Kolom Jamaah

Ketika Pundakku Ditepuknya

Kemlagen #7

 

Oleh: Samsul Huda

Tidak cukup hanya lima, kami para santri PP Roudlotun Nasyiin Beratkulon sholat berjamaah dengan Romo Kyai sebanyak enam waktu. Lima untuk sholat wajib dan satu waktu sholat Dhuha. Sholat wajib bertempat di mushola pondok putra sedangkan jamaah sholat Dhuha dilakukan di mushola pondok putri.

Setiap jam enam pagi, Romo Kyai mbalah (ngaji) kitab turots di aula pondok putri. Pesertanya adalah santri putra maupun putri. Ada pula beberapa warga masyarakat yang istiqomah mengikutinya. Kajian ini berkelanjutan, begitu khatam langsung ganti kitab, demikian proses simultan itu berjalan sampai beliau wafat. Setelah selesai mengaji kitab, beliau tidak kundur ke ndalem, tetapi menunggu para santri putra berwudhu untuk sholat Dhuha berjamaah.

Beliau tipe manusia yang tidak banyak bicara, tetapi padat kerja. Beliau terkenal dengan kealimannya soal hukum fiqih karena kedalaman dan ketelitiannya membaca kitab kuning, terlebih lagi kitab yang terkait dengan hukum fiqih. Beliau dikenal dengan ahli ilmu ALAT (nahwu dan shorof), balaghoh, dan mantiq. Untuk memahami hukum-hukum syariat dalam kitab fiqih dibutuhkan penguasaan ilmu-ilmu tersebut secara mumpuni. Kesalahan dalam membaca “a” menjadi “u” atau mengubah arti dan makna menjadi sangat jauh. Misalnya kalimat  ضربت زينب   فاطمة. Kalau dibaca dhorobat zainaba fatimatu artinya, Fatimah memukul Zainab. Sedangkan kalau dibaca dhorobat Zainabu Fatimata artinya, Zainab memukul Fatimah. Jadi, perbedaan harokat “a” dan “u” itu akan menentukan mana subjek dan mana objek kalimat. Ini contoh ilmu nahwu. Sedangkan contoh ilmu shorof, dloroba artinya memukul (sekali pukulan) kalau dibaca  dlorroba artinya memukuli (memukul berulang kali).

Romo Kyai itu kalau bicara, singkat, tetapi padat dan berisi, jelas dan tidak ambigu. Kalau menginterogasi santri yang tidak mengaku atau bertele-tele jawabannya ketika melanggar aturan pondok sangat mudah bagi beliau—dengan metodologi ilmu mantiq-nya—menemukan kesimpulan jawaban.

Masa-masa ketika saya mondok, di mushola dan pondok belum ada alat pengeras suara. Adzan pun dilakukan tanpa pengeras suara. Walau demikian, semua santri bisa mengetahui dan tanpa diobrak mereka sudah bergegas mengambil air wudhu dan berjamaah. Sholat Dhuhur dan Ashar tidak selalu di awal waktu. Tetapi menunggu Romo Kyai berangkat ke mushola. Jarak rumah beliau ke mushola pondok putra sekitar 100 meter. Batas atau tanda waktu sholat berjamaah Dhuhur dan Ashar dengan  Kyai itu adalah, siapapun santri, begitu melihat Romo Kyai keluar dari ndalem dan berangkat menuju mushola maka mereka langsung balapan berwudhu dan adzan. Begitulah yang terjadi setiap hari, kecuali saat Romo Kyai sedang tindak (pergi).

Butuh waktu setahun bagi saya untuk tahu dan paham warna dan irama hidup keseharian pondok. Syahdan, ketika berada di kelas enam MI, saya melihat Romo Kyai keluar dari ndalem dan berangkat ke mushola untuk sholat Ashar. Saya lari dan bergegas wudlu agar bisa sholat berjamaah. Sesampainya di mushola ternyata belum ada yang adzan, maka adzanlah saya dengan suara dan lagu penuh totalitas dengan pedenya. Ternyata selama saya adzan, Romo Kyai berdiri di belakang saya dan memerhatikan dengan cermat bagaimana saya adzan. Begitu selesai, beliau menepuk pundak saya dari belakang. Saya kaget dan menundukkan kepala, hati terasa ndredek. Di tengah kegrogian itu kemudian beliau menatap wajah saya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Wajahnya menentramkan, tatapan matanya mengirimkan keindahan dan kedamaian.

Selanjutnya, masih dalam posisi berdiri dan hanya kami berdua—teman-teman belum datang, mereka masih berwudhu–, beliau menasihati saya. “Nek adzan iku, lagune kudu melok adzane. Ojo diwalek. Adzan melok lagu“, begitu nasehat beliau. Saya bengong, tidak paham apa yang dimaksudkan Romo Kyai. Beliau melanjutkan nasihatnya dengan memberi contoh “Asyhadu allaa ilaaaha illallaaaah…. kalimah “allaaaaaa” iku kudu diwoco dowo ora oleh diwoco cendek naaaak. “Alla” Ojo diwoco cendek. Kudu diwoco dowo” begitu Romo Kyai mencontohkan suara adzannya kepada saya. Peristiwa ini menjadi kenangan dan tersimpan di memori saya sampai hari ini.

Seperti baru kemarin peristiwa itu terjadi. Sungguh beliau adalah seorang murobbii. murobbi ruuhi. Bapak pengayom, pengasih, pengasuh, dan pendidikku.

Terima kasih Romo Kyai. Semoga ilmu dan nilai hidup yang engkau tanamkan di kebun diriku tumbuh subur, berbunga, dan lebat berbuah, sehingga bermanfaat dan berkah.

 رحمة الله تعالى عليك يا شيخي ومرب روحي نفعنا الله بك وبعلومك وبإيمانك وأعمالك وبركاتك وأمدنا بأسرارك في الدارين آمين.

—o0o—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto