Oleh : Prayogi R Saputra

 

Malam itu,  ah bukan! Tepatnya, dini hari itu, kami akan melakukan sholat malam serta berzikir. Lama. Biasanya hingga menjelang sholat subuh. Ada waktu sekitar dua jam untuk  istirahat sebelum sholat malam dimulai. Hanya istirahat, tapi tidak boleh tidur. Dalam beberapa hari terakhir, kami dipaksa untuk selalu dalam keadaan terjaga,  sejak sebelum maghrib hingga matahari terbit. Anak-anak muda yang telah beberapa tahun terlatih dalam kanuragan  itu pun semburat bertebaran. Tentu saja, larangan untuk tidur itu kami sambut dengan gembira. Hanya tidak boleh tidur. Sangat sepele dan kaleng-kaleng.

Selama tiga tahun, saya biasa direndam di sungai tengah malam, tidur beralaskan tanah becek, dilatih fisik hingga muntah-muntah, berlatih tarung dengan sesama teman yang seringkali menghasilkan cedera. Yang hingga hari ini pun masih sering terasa. Jadi, kalau hanya dipaksa tidak boleh tidur, maka itu seperti ngemil kacang goreng sambil ngebut di  jalan tol Madiun-Surabaya.

Untuk mengisi waktu dua jam itu, ada kawan yang memilih tinggal di serambi masjid saja. Mengobrol. Berbisik-bisik. Ada yang pergi ke pelataran masjid, rebahan. Ada yang ke serambi samping. Atau duduk-duduk di bawah pepohonan. Ada yang rebahan di halaman. Ada yang pergi mengambil bekal minum atau makan.

Seseorang yang berambut cepak, agak pendek tapi kekar mendatangi serambi sisi selatan masjid. Tempat saya dan beberapa kawan memilih mengobrol sambil tiduran. Dia mengajak kami untuk ziarah ke makam  Kiai Hasan Ulama. Pendiri pesantren ini. Yang letaknya hanya di situ juga. Di kompleks pesantren. Mungkin, nama beliau, yang dalam sandiwara radio Serigala Mataram, disebut  sebagai Kiai Takeran. Yang kelak cicitnya akan jadi pengusaha media.  Orang yang kaya-raya. Tapi sederhana. Pengikut tarekat.

Cucu Kiai Hasan, konon kabar burungnya, pernah ditawari Soekarno jadi Menteri Agama. Ketika Republik baru merdeka. Tapi beliau memilih tetap di pesantren. Dan menyarankan “Mas Wahid Hasyim saja.”  Tiga tahun kemudian. Pada suatu hari Jumat. Selepas sholat Jumat. Cucu Kiai Hasan ini dijemput oleh laskar FDR. Bersama seorang ustadznya, dibawa naik jeep entah kemana. Dan sejak siang itu, beliau tak pernah pulang. Mayatnya pun tak pernah ditemukan. Seorang kiai progresif, yang mati muda. Di usia 28 tahun.

Anak muda yang mengajak kami ke makam Kiai Hasan tadi adalah santri mukim di pesantren ini. Pesantren ini besar. Jaya. Sering didatangi para pejabat negara. Bahkan, di sampingnya berdiri proyek Yayasan Dharmais. Di lahan yang sangat luas. Kabarnya, di situlah para calon transmigran transit. Atau dikarantina. Tapi entah mengapa, tak banyak santri mukimnya. Walaupun sekolah formalnya sangat terkenal dan punya murid ribuan.

Saya ikut kerumunan anak-anak yang pergi ke makam. Untuk berkirim doa. Bagi orang yang dihormati. Waktu itu, saya belum mendengar orang yang menyalahkan orang lain yang pergi ziarah ke makam. Dan membaca tahlil. Si pendek kekar duduk di barisan paling depan. Di luar cungkup makam. Sedangkan kawan-kawan lain berbaris di belakangnya. Saya memilih duduk di barisan paling belakang. Menghadap ke barat. Dengan baju hitam dan celana hitam. Serta sabuk kain warna putih yang sudah menjadi kecoklatan. Sama seperti semua anak yang ada di situ.

Kabarnya, Kiai Hasan Ulama, pendiri Pesantren Takeran ini, adalah salah satu putra Kiai Khalifah, pejuang perang Jawa. Begitu Pangeran Diponegoro dijebak oleh Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock.  Dalam sebuah silaturahmi Idulfitri. Lantas dibuang ke Manado. Para pejuang Selarong tidak melanjutkan perang. Mereka pun pergi. Menyingkir. Menyebar ke berbagai arah. Sebagian dari mereka melintasi gunung Lawu. Lantas menetap di pedesaan di sisi timur gunung Lawu.

