Kolom Jamaah

Kemarau & Balada Pandemi

Puisi Imam Balangan. Untuk 16 tahun BangbangWetan

Imam Bukhari

Kemarau

Kuning kecoklatan kemarau ini 

Persis gelandangan tua kusam permukaan bumi 

Melemparkan partikel-partikel debu, kabut asap, hawa panas di segala ujung 

Pada setiap dedaunan, rumput ilalang patah melengkung 

Kuning kecoklatan kemarau ini 

Membungkam rapat-rapat mulut coklat, tembakau, jagung, padi, kedelai dan kopi 

Lalu gadaikan kesadaran-kesadaran yang ada dalam batok kepala Jakarta 

Bahwa cekikan tangan dollar terhadap leher rupiah disangka bencana 

Kuning kecoklatan kemarau ini 

Tentang harapan-harapan manusia kepada Tuhan yang tak mati 

Konon sudah enggan menimba air di sumur Salsabila 

Hingga bikin Tuhan cemburu kepada itu semua 

Kuning kecoklatan kemarau ini 

Merah dan putih membikin rusuh tanah pertiwi 

Coba sekali saja Nuhswantara sombong embargo dirinya 

Akan membuat adidaya jadi zombie-zombie terlunta-lunta 

Kuning kecoklatan kemarau ini 

Namun tak surutkan peluh para petani di lereng-lereng gunung Merapi 

Sang bocah angon tetap setia meniup seruling Daud maiyahkan domba dan kambingnya 

Agar domba dan kambing tidak diadudombakan dan dikambinghitamkan Indonesia 

Tlogo – Ambar Ketawang: Senin, 05 Agustus 2022


Balada Pandemi

“Selamat datang pandemi” 

Berbunga-bunga slogan negeri menyambut tibanya pandemi 

Pandemi datang, pengelola negeri terlihat gamang sungguh riang 

Pandemi menyelamatkan kerja yang tak becus 

Membuat angka-angka hoax makin sukar mampus 

Sudah di-on-pengecutkan plan A, plan B, dan jutaan plan-plan berikut 

Segera swab muka lawan biar positif: curut 

Proyek-proyek menggiurkan dimainkan 

Watak-watak aji mumpung telah lama bermunculan

 

Tentara-tentara aseng menyelinap ke dalam negara di dalam negara 

Membikin situasi hati dan akal sehat senyap tak tentu rimba 

Kepala daerah divonis sekarat, nenek-nenek kuli pasar membikin loyo keperkasaan pil kuat 

Teman-teman sejawat, tiba-tiba menikam leher tak perlu jarak dekat 

Tak cukup linier dalam melihat segala tipu muslihat 

Mereka gunakan perempuan-perempuan bunting pemantik cakrawala pemikat 

Kata siapa rakyat dibungkam, tak dibiarkan keluar rumah 

Kata siapa, rakyat tak lagi boleh menikmati fasilitas negara 

Wajar saja sekolah-sekolah melompong dari gigi-gigi murid 

Bangsal-bangsal rumah sakit membuat pasien-pasien tak cukup nyali mengaku sakit 

Apa perlu menolak lupa akan tragedi aneh petugas yang mati massif kabur kanginan 

Pandemi membunuh siapa saja dengan rancangan undang-undang 

Terutama yang berani tetap melenggang 

Di arena yang sengaja dikosongkan 

Kampung Buku, Banjarmasin

Leave a Reply

Your email address will not be published.