KEMULAN nDUNYO ( Prolog BangbangWetan Maret 2017 )

” KEMULAN nDONYA ” ( PROLOG BANGBANGWETAN MARET 2017)

 

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (١)قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا (٢)نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلا (٣)                                               هِ

“Wahai orang-orang yang berselimut. Bangunlah di malam hari kecuali sedikit darinya. Seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit ” (QS. al-Muzammil: 1-3)

يا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3)                                                                     3

” 1). Hai orang yang berkemul (berselimut), 2). Bangunlah, lalu berilah peringatan! 3). Dan Tuhanmu agungkanlah! ‘ ( QS. Al-Mudatsir 1-3 )

Tiga ayat awal surah Al Muzammil dan surah Al Mudatsir di atas mensiratkan ajakan untuk melakukan kebaikan. Baik itu ke’dalam’ dan perbuatan ke’ luar ‘ . Istimewanya, kebaikan ini dilakukan dalam tataran waktu malam hari pada kondisi seseorang atau sekelompok orang terjaga dari tidurnya. Menukik pada terminologi waktu “malam”, isyarat ini mengantar kita ke satu kondisi dimana dominasi aktifitas yang umum dilakukan justru mengarah pada agenda tidur, tetirah dan jauh dari hiruk pikuk pencurahan energi.

Logika kehidupan modernistik yang menjadikan kepemilikan dan pemenuhan kebutuhan remeh temeh sebagai satu kewajaran merupakan “selimut” tersendiri bagi banyak orang. Upaya pemenuhannya membimbing manusia pada satu kondisi “tidur” yang panjang dan tak terbangunkan. Satu kondisi dimana hidup tak lebih sebagai kenyamanan berselimutkan gaya hidup, mementingkan diri sendiri, tidak berpikir panjang serta larut di segala hal yang hanya artifisial / permukaan. Satu keadaan yang menjauhkan dari hidup sesudah hidup kekinian. Satu fase dimana manusia sedang berselimutkan keduniawian, “kemulan ndunyo”.

Merujuk pada kelanjutan tiga ayat pertama di atas, disebutkan bahwa mereka akan mendapat keistimewaan yaitu menerima perkataan yang berat atau bisa juga dimaksudkan menerima pengetahuan baru. Satu bentuk pemahaman yang belum pernah dimiliki sebelumnya. Terlepas dari “larangan” bagi kita untuk berharap imbalan, Tuhan melaui ayatNya menjanjikan suatu “reward” bagi mereka.

 

Tentu saja yang paling membahagiakan adalah ketika melihat orang orang yang berselimut itu bangun dan melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Salah satu aktifitas kekhalifahan untuk mengupayakan terjadinya tatanan reparatif. Dari yang tidak baik menjadi baik, menjadikan yang sudah baik untuk lebih baik lagi. Meski adagium Maiyah tetap mensyaratkan satu hal: bahwa apa yang baik seyogyanya adalah apa yang baik menurut dan berdasarkan penilaian Allah semata.

Mencoba sebentar menengok ke 18 abad lalu, dikenal satu kerajaan di tlatah Jawa bagian tengah bernama Medang Kamulan. Nama kerajaan yang karena minimnya bukti otentik sejarah nyaris menjadi  mitologi belaka ini secara harfiah berarti orde atau tatanan awal mula.  Satu formasi  permulaan dari sebuah peradaban.

Dengan kreasi dan hipotesa “sempalan”, muncul pertanyaan apakah bagsa dan tata kelola hidup kenergaraan kita sedang berada dalam kondisi berselimut / “kemulan”. Benarkah saat ini kita tengah menjalani yang hakekatnya adalah apnea (tidur) ? Kalau indikasi ke arah sana kian membuktikannya, pantas bila negara ini kita beri istilah baru “Medang Kemulan”. Sebuah tatanan kenegaraan dimana bangun dan terjaga menjadi satu kebutuhan.

Sambil terus melakukan retrospeksi, mengulang-ulang pertanyaan berkenaan dengan siapa yang dimaksud dengan orang yang berselimut, apa dan bagaimana perwujudan ‘ selimut ‘ itu , apa yang sebaiknya dilakukan setelah terbangun dan bersama siapa sebaiknya aktifitas itu dilakukan, mari teruskan kegiatan yang, alhamdulillah, telah kita bersama lakukan di lebih sepuluh tahun ini.

Buang selimut kenyamanan. Waktunya bangun dari segala yang melenakan. Ayo berkumpul di timur, menguak rahasia, bangun dari tidur.

 

Red: Team Tema / ISIMBANGBANGWETAN