Mas Rahmat membuka forum. Karena pelaksanaan Amar Maiyah kali ini bertepatan dengan rutin diadakannya Majelis Rolasan, maka di samping pembacaan wirid tahlukah dan hizb nashr juga ada sholawatan serta ibrah (berbagi cerita) tentang Kanjeng Nabi.

 

Seperti biasa wirid dipimpin oleh Gus Lutfi. Karena tanpa pengeras Suara, Gus Lutfi meminta seluruh jamaah yang hadir merapat. Ketika memasuki sholawat, Chakam diminta memimpin. Chakam yang sekarang berdomisili di Kertosono memang semakin jarang bisa hadir, maka hadirnya begitu menjadi rindu bagi semuanya. Suara Chakam memang dirindukan, bukan hanya pada getaran vibrasinya tapi juga pada lengkingan lembutnya. Meski beberapa teman sering berseloroh, “Bar rabi, suara Chakam malih gak enak maneh”. Tapi tidak malam itu, malam itu performa Chakam kembali seperti ‘jaman bujang’ dulu.

 

Memasuki indal qiyam, Gus Lutfi kembali memimpin. Meski lengkingan Chakam tetap sering mencuri hati di sela suasana ritmis. Bagaimana pun forum sejenis ini diulang beberapa kali, nuansanya tetap berbeda di masing-masing acara.

 

Setelah indal qiyam, Mas Rahmat memoderasi forum ibrah. Ia memberi pengantar tentang kondisi hari ini di mana Mbah Nun banyak di-bully di medsos. Mengibaratkan Mbah Nun sebagai Kanjeng Nabi dan Jamaah Maiyah atau jamaah yang hadir pada malam itu sebagai sahabat, Mas Rahmat mencoba menggali bagaimana sikap jamaah merunut sikap empat sahabat ketika Kanjeng Nabi di-bully.

 

Jawaban para jamaah sangat variatif,tergantung rujukan sahabat mana yang diambil. Semua sikap itu tentu dilandaskan pada cinta dan ketidaktegaan melihat kekasihnya Muhammad dicaci.

 

Misalnya merujuk sikap Ali yang cerdas. Dalam situasi sekarang, dengan kemampuan intelektualnya, Sayyidina Ali mungkin akan berupaya keras untuk menemukan pelaku pem-bully, lawan teknologi dengan teknologi. Lain halnya dengan Sayyidina Utsman. Dengan permodalannya yang kuat bisa saja beliau membeli server, atau membeli situs-situs penghina untuk kemudian ditutup, atau diubah menjadi situs penebar cinta.

 

Ketegasan Sayyidina Abu Bakar akan terlihat sama dengan sikap temperamental Sayyidina Umar. Pedang Sayyidina Umar dalam konteks kekinian bisa saja berupa membela di medsos atau melaporkan para penghina ke polisi, atau membawanya ke meja hijau.

 

Ibrah kepada Khulafaur Rasyidin ini tentu bukan untuk membandingkan Mbah Nun dengan Kanjeng Nabi. Tetapi bagaimana jamaah menemukan sikap yang tepat pada para penghina Mbah Nun, dilandaskan pada rasa cinta pada beliau, seperti halnya cinta empat sahabat pada Kanjeng Nabi.

 

Pilihan sikap bisa saja berbeda, tapi itu semua dalam rangka cinta. Forum malam itu diakhiri pukul 01.30 dan bergeser untuk sahur bersama. /atl

 

Surabaya, 17 Mei 2019