Di desa-desa itu, mereka umumnya membuka kelas dan mengajarkan tentang Islam  kepada penduduk. Nama Hasan sendiri konon bukan nama sebenarnya. Itu hanya sebuah kode yang menunjukkan bahwa pemilik nama itu bagian dari jejaring pejuang perang Jawa. Sama halnya seperti pohon sawo yang ditanam di pekarangan.

Saya duduk saja dalam suasana remang lampu dari kejauhan. Pengetahuan agama saya tidak cukup memadai untuk ikut membaca bacaan tahlil yang panjang-panjang. Di antara suara menggeremang itu, samar-samar terdengar suara gemuruh air. Gemuruh itu berasal dari bendungan Jati. Yang jika ditarik garis lurus, mungkin  jaraknya 5-6 km dari tempat saya duduk. Sementara Tjigrok, rumah beberapa gembong PKI, ada di tengah-tengahnya.

Sampailah kami semua,  para calon pendekar itu, pada bacaan tahlil. Lā ilāha illa l-Lāh. Yang harus dibaca sekian ribu kali. Repetisi. Dengan irama tertentu. Disertai goyangan kepala. Yang bergerak secara auto. Tanpa  disengaja. Hingga lambat laun. Bacaan tahlil itu terdengar seperti diucapkan “i lo heng! i lo heng!  i lo heng”. Bercampur dengan suara gemuruh air. Dari bendungan Jati.

Di tengah suara yang ritmis itu. Saya terbayang perjuangan selama tiga tahun. Hingga suara-suara itu seperti tak terdengar di telinga. Ketika kami direndam di sungai. Yang setiap harinya digunakan untuk ngguyang kerbau, atau sapi. Terbayang juga ketika di hari minggu pagi,  kami diajak lari-lari di jalan raya, dengan baju belepotan lumpur, di antara anak-anak muda yang bersepeda. Berdandan cantik-cantik. Ganteng-ganteng. Pelesir ke gunung Bancak.

Juga terbayang ketika suatu malam minggu kami diajak lari keliling oleh pelatih. Dua puluhan orang kawan. Lantas Kemin, pelatih itu, memilih jalur ke selatan. Ke tempat latihan  perguruan silat Bunga-Bunga. Tanpa kami tahu, ternyata Kemin punya rencana jahat. Atau nekad. Setiba di depan rumah Pak Lurah desa sebelah, tempat latihan silat Bunga-Bunga, kami disuruh terus berlari. Sementara dia seorang diri mampir ke halaman  rumah Pak Lurah. Bukan untuk ngopi, tapi langsung menyerang pelatih Bunga-Bunga. Yang sedang melatih sekitar sepuluh orang. Dengan sebuah jab tepat di hidungnya. Tak ada perlawanan. Hanya ada sekali teriakan. Darah menetes dari hidungnya. Lantas mereka semua lari, masuk ke dalam rumah Pak Lurah. Sementara kami terus berlari-lari kecil.

Terbayang pula ketika sebuah kampung di Kawedanan diserbu oleh ribuan orang. Hingga semua kaca rumah di kampung itu pecah berantakan. Hingga di pagi harinya, mobil pick up keluar masuk kampung itu mengangkut pecahan kaca. Lantas keesokan harinya, para senior saya menghilang dari rumah. Ada yang ditangkap polisi. Ada yang lari ke Kalimantan. Jumlahnya ratusan. Hingga latihan kami dibekukan.  Tentu saja hanya di atas kertas. Sebab, di lapangan, kami tetap latihan. Meskipun diam-diam.

Hingga sebuah bentakan mengagetkan saya. ,”Hayo! Wiridan atau tidur???” Ah, Bukan! Ternyata bentakan itu tak hanya mengagetkan saya, tapi mengagetkan kami semua. Semua langsung tergagap. “Turu ae!!!” tendangan pun segera menghantam tubuh beberapa kawan. Bak!!! Bukk!!! Bak!!! Bukkk!!! Tak ada yang lari. Tak ada yang menghindar. Kami salah. Dan wajib menerima hukuman. Kami pun segera dibariskan. Tak ada yang bicara. Hanya bisik-bisik saja.  Ternyata, di tengah ritmis suara i lo heng, semua ketiduran. Bahkan si imam tahlil. Yang anak pondok mukim itu.

Bayangan tentang perjuangan langsung hilang. Berganti dengan bayangan, tentang hukuman.*

 

Prayogi R. Saputra : adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra