Nelson Mandela: Kebencian adalah seperti meminum racun dan berharap musuhmu yang terbunuh

 

Syahdan, ada seorang mahasiswi  Universitas Negeri Yogyakarta yang diajak sahabatnya untuk hadir di Mocopat Syafaat. Entah bagaimana caranya, gadis asal Kulonprogo itu mau ikut. Sebab, melihat penampilannya saja, rasanya agak mustahil dia akan mau ikut ke Mocopat Syafaat. Saat itu memang sedang kencang-kencangnya kampanye mahasiswa direkrut menjadi  kader gerakan tertentu dengan model kampanye “ayo nikah dini atau  hijrah” dan pilihan bahasa pergaulan  “antum dan ana, ikhwan dan akhwat” yang bisa bikin nyali anak muda seperti Saridin yang blekak-blekuk dalam ngaji mendadak mengkerut. Dan gadis itu adalah salah satu simpatisannya. Sebut saja namanya Aniez.

 

Aniez adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Dia bersahabat dengan Menuk, mahasiswi jurusan  Bimbingan Konseling. Mereka tidak tinggal satu kos tapi akrabnya seperti tempe mendoan dan lombok-nya. Menuk inilah yang mengajak Aniez hadir di Mocopat Syafaat. Sebetulnya Menuk juga “anak baru” di Mocopat. Awalnya dia diajak mantan pacarnya ke Mocopat, sekali, dua kali, lantas ketagihan. Karena ingin berbagi pengalaman dan kegembiraan dengan sahabat karib, maka Menuk mengajak Aniez.

 

Pengalaman malam pertama di Mocopat Syafaat, Aniez dongkol. Dia protes keras kepada Menuk. Atau lebih jelasnya kritik salah alamat. Aniez keberatan dengan Cak Nun dan model Mocopat Syafaat yang katanya pengajian tapi isinya kok begitu: ada gojekan, ada musik, ada kata-kata kasar, dan bgrhgfhgghfgghf.  Namun, karena merasa bahwa yang mengajaknya ke Mocopat Syafaat adalah Menuk, maka kedongkolan itu ditumpahruahkan seluruhnya kepada Menuk. Menuk yang basah kuyup disiram oleh kedongkolan Aniez, merespons dengan sok polos dan cengar-cengir saja. Tapi uniknya, bulan berikutnya di tanggal 17,  Aniez kembali ikut ke Mocopat Syafaat. Entah ditawari atau menawarkan diri ikut kepada Menuk.

 

Pengalaman malam kedua di Mocopat Syafaat, sama saja. Aniez tetap keberatan dengan gaya Cak Nun dan model Mocopat Syafaat. Dia masih memprotes, tapi lebih terkesan ngedumel pada dirinya sendiri. Pulang dari Mocopat Syafaat, Aniez kembali menumpahruahkan uneg-unegnya kepada Menuk.  Dia membahas materi Mocopat Syafaat dan menyampaikan dengan terstruktur apa-apa yang membuat dia tidak setuju, keberatan bahkan ingin memprotes Mocopat Syafaat. Mungkin, selama 30 hari, dia terus-menerus kepikiran dengan Mocopat Syafaat yang ingin dibencinya. Hingga ketika tiba malam 17 di bulan berikutnya, dia kembali ikut Menuk ke Mocopat Syafaat. Mungkin, dia benci kepada Cak Nun dan Mocopat Syafaat, tapi diam-diam merindukan.

 

Entah hingga berapa kali Aniez hadir di Mocopat Syafaat dan tetap berada pada situasi rumit: secara rasional dia benci kerena telah didoktrin untuk memakai cara pandang tertentu dan melawan cara pandang itu berarti dia terancam akan disingkirkan dari komunitasnya. Akan tetapi dari dalam palung hatinya, dia menikmati berada di Mocopat Syafaat, mendengar suara Cak Nun dan tumbuh semacam rasa kangen yang tak terumuskan.

 

Hingga setelah sekian bulan, entah bagaimana kejadiannya, dia bersemangat menghidupi Mocopat Syafaat dengan turut mengurus Buletin Mocopat Syafaat yang sederhana itu. Ikut menulis, mengedit, mungkin juga kadangkala mentraktir atau memasakkan mie instan untuk temannya yang sedang bekerja.

 

Jadi, saran Saridin kepada anak-anak muda, jangan pernah membenci sesuatu. Apalagi menghinanya habis-habisan di depan publik. Karena bisa jadi, suatu ketika, engkau akan sangat merindukan berada di pelukannya. Dan jika engkau terlanjur habis-habisan memakinya dan merasa gengsi untuk mengakui kekeliruanmu, maka bersiaplah mengalami kesepian yang dalam. Teramat dalam. Seperti sepotong “sajak” Nelson Mandela: Kebencian adalah seperti meminum racun dan berharap musuhmu yang terbunuh

 

Prayogi R. Saputra   

Penulis buku Spiritual Journey  Emha Ainun Nadjib. Tinggal di Malang, aktif di Majelis Masyarakat Maiyah Relegi.