– PROLOG BANGBANGWETAN NOVEMBER 2016 –

Secara sederhana, gravitasi bisa didefinisikan sebagai gaya tarik sebuah benda terhadap benda lain. Formula Newton mengenai gravitasi menunjukkan dua hal utama yang mempengaruhi kuatnya gaya gravitasi, yakni MASSA dan JARAK. Semakin besar massa dan semakin dekat jaraknya, maka gaya tariknya semakin besar.

Gravitasi seringkali dikaitkan dengan benda-benda langit, dimana bumi adalah salah satunya. Gravitasi setiap benda langit dalam interaksinya dengan benda langit lainnya, adalah yang menjaga semua pada orbitnya. Ketidakseimbangan gravitasi pada masing-masing benda langit akan membuatnya keluar dari orbitnya dan akibat terburuknya adalah saling bertabrakannya satu sama lain. Gravitasi adalah salah satu sunnatuLlah sebagai bentuk penjagaan Allah atas semesta. … wasi’a kursiyyuHu as-samâwâti wal-ardhl wa lâ yaûduhu hifdhzuhumâ wa Huwa al-‘aliyyu al-‘adhzîm. Dan ketika Allah memerintahkan langit dan bumi mendekat kepadaNya dengan taat atau terpaksa, langit dan bumi memilih untuk taat.

Meniscayakan mikro kosmos – makro kosmos, jagat alit – jagat ageng, fenomena gravitasi juga sebenarnya bisa disebut terjadi pada kehidupan manusia. Sebagai bagian dari semesta, setiap manusia maupun peristiwa juga memiliki gravitasi masing-masing. Sudah selayaknya dan sepatutnya semua mengorbit pada Ultimate Gravity, yakni gravitasi syari’at Allah sebagai Sang Maha Sangkan Paran. Namun perjalanan kita sebagai manusia dimana di dalamnya berayun pendulum kehidupan, menyebabkan perubahan yang dinamis pada “jarak” maupun “massa” kita masing-masing, yang akhirnya berdasarkan hukum fisika gravitasi, mempengaruhi gravitasi kehidupan kita. Ini dari sisi internal kita. Dari sisi eksternal, hal-hal lain di luar kita, juga memiliki ”jarak” dan “massa” sendiri yang pada interaksinya bisa mempengaruhi kita. Fenomena, peristiwa dan kahanan dalam kehidupan juga demikian.

Peradaban Ngelmu Katon, kebudayaan Panca Indera, atau mekanisme Kasat Mata yang terjadi saat ini berpotensi sangat besar menggelincirkan kita dari gravitasi Tuhan, dan menarik kita keluar dari orbit kemakhluqan. Seolah-olah yang dialami sebagai kenyataan, kenyataan yang diseolah-olahkan. Materialisme disajikan dengan jubah agama, kekuasaan transaksional diagung-agungkan sebagai kepemimpinan, surga diterjemahkan sebagai neraka, neraka dipoles seindah surga, penggusuran berwajah pembangunan dan sejuta kamuflase nan syubhat ilmu dan pengetahuan yang tampak kasat mata. Itu semua semakin melemahkan “massa” kemakhlukan kita dan memperjauh “jarak” kita dari Tuhan. Goncangan gravitasi ini otomatis mengganggu tanggung jawab gravitatif seseorang, baik sebagai individu, bagian keluarga maupun bagian dari masyarakat dalam skala RT hingga negara. Pun demikian, hukum alam tetap berlaku. Ia yang tergelincir dari orbitnya, akan bergerak tak tentu arah. Jika jumlahnya ratusan, ribuan dan bahkan jutaan manusia, benturan-benturan tak terhindarkan. Benturan kebudayaan, benturan ideologi, benturan sosial politik, benturan sosial budaya dan tak jarang benturan fisik berupa perang menyabung nyawa sebagaimana dipentaskan di Timur Tengah.

Maka, Maiyah melakukan langkah radikal dan fundamental. Yakni Kudeta Gravitasi, merebut kembali kedaulatan diri, Kedaulatan Manusia Maiyah. Menambah “massa” diri dengan ilmu dan lelaku pembelajaran serta terus mendekatkan “jarak” kepada Sang Maha Inti, sehingga gaya gravitasi manusia Maiyah terus semakin kuat dan tidak mudah terseret gaya gravitasi lain yang menjauhkannya dari keabadian. Ini adalah langkah jalan panjang, rakaat-rakaat yang membutuhkan secara mutlak pemikiran dan perhitungan panjang, energi simultan, stamina tangguh, tidak sumbu pendek, strategi komprehensif, presisi skala dan prioritas, serta yang terpenting adalah cinta dan setia kepada firman Allah. Untuk itu manusia Maiyah berkumpul bukan untuk motif-motif adigang-adigung-adiguna melainkan nylulup pada dimensi, kekuatan, aura, energi, probabilitas “min haytsu lâ yahtasib”, immanensi “inna nahnu nazzalnadzdzikro wa inna lahu lahafidhzûn”, rahasia “wamakaru wamakaraLlâh wLlâhu khoyrul mâkirîn

Dalam forum BangbangWetan bulan November yang juga merupakan bulan perjuangan arek-arek Suroboyo, kita kembali melingkar bersama untuk saling belajar bagaimana memperkuat kuda-kuda nilai dan dasar pijakan untuk menempuh rakaat jalan panjang kudeta gravitasi ini.

Rujukan :