Oleh : Prayogi R Saputra

Gadis kecil itu berdiri di pekarangan. Beberapa kali dia nampak mondar-mandir mengambil air dan menuangkannya ke panci kecil. Lalu, dia mengaduk-aduk panci itu beberapa waktu. Panci itu diletakkan di atas dua buah bata merah yang disusun sejajar. Di antara bata satu dengan yang lain ditata beberapa batang ranting kering dari kayu johar. Kadangkala, dia meniup ranting itu. Mungkin, dia menganggapnya sebagai kayu bakar. Dia meniup bara untuk membuat api menyala. Sesekali, dia menyibakkan poni rambutnya yang menutupi mata.

Beberapa saat kemudian, gadis itu menata piring-piring mungil berbahan plastik, mengisinya dengan adonan tanah dan air, lantas mengaturnya dengan sempurna di atas tikar kecil. Lantas dia duduk di atas tikar, menuangkan air ke gelas plastik dan mulai upacara makan. Tak ada orang lain di pekarangan. Bahkan, ayam-ayam pun tak nampak berkeliaran di pekarangan. Seekor kucing melompati pagar rendah, lalu berjalan kaki dengan santai ke arah barat. Burung elang berputar-putar di angkasa mengincar anak ayam untuk sarapan. Suara burung Kedasih menjerit-jerit sedih di antara pepohonan.

Seorang laki-laki umur 35 tahunan  berseragam tentara mendekati pekarangan. Dia berhenti di luar pagar. Beberapa menit, laki-laki itu berdiri saja, mengamati  si gadis kecil. Sesekali dia tersenyum. Bola matanya menerawang. Dia mengeluarkan bungkusan plastik dari dalam saku seragamnya yang sudah lusuh lalu duduk mengatur sesuatu. Laki-laki itu nampak merencanakan sesuatu. Dia menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang. Nampak ragu-ragu sejenak. Kemudian, dia pergi. Bungkusan plastiknya tertinggal di sebelah batu hitam.

Rupanya, si gadis kecil belum menyelesaikan makan paginya. Seorang anak laki-laki berseragam TK melintas di jalanan di luar pekarangan. Tak bersepatu. Dia memandang si gadis kecil. Tas punggung warna merah nampak berat, diseret di sepanjang jalan tanah berdebu. Dia tetap berjalan sembari menatap gadis itu lekat-lekat. Sampai di bawah pohon kenanga yang besar, anak laki-laki tak bersepatu itu berhenti. Dia mengambil sesuatu dari bawah pohon, mengamatinya sejenak, lantas memainkannya.

Laki-laki berseragam tentara tadi datang kembali. Dia seperti memegang sesuatu, tapi menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya. Laki-laki berseragam itu mendekat ke pekarangan dengan langkah pelan-pelan, nyaris mengendap. Lantas berdiri di balik pagar rendah sepinggang.

“He….!!!” panggilnya.

Si Gadis kecil tak menoleh.

“Sstttt…..!!!” panggilnya lagi.

Si Gadis kecil tetap tak menoleh. Anak laki-laki tak bersepatu asyik memainkan dua kuntum bunga kenanga sebagai figur yang saling bicara. Laki-laki berseragam itu mengambil sesuatu dari tangan kirinya, rupanya sekuntum bunga. Lantas dia lemparkan sekuntum bunga itu ke arah si gadis kecil. Si gadis kecil sedikit terkejut, lalu mencari-cari dari arah mana gerangan bunga itu dilemparkan.

Gadis kecil itu memandang berkeliling, sambil tetap duduk menghadapi hidangannya. Tak ada siapa-siapa. Dia kembali melanjutkan makan paginya. Kali ini, dia mengambil sesosok boneka dari dalam kardus, lantas menimangnya. Gadis kecil itu berdiri, menggendong bonekanya. Rupa-rupanya dia berusaha menenangkan bonekanya. Berusaha memberinya sedikit makanan. Satu suap. Dua suap. Tiga suap. Gadis kecil itu mirip ibu muda yang berusaha menidurkan bayinya.

Rupanya, si laki-laki berseragam berlindung di balik pagar untuk menyembunyikan dirinya dari pandangan si gadis kecil. Tapi, dia mengamati gerak-gerik gadis kecil itu dari lubang pagar yang runtuh beberapa susunan batanya. Matanya nampak menyimpan kesedihan yang dalam. Pelan-pelan, dia bangkit. Sedikit ragu-ragu. Akhirnya dia berdiri, mengambil sekuntum bunga kemuning terakhir dari tangan kirinya, dan melemparkannya ke arah si gadis kecil.

Bunga itu jatuh tepat di gendongan si gadis kecil, menimpa boneka bayinya. Dia menoleh dan melihat laki-laki berseragam tersenyum kepadanya. Gadis kecil itu terkejut dan sontak menjerit sejadi-jadinya.

“Buuuuukkkkkkkk!!!!!!! Ibuuuukkkkkkk!!!!!!”

“Ibbbuuuukkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

Gadis itu menangis.

Sontak dari dalam rumah seorang ibu muda menghambur keluar.  Dia buru-buru memeluk gadis kecil itu. Berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Sementara, demi mendengar jeritan dan tangisan si gadis muda, anak laki-laki tak bersepatu kontan melihat ke arah datangnya suara. Dia menatap laki-laki berseragam dan seketika lari tunggang-langgang.

“Marijah!!!!!!!! Marijah!!!!!!! Wong edan!!!!!!!!” teriaknya.

Dia berlari kencang ke arah barat.

Mendengar teriakan anak laki-laki tak bersepatu, ibu muda tadi memandang ke arah jalan dan dia menemukan sesosok laki-laki berseragam tentara lusuh berdiri di luar pagar. Laki-laki itu diam mematung. Matanya tajam menatap ibu muda. Si  ibu muda menggendong si gadis kecil dan menenangkannya.

“Sudah Kemuning, nggak apa-apa. Bapak itu tidak akan mengganggumu.”

Ibu muda itu kembali menatap ke laki-laki berseragam. Mata ibu muda itu nanar. Tatapan mata itu seperti menyimpan kasihan dan penyesalan yang dalam. Ibu muda itu berniat memberesi mainan si gadis kecil dan mengajaknya masuk, ketika dia melihat dua kuntum bunga kemuning tergolek di atas tikar. Ibu muda itu teringat, bertahun-tahun lalu, bunga kemuning serupa, sering dilemparkan oleh kekasihnya sebagai tanda janji untuk bertemu.*

 

Prayogi R. Saputra : adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra