenis kekuatan yang baru. Yaitu kekuatan NILAI. Sebuah kekuatan yang mendasari kekuatan-kekuatan yang lain. Kekuatan nilai yang matang akan bisa diterjemahkan menjadi kekuatan-kekuatan yang lain. Dan kekuatan-kekuatan yang terbentuk dari kekuatan nilai akan menjadi sesuatu yang lebih komprehensif untuk (dalam) kebersamaan. Kekuatan ekonomi yang mampu memaslahatkan banyak orang, kekuatan politik yang bertanggung jawab, dan kekuatan sosial politik yang cerdas dan tidak dangkal-romantis.

Tentu itu sekadar harapan dan pandangan. Yang bisa mendefinisikan Jamaah Maiyah adalah Jamaah sendiri. Ketika ini adalah kekuatan nilai, berarti semua sudah dewasa menghadapi ekonomi, politik, sosial dan budaya. Sampai titik yang manakah kita sekarang?