Redaksi

KUDETA GRAVITASI : MEREBUT KEMBALI FITRAH MANUSIA

img_1795

Catatan : Kudeta Gravitasi : BangbangWetan Nov 2016 , Pendopo Cak Durasim Surabaya

Pendopo Cak Durasim Surabaya Selasa (15/11/2016) malam menjadi saksi renyahnya perjalanan diskusi Forum Bangbang Wetan yang bertajuk Kudeta Gravitasi.

Sebagai pembuka, jamaah diajak untuk mendiskusikan artikel Cak Nun yang berjudul Umat Islam Dijadikan Gelandangan di Negeri Sendiri. Beberapa jam kemudian, diskusi mulai bergulir ke arah pembahasan utama, ditandai oleh kedatangan para marja’ Maiyah, yaitu Pak Toto Rahardho, Kyai Muzzammil, dan Mas Sabrang. Cak Suko, sang pemandu acara, meminta Mas Acang mengiris kulit tema dengan menjelaskan makna Kudeta Gravitasi yang telah digagasnya.

“Yang dimaksud gravitasi di sini adalah gravitasi Tuhan. Dewasa ini, gravitasi Tuhan banyak dilanggar, sehingga membuat manusia tergelincir. Padahal, ketika sesuatu tidak patuh pada gravitasinya, ia akan berpotensi untuk menabrak, karena tidak mengorbit pada garis edar yang telah ditetapkan Tuhan. Oleh karena itu, Maiyah berusaha mengembalikan atau merebut kembali orbit kita yang selama ini terkontaminasi. Inilah yang disebut kudeta. Perubahan secara radikal.” Kurang lebih, demikian penjelasan yang disampaikan Mas Acang.

Pisau analisa dalam diskusi mengiris semakin dalam menuju inti, ketika para marja’ satu per satu sekaligus saling bersahutan akrab, menyampaikan buah pikirnya masing-masing.

“Gravitasi itu ilusi. Sesungguhnya yang ada adalah bumi membuat ruang dan waktu agar mempunyai jalur. Kita mengikuti jalur yang sudah dibikin Tuhan itu. Jadi, kalau manusia tertarik pada sesuatu, sebenarnya ia tertarik pada apa yg kosong dalam dirinya. Tertarik uang, karena dikatakan kebahagiaan disebabkan oleh uang. Akhirnya, jadilah manusia mengejar-ngejar uang.” Itulah salah satu pemikiran Mas Sabrang mengenai gravitasi.

Selanjutnya, tiba giliran Kyai Muzzammil memaknai gravitasi. Seperti biasa, beliau merujuk pada ayat-ayat Al Quran; kali ini ayat di dalam surat Al Mursalat dan surat Al Fathir. Bila disarikan, di ayat tersebut menyatakan bahwa Alloh mengumpulkan dan menahan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, supaya langit dan bumi tidak tergelincir

“Mbah Nun pernah berpesan supaya kita berpikir dan berperilaku gravitatif. Berpikir lurus kepada Allah. Gravitasi adalah simbol aturan yang ditetapkan Allah. Kalau kita tidak patuh sama hukum Allah, maka pasti akan dikudeta oleh Allah. Caranya macam-macam. Sebab Allah bersembunyi di balik daun, gunung, angin…”

Sementara itu, Pak Toto Rahardjo menghubungkan gravitasi dengan era globalisasi, di mana telah terjadi banyak ilusi yang seolah menawarkan surga, tetapi sebenarnya menawarkan neraka bagi masyarakat.

“Kapitalisme diilusikan sebagai pembangunan. Hutang diilusikan sebagai bantuan. Jadi intinya, globalisasi itu melawan gravitasi Allah. Puasa adalah jurus umat Islam untuk mengatasinya.”

Saat waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, diskusi Kudeta Gravitasi ini pun diakhiri dengan pembacaan doa bersama. Akhirnya, para jamaah pulang dengan ditemani bulan purnama yang tampak masih enggan beranjak pergi dari langit menjelang subuh.

Red : ew/wd