Oleh : Prayogi R Saputra

 

“Pernahkah Engkau mendengar tentang Masjid Sultan dan Kampung Glam?” tanya Saridin kepada anak-anak muda yang sedang suntuk membaca-baca situs bangbangwetan.org.

”Hhaa! Nggak? Kemana saja hidupmu selama ini. Barangkali, mainmu kurang jauh,”ledek Saridin. ”OK, begini saja, biar aku jelaskan. Biar kalian nggak tempurung-tempurung amat,” ledekannya kian menjadi-jadi. Anak-anak muda itu ikut tertawa.

“Mereka berdua itu, Kampung Glam dan Masjid Sultan, adalah sisa jejak-jejak Kesultanan Melayu yang masih bisa ditemukan di Singapura. Masjid Sultan ibarat Masjid Istiqlal bagi Indonesia. Dia dianggap sebagai masjid yang mewakili wajah Islam di Singapura. Masjid itu berdiri di kompleks Istana Kampung Glam, semacam enklave kecil dari Kesultanan Johor.”

“Tahu enklave?” Saridin melongok sedikit menggoda.

Anak-anak muda yang sedang membaca itu saling berpandangan, kemudian menggeleng.

“Ah, kalau aku bilang dungu nanti kalian lapor ke polisi. Sudahlah!”

Mereka tergelak. Lantas, Saridin melanjutkan ceritanya.

“Selama sekitar 300 tahun sebelum Rafles tiba di Temasek (nama kuno Singapura) pada 1819, Temasek adalah bagian dari  Kesultanan Johor. Bahkan, jauh sebelum itu, ketika Sriwijaya sedang berada masa masa jaya, Temasek merupakan salah satu pos terdepan Kerajaan Sriwijaya. Pernah juga Temasek menjadi bagian dari Kesultanan Islam Melaka.”

Namun apa lacur, setelah kedatangan Rafles, hanya dalam waktu tak lebih dari 10 tahun, Temasek telah sepenuhnya berganti hak kepemilikan dari Kesultanan Johor kepada East Indian Company (EIC) milik Inggris. Begitulah, maka sekarang kita mengenal Singapura bukan sebagai negara Melayu, melainkan negara dengan mayoritas warga negara beretnis China.

Anak-anak muda itu manggut-manggut.

“Melayu dan India pun menjadi minoritas kecil di Singapura. Bukan soal mayoritas dan minoritas atau sikap multikultural (kebhinekaan atau anti kebhinekaan) yang menjadi persoalan,”buru-buru Saridin mengklarifikasi kalimatnya agar tidak dibelokkan menjadi tuduhan macam-macam. “Namun, proses berpindahnya kepemilikan dari Kesultanan Johor ke Inggris inilah yang patut kita jadikan pelajaran. Sebab, Temasek diberikan kepada Inggris sebagai kompensasi bagi Inggris atas bantuannya kepada salah satu pihak dalam perebutan tahta Kesultanan Johor.”

“Rupanya, proses ini menjadi model bagi kolonialis. Model serupa bisa dilihat dalam terbelahnya Mataram menjadi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Itu pun ternyata belum selesai. Sebab, setelah itu, kedua belahan Kesultanan Mataram itu masih terbelah lagi masing-masing menjadi 2. Ngayogyakarta Hadiningrat kemudian terbelah lagi dengan Pakualaman. Sementara Kasunanan Surakarta terbelah dengan dibentuknya Mangkunegaran. Proses terbelahnya Mataram hingga menjadi 4 juga karena perebututan kekuasaan dan intervensi kolonialis.”

Lantas, apakah model serupa Mataram dan Kesultanan Johor itu juga bisa ditemui di nation state saat ini, ketika –katanya- model pemerintahan semakin modern dan demokratis?

“Iya, Din. Ada,” kata seorang anak muda yang berkaus hitam bergambar laki-laki tampan, berjanggut tipis, dan mengenakan topi baret.

“Tidak ada makan siang gratis”, demikian salah satu aforisma dalam politik. Jika ada sebuah  pihak yang mendukung, membantu satu pihak dalam perebutan kekuasaan atau konflik,  bahkan hingga tingkat operasi lapangan, maka ada harga yang harus dibayar jika pihak yang dibantu memperoleh kejayaan.

Dalam istilah yang lebih halus dan modern, model intervensi para kolonial itu disebut pendukung logistik atau investor politik. “Silakan temukan model-model itu di berbagai level kekuasaan di negerimu,” kata Saridin.

 

Anak-anak muda itu saling menggeremang.

 

“Saat ini, tumbuhnya kebudayaan Islam terbatas pada lahan Masjid Sultan dan  kompleks Istana Kampung Glam, yang hanya seluas tanah pekarangan para petani di desa-desa di Jawa. Di kanan-kiri lorong masuk menuju Masjid sejauh lebih kurang 50 meter memang diisi oleh para pedagang cenderamata, restoran halal dan warung milik warga yang agak langka di Singapura.”

“Namun, dikanan-kiri lorong masuk itu, hingga satu blok, cafe-cafe berdiri dan memasang kursi tempat nongkrong hingga ke trotoar. Cafe-cafe yang menjadikan wisatawan Barat sebagai pasarnya. Kalian tentu paham, kan bagaimana lanjutannya. Puluhan -bahkan mungkin- ratusan cafe itu juga diisi oleh perempuan-perempuan berpakaian seksi, laki-laki mabuk dan musik yang berdentam. Masjid Sultan menjadi satu titik gelap di tengah kepungan riuh gemerlapnya kehidupan malam di daerah Bugis.”

“Tepat di depan Masjid, ada sebuah kios yang menjual aneka pakaian dan pernak-pernik souvenir. Di tengah kehidupan malam Singapura yang riuh, bersembunyi seorang laki-laki muda dari pedesaan Kediri yang bekerja tekun di kios itu.”

“Mas, enak ya, bisa sering-sering sholat di Masjid Sultan? Saya kalau mau sholat di sini harus keluar banyak biaya Mas, buat tiket pesawat, ongkos tinggal di sini, dsb, tanyaku kepada anak desa Kediri itu,”kata Saridin.

“Ah nggak, Mas. Saya jarang. Paling kalau Juma’tan saja, begitu jawabnya malu-malu.  Bos saya bukan orang Melayu.”

“Itu jawabannya yang membuat aku tercekat,” Saridin memandang anak-anak muda itu, matanya nanar ”Dulu, aku sampai berdoa agar diizinkan Allah untuk bisa kembali ke Masjid itu. Sementara dia yang berada di depan Masjid tak menikmati kedekatannya. Dan alasannya: Bos saya bukan orang Melayu. Kalian paham kan maksudnya?”

“Tradisi, kebudayaan dan kehidupan kita memerlukan tanah dan pelaku untuk terus hidup dan tumbuh. Kalau tanah kita serahkan kepada bangsa lain, demi kekuasaan yang hanya 5 tahun. Itu namanya pengkhianatan, Kawan!” seru Saridin kepada anak-anak muda itu.

“Maka, kalian harus berjuang untuk melawan pengkhianatan.”

Demi mendengar Saridin yang mulai mengoceh tidak jelas, berbau agitasi dan propaganda, anak-anak muda itu segera bubar.

“Pulang saja, daripada dipolisikan,” kata salah satu anak muda yang mengenakan kaus “DAGADU”.

 

. Prayogi R Saputra adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra