Kolom Jamaah

Lahirnya Kembali Budaya Sengkuyungan

Oleh: Agung Tri Laksono

Tiga tahun sudah saya tinggal di Jepara, dengan catatan penting diterapkannya sekat pembatasan interaksi sosial karena pandemi selama dua tahun. Menikmati hari-hari sunyi di tempat yang jauh dari lingkungan yang telah memberikan kesempatan bertumbuh hingga melampaui angka 40 tahun.

Sebelumnya, di kurun waktu 2006 hingga 2018, saya hampir tidak pernah absen menikmati hangat dan segarnya ilmu Maiyah di BangbangWetan dan tak jarang pula sowan ke sumur PadhangmBulan. Sepi-kering ini pula yang kemudian saya coba obati dengan mencoba bersilaturahmi sana sini, anjangsana ke berbagai simpul/komunitas yang ada.

“Maiyah bukan baju, Maiyah bukan golongan, Maiyah itu Energi, Maiyah adalah frekuensi.”

Dari sinilah kemudian saya dipertemukan dengan banyak lingkaran kecil sefrekuensi Maiyah. Pintu masuknya adalah bermacam bidang. Di antaranya adalah kesamaan minat di pertanian, penyelenggaraan pendidikan formal maupun non formal, dan berbagai kegiatan seni-budaya. Sebagai katalisator dan usaha mengakselerasi ketersambungan, saya sering menyebut diri sendiri sebagai “Santri Maiyah”. Meski di skala yang lebih besar saya memilih menyimpan rapi identitas ke-Maiyah-an.

Budaya sambatan (gotong royong) di Jepara masih sangat kuat. Di kehidupan sehari-hari, ketika membangun rumah misalnya, masih sering dilaksanakan secara sambatan. Khususnya ketika menggali pondasi dan naik atap. Pada tataran yang lebih besar, misalnya pada lingkup desa, dikenal sedekah bumi desa. Setiap elemen masyarakat akan sengkuyungan untuk mensukseskan acara tersebut. Ada yang urun tumpeng, makanan, mempersembahkan arak-arakan, dan pertunjukan aneka kesenian. Pada suatu kesempatan, saya juga sempat dipertemukan dengan Artsotika Muria #3 (perhelatan yang mirip dengan Festival Lima Gunung yang di inisiasi oleh Mbah Tanto Mendut). Seniman dari tiga Kota (Jepara, Kudus, dan Pati) sambatan untuk acara tersebut.

Budaya yang meski tidak subur tapi masih ada yang melakukan itu di sini, di desa yang belum tercemar budaya kota. Di Jepara kota saja hampir tidak ada, apalagi di kota metropolitan seperti Surabaya. Hal yang anomali sebuah pertunjukan besar dilakukan di jantung Kota Surabaya dengan cara sengkuyungan. Benar-benar sengkuyungan dari berbagai elemen Masyarakat, bukan dari satu funding/sponsor Besar. Penghelatan WaliRaja RajaWali tentu tidak bisa hanya dimaknai sebagai Konser Pertunjukkan an sich. Banyak dimensi yang semoga bisa menjadi bahan ajar masyarakat ke depan. Salah satunya sengkuyungan.

Selamat menikmati indahnya berproses.

Jepara, 21 September 2022.

Agung Trilaksono : Penggiat BangbangWetan. Pemegang sabuk hitam di sebuah aliran bela diri. Baginya, bekerja bukan untuk mencari rejeki melainkan untuk mendapat percikan barokah dari rejeki. Bisa dihubungi di Facebook dengan nama akun : Agung Trilaksono

Leave a Reply

Your email address will not be published.