Kolom Jamaah

Laron Di Sudut Kontrakan

Cerpen oleh:  Budi Rustanto

Tarjo meminyaki rambutnya. “Tampan, meski tak setampan Kanjeng Yusuf AS,”  batinnya berujar.

“Mau ke mana, kamu? Pagi buta begini kok sudah berpakaian seperti mursyid thoriqoh…”, Joni menyambutnya di teras dengan bertelanjang dada. Gerah betul rupanya pagi ini.

“Mau ketemu Gusti Allah, Jon.” Tarjo menyahut.

Dengkulmu, Jo, Jo. Memangnya kamu siapa? Nabi, bukan. Wali, pun belum. Ngapain Gusti Allah mbelani merendahkan Maha TinggiNya buat nemuin japemethe macam kamu?”

“Mulutmu itu yang sok tahu. Memangnya Gusti Allah itu hanya boleh ditemui sama Nabi dan Waliyullah? Kremi Babi macam kita ini, kalau sungguh-sungguh, lillahi ta’ala ingin bertemu, sah-sah saja. Lagipula, kenapa Gusti Allah harus merendahkan DiriNya? Aku yang akan menuju ke HadiratNya. Jangan seperti muallaf kemarin sore, Jon. Tinggi rendah itu hanya berlaku bagi makhluk. Sama Gusti Allah, kok, main takaran makhluk. Goblokmu itu gak habis-habis.”

“Ya, ya. Terserah Sang Maulana saja. Hamba ini, kan, cuma Kremi Babi,” timpalnya, “Terus, nanti kamu sahur di mana? Aku sudah masak nasi banyak tadi sore.”

“Ya, sahur di kontrakan, memangnya ada masjid di sini yang sedia sahur gratis?” Tarjo menjawab, “Sudah, aku berangkat dulu. Nanti kalau Mirna ke sini, kamu terima saja ransumnya, dia masak lauk buat kita.”

Langkah kaki Tarjo semakin meninggalkan kontrakan di sudut gang itu. Memang  tak terlihat mewah jika dibandingkan rumah para tetangga. Bangunan seluas 48 m² hanya diisi dua orang saja, sesekali 3-5 orang jika kawan jauh mereka sedang bertandang. Tapi, hingga mendekati hadirnya Lailatul Qadr, tak ada satupun kawan yang datang. Padahal biasanya seminggu bisa 2-3 kali kehadiran.

Ramadan H-10 memang sakral bagi dua orang sehidup semati ini. Mereka terbiasa menghabiskan masanya untuk ‘melenyapkan diri’ dari yang fana’, menghindar dari godaan dan tipuan dunia. Sementara para tetangga dan masyarakat serta negaranya, menghabiskan masa dengan berlomba-lomba untuk diperbudak. Yang mengenaskan, budak-budak itu tak memiliki kesadaran sedikitpun bahwa mereka adalah budak. Mereka beranggapan bahwa mereka adalah Tuan, Raja, Penguasa dengan kekuasaan dan kekayaan materinya. Padahal panca inderanya tertipu total.

***

Joni melesat ke kamar mandi. Sambil bersenandung, pikirannya mengangkasa. Rupa-rupanya omongan Tarjo sedikit mengganggunya. Walaupun bengal, kadang-kadang Tarjo sanggup melontarkan kalimat-kalimat yang membuat Joni heran. Masa iya, begundal sok sastrawan seperti Tarjo dianugerahi laduni? Ah, itu terserah-serah Dia saja, lah, mau menganugerahkan RahasiaNya kepada yang Dia mau. Yaa Jabbar.

10 menit kemudian, Joni sudah berada di masjid yang sama dengan Tarjo. Dari titik di mana ia bersila, Tarjo terlihat sangat khusyuk dengan dirinya. Entah apa yang dilafalkan, ia tak ingin tahu. Dalam hitungan 2,5 menit, ia sudah sekhusyuk Tarjo. Tak ada Mirna dengan ransum lauk sahur di pikiran kedua sahabat itu.

***

“Jo, menurutmu, i’tikaf kita tadi itu, untuk apa?” sambil menikmati sahur, Joni membuka percakapan.

Tajalli, memang apa lagi?”, sahut Tarjo dari dalam dapur.

Tajalli gimana? Coba kamu jelaskan,“ Joni mengejar jawaban.

“Aduh, kamu ini. Kita kan sudah pernah diajarkan 3 konsep itu, masa aku harus mengulang lagi? Nggak sekalian kamu minta aku menyalin Al Hikam?!”

“Jangan pelit ilmu begitu, Jo. Kamu tahu aku ini pelupa, mencatatpun seperlunya saja. Yah, itung-itung itu jadi hitungan amal baikmu dengan mengulang penjelasan tadi. Hahaha…” tawa Joni menggema.

“Kopet!” Tarjo memaki.

