” Kemesraan Di Langit Sunyi”

 

Karena terlalu sering dibuat perdebatan “ Pancasila’ dan “’ Islam ” sepakat sejenak menepi dari  Indonesia, pergi jauh ke langit-langit sepi lalu bertemu.

Dengan segenap kerendahan hati Pancasila berkata ”.. maafkan aku mbah Islam jika di negeri dimana aku dijadikan dasar kehidupan kita selalu di pertentangkan, namaku selalu dipakai untuk menghakimi siapa saja yang bertentangan dengan kekuasaaan.”

Aku sangat malu untuk itu. Aku adalah nilai yang digali dari khasanahmu. Tak ada yang perlu di pertentangkan sebenarnya”. Sekali lagi maafkan aku.”

Islam tersenyum lembut lalu berkata ” iya, aku pun mengerti, di negeri dimana dirimu ada, aku tumbuh begitu subur dan berwajah dengan penuh kelembutaan. Aku bisa berakulturasi begitu mesra dengan budaya indonesia, dalam wajah agama aku merasa sempurna di negeri ini, karena aku di turunkan tidak lain hanya untuk menyempurnakan akhlak”

Engkau bukanlah ” thoghut”, nak, bahkan jika mereka benar – benar mengamalkan  sila silamu, mereka bisa sangat Islami, sebaliknya pun begitu, jika orang islam menjalankan  ajaranku secara benar dan sungguh sungguh mereka akan terlihat sangat Pancasilais”, Ucap lembut Islam

” Tapi Mbah”, sela Pancasila, Akhir akhir ini orang selalu bertengkar tentang kita”, ada apa dengan mereka?. Kita dipakai sebagai ” Baju”, yang terlihat berbeda, sehingga harus dipertentangkan. Mereka saling tuduh ..

” Nak, kita sekarang hidup di masa yang hampir tua, hantu-hantu kapitalisme, globalisasi merajalela di negeri Indonesia, mereka merasuki sebagian besar pikiran orang Indonesia. Mereka di bawa oleh pasukan–pasukan ” Dajjal” ke negeri kita untuk merampok kekayaan alam, dan menjadikan bangsa ini budak-budak mereka,” jawab Islam.

Lalu kita harus bagaimana Mbah?”, tanya Pancasila. Apakah kita akan hilang begitu saja dari negeri ini??.

Tidak!!, nak lihat lah di sana masih ada orang yg jernih pikirannya, jujur sudut pandangnya, begitu besar cinta mereka kepada negeri ini.” jawab Islam

” Mari kita diam disini nak”, Lanjut Islam

Menunggu mereka mengkaji kita dengan bijak dalam pikiran mereka, lalu perlahan kita akan mengendap di hati mereka, mengalir dalam darah lalu menjadi kekuatan mereka untuk menjaga negeri ini, negeri Indonesia, yang Tuhan telah mencuilnya dari surga lalu menaruhnya ke bumi.

( Mereka pun berpelukan haru di langit2 kesunyian, mereka menunggu hati yang jernih untuk disinggahi, hati kitakah itu???)

 

Oleh : Setiawan bonek Maiyah , Penulis bisa ditemui di setiawanslubutsur@yahoo.co.id