Kolom Jamaah, Rubrik

Keseimbangan Hati

Oleh: Tamalia Yunia Nurrahmah

Salah satu nikmat Tuhan yang perlu kita jaga adalah kesehatan. Tubuh yang sehat merupakan modal untuk melakukan berbagai aktifitas. Tuhan telah menciptakan kita dalam bentuk dan kondisi yang sebaik-baiknya. Maka kita harus menjaganya dengan usaha yang baik pula.

Banyak yang beranggapan kesehatan timbul karena pola hidup yang baik, pola makan yang baik, dan istirahat yang cukup. Tak salah sebenarnya, namun terlepas dari itu ada faktor yang sangat perlu kita pertimbangkan, yaitu pikiran. Seperti yang disampaikan Mbah Nun saat tutup tahun 2017 dalam “Malam Renungan dan Harapan 2018”, di RSAL dr. Ramelan, Surabaya, “Kesehatan itu berasal dari anggapan uripmu bener. Penyakit tidak akan punya panggung untuk pentas jika uripmu bener.” Dari apa yang disampaikan Mbah Nun, mari sedikit merenung apakah hidup kita sudah bener!? Apakah kita banyak melakukan kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja!? Atau apakah kita banyak menyakiti hati sesama tanpa kita sadari!?

Setelah melewati perenungan di tahun 2017, saya kembali diperjalankan menuju “Tafakkur Zaman untuk Menemukan Keseimbangan”, di Polinema pada 19 Januari 2018. Bagi saya, Polinema adalah tempat bersejarah karena di tempat itulah saya menemukan keseimbangan dalam wujud ber-Maiyah untuk pertama kalinya di tahun 2012. Kala itu, saya masih berstatus mahasiswa yang diamanahi menjadi panitia Kenduri Kebudayaan Polinema. Semenjak itu saya terus mencari, membangun kontruksi hati dan pikiran agar menemukan keseimbangan. Seperti yang disampaikan Mbah Nun, “Maiyah ini adalah laboratorium di mana setiap pesertanya akan mendapatkan pelatihan untuk memiliki kedaulatan dalam memilih kehidupannya masing-masing.

Seimbang, menyadur dari dawuh Mbah Nun pada Kenduri Kebudayaan di Polinema, berasal dari kesehatan yang dalam bahasa Inggris disebut health. Health berasal dari kata hole, holistic, yang berarti menyeluruh. Jadi, keseimbangan terbentuk dari kesehatan yang menyeluruh antara fisik, psikologis, mental, dan spiritual. Apa yang di sampaikan Mbah Nun itu membuat saya termotivasi berdaulat dengan memilih untuk hidup sehat dimulai dari berpikir positif dan menyadari bahwa penyakit itu terjadi karena ketidakseimbangan, kesempitan, ke-cekak-an, dan kedangkalan berpikir.

Peribahasa lama berbunyi “Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat”, oleh Mbah Nun peribahasa itu justru dibalik, “Badan sehat tidak selalu melahirkan jiwa yang sehat. Justru, jiwa yang sehat akan melahirkan badan yang sehat“. “Tidak ada orang yang berusaha menyehatkan badan kalau jiwanya tidak sehat.”

Apapun yang terjadi, tetaplah yakin bahwa Tuhan masih memberi kekuatan alamiah “Quwwah’’ dan “Sulthan” sebagai pinjaman resmi kepada kita untuk melewati berbagai tahap ujian. Perjuangan kita sebagai pelaku kehidupan beranikanlah berdoa “La haula wa la quwwata wa la sulthana illa billahil ‘aliyyil adhim”. Alhamdulillah, sampai saat ini fisik saya terlatih untuk lebih tangguh walaupun sering pulang larut malam untuk mengikuti Maiyahan. Tidak hanya fisik, hati pun terlatih untuk jembar dan lebih tenang dalam menghadapi apapun.

Dalam daur-32 dituliskan bahwa rasa sakit itu mungkin membawa manusia pada ketidakseimbangan struktur kejiwaan. Namun, bersama dengan segala sesuatu yang menyakitkan, perangkat dan metode untuk menawarkannya juga sudah disediakan. Sakit badan atau hati tidak perlu membawa manusia ke kelumpuhan tubuh atau sakit jiwa karena ia bagian dari kelengkapan “sebab musabab” untuk dikelola manusia menuju ketangguhan, kedewasaan, kematangan, dan kesaktian.

Di Polinema, saya menyaksikan betapa Allah memberikan kekuatan alamiah kepada para generasi muda yang akan menciptakan keseimbangan untuk masa depan. Para jamaah dengan ikhlas datang ke Maiyahan meskipun kondisi lapangan menjelma seperti sawah. Hujan yang mengguyur Bumi Arema tidak mengurangi antusias para jamaah untuk terus menerus mencari keseimbangan. Terus menerus mencari sirothol mustaqim.

 

Tamalia Yunia Nurrahmah. Alumni Teknik Elektro Polinema yang tersesat di dunia perbankan. Bisa ditemui melalui akun twitter @tamaliayunia