Sambil mengisi piring dengan nasi dan lauk kiriman Mirna, Tarjo mencoba menjelaskan.

“Gini, ya, Jon… Selama ini, kita, kan, disibukkan oleh dunia. Apa sajalah itu. Pekerjaan, gendakan, organisasi dan bla bla bla lainnya. Dari sekian yang kusebut tadi, mana yang benar-benar lillahi ta’ala? Bukan aku meragukan niat kita berdua, tapi, kita ini kan cuma manusia biasa, Jon. Lebih banyak salahnya daripada benarnya. Makanya Kanjeng Nabi memberi contoh i’tikaf, agar kita mendekat padaNya. Yah, kalau mau niru-niru istilah Brexit, separatis! Kita berlepas diri dari dunia fana’ untuk meraih baqo’. Kita i’tikaf, kan, belajar ber-tahalli,” sambil mencomot perkedel, Tarjo menjelaskan dengan serius.

“Kamu lihat manusia-manusia sekarang, Jon. Mereka lebih mencintai yang tidak ada daripada Sang Maha Ada itu sendiri,” Tarjo mencoba berteori, “Sepuluh hari terakhir Ramadan begini, yang ramai justru pusat perbelanjaan, bukan tempat ibadah. Bukannya ber-takholli, mereka malah berlomba memasukkan dunia ke dalam hatinya. Midnight Sale lebih membuai dari sekadar i’tikaf. Aku sendiri takut kalau-kalau ternyata masuk ke dalam golongan mereka. Makanya aku taqarrub, mendekat. Sukur-sukur dapat Midnight Sale Ramadan, Lailatul Qadr.”

“Omonganmu masuk akal juga,” Joni menimpali, mulutnya penuh dengan nasi. “Lalu, apa ber-takholli dan tahalli itu cuma dilakukan dalam i’tikaf saja? Kan, nggak toh? Dua syariat itu, seumur hidup terus dilakukan. Karena kita nggak pernah tahu, kapan apes datang. Sudah 30 hari Ramadan ngerem, tahunya 11 bulan ngegas. Semua nafsu dilampiaskan, sama juga bohong.”

“Itulah, Jon. Ber-takholli dan tahalli bukan berarti menjauh dari masyarakat lalu diam di masjid seperti kita tadi, atau di hutan, atau di gunung. Bersosialisasi, ya, harus. Kerja, ya, wajib. Mau makan apa kalau kita nggak kerja? Bayar kontrakan pakai bismillah? Ya, kalau ‘orang itu’, tiap tangannya keluar dari saku celana, munculnya Bung Karno sama Bung Hatta berlembar-lembar. Manusia kalau sudah ber-tajalli, dia malah mengabdikan hidupnya untuk Sang Maha melalui ciptaanNya. I’tikaf itu hanya salah satu metode.”

“Tapi, apa memang ada jaminan kalau kita nanti sampai ‘ke sana’, Jo? Maksudku, sudah susah payah men-separatis-kan dunia, tahunya nggak sampai juga. Cry, Jo, cry!” Joni meledek.

“Ya Robb, koplaknya ciptaanMu satu ini,” Tarjo memaki sekali lagi, “Memangnya siapa yang minta biar sampai, Joni? Kita ini hanya diminta mendekat, bukan harus sampai ‘ke sana’. Sampai nggak sampai, itu bukan urusan makhluk seperti kita. Tajalli itu, hak prerogatifnya Gusti Allah. Kita cuma bisa berharap padaNya. Yang penting kita niat lillahi ta’ala, titik. Bukan karena Firdaus atau Jannah. Kita ini Laron yang berusaha mendekat ke Matahari, dan berharap agar tidak terbakar.”

“Omongmu kok seperti mbah Markesot gitu. Kamu jiplak omongannya Beliau, ya?” Joni menggoda

“Setan,” kali ketiga Tarjo memaki, “Kamu tadi, kan, minta penjelasan, Jon! Ini kujelaskan semampu-mampuku. Kalau nanti ada omonganku yang menurutmu salah, ya, diluruskan. Kalau mau bilang sesat, sesatkan omonganku saja. Yang salah, kan, aku dalam memahami kalimat Beliau. Nggak usah bawa-bawa Guru kita lah,” Tarjo mencoba membela dirinya

“Guru kita, katamu? Sejak kapan Mbah Markesot mengangkat murid? Apalagi muridnya macam kita berdua. Hahaha..” kali ini mereka terpingkal berdua.

“Tapi, Jo, kamu pernah berpikir begini, nggak?” Joni berlagak misterius.

“Apa?”

“Dalam huruf hijaiyyah, kan, urutannya jim-ha-kho. Tapi, kenapa dalam 3 konsep itu, urutannya dibalik kho-ha-jim, ya?”

Adzan subuh melindas kesenyapan antara dua orang itu.

*Budi Rustanto : Jamaah, pembelajar di mana saja, termasuk di Maiyah.