Sonya Ramadlan

LABIRIN

Untuk saya yang belum terbiasa tinggal di kampung dengan gang-gang sempit berliku, Bulan Ramadan turut menambah tantangan tersendiri. Bagaimana tidak, gang yang sekadar untuk simpangan pada hari biasa sudah membutuhkan keahlian menyetir tertentu, pada saat Ramadan, keahlian itu harus ditingkatkan berkali lipat.

 

Mulai ba’da Ashar hingga ba’da Maghrib, gang ini banyak berubah menjadi pasar dadakan yang umumnya menjual berbagai makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Tak jarang pasar dadakan ini harus ditutup total dari kendaraan demi keamanan dan kenyamanan pengunjung pasar. Memasuki aktu Isya’, gang yang berada tepat di depan Masjid atau Musholla kembali ditutup total untuk mengakomodir jamaah Salat Tarawih yang biasanya pada minggu pertama Ramadan membludak hingga tak bisa masuk ke ruang utama.

 

Bayangkan, hanya untuk sekadar keluar kost menuju jalan raya, saya harus berputar berliku-liku melewati gang-gang sempit yang pada hari biasa sangat jarang bahkan baru pertama kali saya lewati. Biasanya saya percaya pada feeling untuk mencari jalan termudah dan terdekat. Terkadang juga saya mengikuti sukarelawan penunjuk jalan. Atau daripada susah-susah, saya ikuti saja arus kendaraan terbanyak.

 

Beginilah hidup, sering kali kita mudah sekali belok (atau dibelokkan) dari jalan yang seharusnya. Ikut arus atau suara terbanyak padahal belum tentu itu yang benar. Akhirnya kita sendiri yang kebingungan karena harus belok kiri, belok kanan, bahkan putar balik untuk menuju Sang Maha Raya.

 

Tergelitik oleh uraian Mbah Nun tentang ayat keenam surah Al-Fatihah yang wajib kita baca dalam tiap Salat. Ihdinashirratal mustaqim, yang bermakna tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Sebuah sindiran halus bagi manusia agar selalu eling bahwa kita sebenarnya bisa dengan sangat mudahnya tergelincir salah arah, sehingga harus selalu memohon pada Allah ‘Azza Wa Jalla untuk diberi petunjuk. Masihkah ada alasan untuk menyombongkan diri!? Sedangkan untuk mencari jalan saja kita masih kebingungan.

 

Seperti idiom ‘banyak jalan menuju Roma’, jalan yang bisa kita lewati di dunia ini memang sangat banyak. Ada yang lurus, ada pula yang berliku. Ada yang lapang, ada pula yang sempit. Kembali ke diri masing-masing untuk memilih jalan yang mana. Toh pada akhirnya semua tertuju pada yang Esa. Al-Awwalu sekaligus Al-Akhiru.

 



Oleh ; Wahyoko Fajar

*) Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Bisa disapa melalui akun twitter @wahyokofajar