• Prolog BangbangWetan Februari 2017 .

Kata konjungsi dikenal setidaknya dalam dua disiplin ilmu, yakni astronomi/astrologi dan linguistik/bahasa. Dalam astronomi/astrologi, konjungsi digunakan untuk menggambarkan sebuah kondisi dimana dua atau lebih benda langit berada pada satu garis dengan pusat sistemnya. Yang lebih umum dikenal adalah konjungsi planet-planet. Misalnya pada sistem tata surya kita, bumi dengan Mars berada pada satu garis lurus dengan matahari, atau planet satu dengan planet yang lainnya tanpa saling membahayakan. Perjalanan setiap benda langit pada orbitnya masing-masing meniscayakan konjungsi ini.

Hal ini tentu menjadi sebuah fenomena astronomi yang menarik, apalagi konjungsi yang terjadi melibatkan lebih dari 2 atau 3 benda langit sekaligus. Fenomena ini melahirkan perhitungan matematis yang salah satunya berupa kalender. Pada sisi astrologi, ada yang melakukan pendekatan kosmis dan mencurigai adanya keselarasan dan kesesuaian gelombang energi pada setiap peristiwa konjungsi, sebagai salah satu mekanisme semesta menjaga kesetimbangannya.

Sedangkan dalam ilmu bahasa, konjungsi merujuk pada kata sambung yang menghubungkan dua atau lebih kata atau kalimat, sehingga memberikan kejelasan atau kepastian maksud dari rangkaian kata atau kalimat tersebut. Setiap kata dan kalimat tetap mandiri sebagai dirinya sendiri. Namun dalam interaksinya dengan kata atau kalimat lain, ia adalah satu kesatuan yang harus jelas maknanya sehingga bisa dipahami. Untuk menjadikannya sebagai sebuah kesatuan inilah, konjungsi menjadi signifikan keberadaannya. Ia menjadi perekat tanpa harus mempengaruhi kemandirian masing-masing kata atau kalimat yang disambungkannya.

Sekarang ada baiknya kita menengok ke dalam sistem sosial saat ini, apalagi sejak arus deras gelombang informatika membanjiri ruang  privat manusia. Bolehlah melihatnya dari sisi ekonomi, politik, maupun sosia kemasyarakatan. Kesenjangan ekonomi maupun comberan politik tampak semakin jelas dan nyata. Meminjam istilah astronomi maupun bahasa, semakin terang benderang bahwa dalam materialisme, konjungsi sosial semakin luntur dan nisbi. Baik sebagai keselarasan dan harmoni maupun sebagai rekatan atau persambungan sosial.

Labelling dan paket sejarah semakin ketat mengurung manusia, sehingga individualisme semakin membesar bentuknya, menegaskan alienasi setiap orang terhadap orang di luar diri atau kelompoknya. Pekerjaan filantropi ataupun kegiatan kemanusiaan lebih tampak sebagai keterpaksaan dan pencitraan belaka, karena lahir tidak dari rahim konjungsi sosial yang substantif.

Salah satu contohnya adalah ketika setiap orang “nggolek slamet’e dewe“, mencari dan mengupayakan habis-habisan keselamatannya sendiri, yang seringkali mengabaikan keselamatan orang lain. Keselamatan ini bisa anda ganti dengan kekayaan, kesenangan, keamanan, ataupun kenyamanan. Sepintas tidak ada yang aneh dari prinsip ini, namun dalam konversinya menjadi tindakan nyata, ia lebih bersifat destruktif secara sosial.

Bagaimana orang mengendarai kendaraannya, melakukan pekerjaan sehari-hari, bahkan hingga membangun rumahnya. Saling serobot di jalan, saling sikut di kantor, atau keberadaan rumah kita yang menghalangi sinar matahari ke rumah tetangga adalah hal yang bisa terlihat nyata. Bahkan dalam konstelasi ukhuwah saat ini, alienasi itu semakin terasa keberadaannya, justru di tengah jargon dan hiruk pikuk kesatuan dan kesrtaraan. Setiap pihak makin menegaskan keterasingan dan ketidaksukaannya terhadap pihak lain.

Dalam skala yang lebih global, Stephen Hawking, seorang fisikawan ternama bahkan memberikan peringatan keras bahwa masa-masa sekarang adalah saat paling berbahaya dan menentukan bagi planet kita. Ia menambahkan bahwa otomasi industri, akselerasi teknologi internet, percepatan kecerdasan buatan (artificial intelligent) dan pencapaian lainnya sangat mengagumkan, namun bisa sangat merusak dan destruktif secara sosial. Brexit dan Trump adalah representasi bahwa banyak orang menginginkan dan mencoba alternatif lain daripada bertahan pada kondisi status quo.

Kenyataan-kenyataan faktual semacam itulah yang akan kita perbincangkan bersama untuk setidaknya bisa meningkatkan alert system diri dan komunal. Sedikt banyak kita akan membahasnya dalam perhelatan kemesraan bulanan: BangbangWetan.

Red : TEMA / ISIM BangbangWetan