Kesetiaan Kepada Peran

 

Majelis BangbangWetan Juli diselengarakan pada hari Jumat, 19 Juli 2019. Penyelenggaraan kali kedua—di tahun politik–di halaman TVRI Jawa Timur. Dengan mengusung tema “Urip Malaikatan”, satu idiom yang lahir dari Ibu Halimah kepada anak-anaknya, termasuk Mbah Nun, untuk tirakat atau menahan diri agar tidak menjadi orang yang selalu “Ngegas”.

Jemaah memadati lokasi sejak bakda magrib karena menginginkan untuk bisa duduk di deretan terdepan. Setelah lantunan ayat suci Alquran dan salawat berkumandang, dulur-dulur dari UKM Musik Universitas Airlangga Surabaya menyumbangkan beberapa nomor untuk menghangatkan forum dan menemani jemaah di sesi awal. Mas Yasin dan Mbak Tamalia membuka rangkaian acara candaan ala kizano.

Hadir pula Mas Ahid, Mas Hari, Mas Rio, dan Mas Aminullah. Mas Ahid sebagai Pemimpin Umum BMJ (Buletin Maiyah Jatim) meminta masukan bagi mutu dan pengembangan BMJ yang berkelanjutan. Dijelaskan bahwa beberapa marja’ Maiyah utamanya Mbah Fuad dan Syekh Nursamad Kamba istiqomah mengirimkan  tulisannya. Mas Rio sebagai salah satu penulis tetap BMJ juga menegaskan bahwa BMJ adalah literasi dalam bentuk media “lembar” yang masih eksis di era media layar. Di samping itu, semua tulisan di BMJ telah melewati proses editing yang ketat sesuai kaidah jurnalistik. Artinya, muatan yang ada di BMJ layak untuk diwariskan.

Setelah sedikit ulasan tentang BMJ, Mas Aminullah meminta beberapa jemaah untuk maju guna memaparkan apa saja yang didapat setelah kita Maiyahan, khususnya BangbangWetan ini. Di penghujung pembicaraannya, Mas Amin mengutarakan bahwa kita adalah “subjek”.  Berlangsungnya BangbangWetan hingga dua belas tahun ini tergantung dari jemaah. Sehingga BangbangWetan dan BMJ adalah milik bersama yang harus dijaga bersama. Salah satu jemaah mengutarakan bahwa ia mendapat pengaruh di dalam hidupnya karena sebuah kalimat Mbah Nun yakni, “Ikuti arus kehidupan tetapi jangan sampai terbawa arus itu”. Dengan sebuah kalimat tersebut membawanya menjadi orang yang tidak nggumunan di dalam pekerjaan atau pun kehidupannya.

Mirip seperti BangbangWetan bulan sebelumnya, kali ini jemaah kembali diajak untuk workshop yang dipandu oleh Mas Aminullah dan Mas Hari. Sebagai pembuka, jemaah diminta untuk berhadap-hadapan satu sama lain, dan sisi sebelah kanan diperintahkan untuk sambat kepada dulur di hadapannya, begitu pula sebaliknya. Selanjutnya jemaah diberi tiga pertanyaan yang didapat langsung dari Mbah Nun, yakni:

  1. Urip malaikat adalah laku hidup cara malaikatan. Carilah apa cara hidup malaikatan?
  2. Kenapa Allah membuat konsep manusia adalah khalifah diantara makhluk lainnya? Dan apa yang menjadi prinsip sehingga Allah membuat konsep tersebut?
  3. Dalam peta nilai urip malaikat, terangkan empat perangkat manusia, yakni: akal, hati, perut, dan kelamin. Di mana kira-kira letak negara, pembangunan, pendidikan, dan kebudayaan?

Dengan diiringi UKM Musik dari Unair, Mbah Nun, Kyai Muzammil, Pak Suko, dan Bapak Menachem Ali (Dosen Filologi Unair) turut hadir pada majelis malam itu. Mbah Nun membuka dengan mengingatkan kita kembali bahwa beliau bukan siapa-siapa, jadi jangan mengandalkan beliau dalam hal apa pun. Di hidup ini yang penting bukan “sapa” tapi “lapo“. Sedari itu yang utama dimaiyah adalah amaliahnya, bukan identitas kita masing-masing. Beliau memakai gula sebagai analogi, yang terpenting itu adalah memberi rasa manis, bukan gulanya. Semuanya harus diperjelas yang penting mau “lapo”,  bukan identitasnya, dan urusan utamanya lapo-nya harus tepat. Beliau menegaskan kembali bahwa seng penting iku lapo, yang fokus utamanya adalah dadi manfaat.

 

Bapak Menachem Ali

Pak Ali membuka awal pembicaraannya dengan sebuah kalimat, “Lapo itu betul-betul istilah dalam Alquran yang diucapkan oleh malaikat”. Ada sebuah dialog antara Allah yang berbicara kepada malaikat, “Inni jailun khalifah”; ingatlah tatkala Allah berbicara kepada para malaikat. Akan tetapi meskipun tulisan arabnya sama, tetapi jika ucapannya berbeda, maka berbeda juga ruang, waktu, dan maknanya. Kesimpulan dari “wayasfiqudimma’” adalah berbicara dan menunjuk soal generasi.

Manawa Dharmasastra bahasa Sanskerta disebut kitab suci yang diterima oleh para manu. Manu dalam bahasa Sanskrit adalah orang yang diperintah oleh Sang Hyang Widhi untuk menciptakan bahtera besar. Sehingga orang yang tak mau ikut bahtera besar akan tenggelam. Kalau melihat sejarah manu, akan ada keterikatan dengan kisah Nabi Nuh a.s., karena India tidak bisa mengucapkan Nuh maka disebut Manu. Beliau menjelaskan bahwa agama Islam tidak datang tiba-tiba, melainkan ada mata rantainya. Yakni Islam datang untuk menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Bahwa di muka bumi ini diwarisi oleh orang-orang yang saleh, dan kesalehan seseorang tidak ditandai dengan atribut-atribut kesalehan. Jika berbicara sebuah kebenaran, tidak ada agama apa pun yang membenarkan kejahatan di muka bumi ini. Islam itu adalah agama yang inklusif karena di dalam kitab Alquran menceritakan kitab-kitab yang lain. Maka dari itu jika urip malaikatan harus punya karisma kemalaikatan.

 

Mbah Nun

Mbah Nun membuka kembali pembicaraan bahwa Maiyah ini sangat menghormati pendekatan. Beliau meminta kepada teman-teman bahwa masing-masing dari kita harus menjadi ahli pada bidangnya. Ahli jangan dikurung oleh struktur feodalisme karena ahli itu bisa dilakukan setiap manusia. Bahkan Allah menyebut khalifah itu adalah sebuah fungsi. Khilafah yakni pekerjaan yang dilakukan oleh seorang khalifah. Akan tetapi saat ini khilafah hanya disampaikan secara casing saja, bahkan Islam saja sekarang disampaikan hanya secara permukaan.

Mbah Nun menegaskan bahwa beliau itu bukan orang punya keahlian, akan tetapi beliau itu orang yang senang lapo-lapo. Sehingga oleh Allah menjadikan beliau orang yang “bisa”. Karena hidup kita itu harus inklusif, sehingga Allah memberikan keluasan bukan malah mempersempit diri. Sedangkan mengingat Allah itu tanpa syarat, bahkan tidak apa-apa mengingat Allah dalam keadaan marah. Tetapi kita manusia mempunyai potensi untuk mengembangkan diri untuk menjadi lebih luas, kristal ilmu dan pengalaman. Sehingga akan terlahir penyesalan yang sudah dilakukan dan berubah menjadi mengingat Allah dengan penuh kebaikan. Manusia itu dinamis, jadi tidak mungkin dendam terus menerus, marah terus menerus. Kemesraan kepada Allah terhadap makhluknya itu ekspresinya bermacam-macam. Begitu kaya Allah menciptakan kemesraan-kemesraan.

Maksud Mbah Nun memberi workshop kepada jemaah di setiap Sinau Bareng atau Maiyahan lain adalah untuk memberi pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan. Pertanyaan dalam workshop sangat elementer. Karena selama ini pemerintah sangat muluk-muluk dalam mengkonsep sesuatu. Yang selama ini kita nilai di Maiyah adalah kau tepat apa tidak dalam menilanya. Kita harus belajar bertahap, misalkan sebelum mempelajari negara, kita harus belajar dulu ketepatan dalam menempatkan sesuatu. Urip malaikatan sendiri berarti kita tidak terikat oleh cara hidup materialisme karena manusia makhluk ahsanut taqwim; memuat segala dimensi dan makhluk komprefensif. Tetapi manusia diciptakan sebagai makhluk yang bisa memilih baik atau buruk terhadap apa yang akan dilakukannya. Sekarang kenali dulu malaikatan bagaimanabagaimana? Kehewanan bagaimana? Lalu tentukan Anda harus bersikap bagaimana? Karena hidup itu berkembang terus. Kita ke depan jangan hanya bersikap bener, tetapi harus pener. Pener itu pas. Urip malaikatan sendiri adalah kalimat yang diambil dari istilah Ibu Halimah. Urip wareg ataupun serba kekurangan tidak apa-apa asal urip malaikatan. Urip-lah yang sesuai dengan apa yang ditentukan Allah atas hidup kita. Di penghujung pembicaraan, beliau mengingatkan bahwa kita harus mencintai semua apa yang ada di bumi, maka Allah akan mencintai kita.

 

Kyai Muzammil

Kyai Muzammil membuka dengan sebuah kalimat, “Kita harus setia pada maqom. Setia pada posisinya masing-masing”. Untuk bisa setia pada posisi masing-masing maka kita membutuhkan kemampuan untuk menahan. Yang punya kemampuan menahan yang baik adalah malaikat. Sebetulnya saat ini terjadi pertumpahan darah bukan karena manusia terbelakang dan bukan karena Allah tidak menciptakan kekayaan yang cukup. Persoalannya adalah orang yang tidak setia pada maqom-nya. Beliau mengibaratkan bahwa hidup itu satu sistem. Ibarat sepeda motor ada setir, jok, ruji, dll. Satu sama lain saling terkait demi satu tujuan. Motor bisa berjalan dengan baik jika masing-masing komponen setia pada posisi masing-masing. Semua harus setia dan patuh pada perintah tersebut.

Majelis BangbangWetan malam itu dipungkasi dengan bacaan Surah Al Insyirah oleh Mbah Nun, dengan maksud untuk melapangkan dan mengangkat beban yang sedang dialami jemaah sehingga kita dapat melewati apa yang telah ditakdirkan. Semoga kita berjumpa kembali dengan majelis di bulan-bulan selanjutnya.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]