SETELAH LAMA RUMPUT TAK TUMBUH DI SABANA


Oleh : Ahmad Baharuddin Surya
/ Surabaya 21 April 2017

/1/

Setelah lama rumput tak tumbuh di sabana.

Kini dia tumbuh subur di tempatnya.

Sekian lama akarnya hilang, sekarang tumbuh dengan sendirinya.

 

/2/

Kalau memang akar kebodohanmu adalah kebohongan Diatas kejujuran.

Bukan kerelaan hati untuk mengabdi.

Kalau memang kebutuhanmu adalah mengharap rembulan datang pada sinar kegelapan, ketika itu kau ditikam nafsumu sendiri.

Begitu pula ketika kau melihat mentari lari dari kegelapan, dan seketika itu pula tubuhmu jauh dari bising keramaian.

 

/3/

Mereka kau sangkarkan pada wajah kepolosan.

Sedang kau tidur seakan sunyi pendengaran.

Keramaian tak kau acuhkan.

Dengan segelintir sunyi di pikiran.

 

/4/

Mata kami kau tidurkan.

Telinga kami kau sumpal atas nama Tuhan.

Bukannya kerelaan hati untuk merundingkan titik temu.

Tapi seakan kau lupa dengan jiwamu yang tak pernah bersatu.

 

/5/

Jiwamu rusak terhempas nafsumu sendiri.

Akalmu cacat tersayat atas jalanmu sendiri.

Kami rindu bebas meluncur di awan.

Dengan angan-angan kebahagiaan.

 

/6/

Anak-anak kecil hanya kau bimbing untuk bermimpi.

Sampai tak bisa bermimpi lagi.

Janjimu memikat nafsu di alat pejantan mereka saat tidur.

Lalu menghasilkan setetes air mani yang jatuh saat dia mimpi basah.

Tapi itu semua hasil kepribadianmu.

Yang sekental mani.