Latihan Memahami dan menyadari Kehidupan Keluarga yang Sesungguhnya

 

 

Malam itu (Sinau Bareng CNKK di GOR Gajah Mada, Mojosari, 30 Juni 2019) Mbah Nun tampak tak sekadar berbasa-basi dalam menyampaikan ilmu tentang keluarga, terutama bagaimana cara berkeluarga yang baik dan benar.

Diawali dengan peneguhan tentang iqra. Iqra adalah kalimat perintah yang semestinya dipahami secara amat mendasar dalam menjalani proses sebagai suatu pijakan kesadaran hidup. Karena sebenarnya Alquran dititipkan melalui Kanjeng Nabi untuk diwahyukan kepada seluruh umat manusia. Jadi kesadaran membaca atau sinau terus-menerus sangat ditekankan oleh Mbah Nun malam itu sebagai suatu cara mengembangkan kesadaran berkeluarga kepada sesama. Baik yang memiliki hubungan darah maupun tidak.

Menurut Mbah Nun kelak di surga ada sekumpulan orang yang wajahnya penuh cahaya. Mengutip kalimat Rasulullah bahwa orang yang kelak wajahnya penuh cahaya di surga itu adalah al mutahabbina fiilah, yaitu orang yang bersaudara karena Allah. Tidak karena hubungandarah. Mbah Nun juga meluaskan pandangan kita mengenai iqra bahwa dalam dunia sekolah, iqra itu untuk semua elemen. Mulai kepala sekolah, guru, murid, dan semua staf di dalamnya. Semua yang berlaku sekarang adalah perilaku mulangi, bukan iqra (sinau). Suatu hal yang harus kita perbaiki bersama karena sudah menjadi masalah terbesar di dunia. Mulangi seharusnya berasal dari respons masyarakat terhadap permasalahan yang terjadi. Mulangi itu lebih banyak mendengarkan daripada muruki.

Tetaplah pada kuda-kuda sinau sehingga kita bisa tetap merasa mampu tanpa terjerumus pada menyombongkan kemampuan diri. Tak usah minder untuk ngomong keliru-keliru karena menurut Mbah Nun tidak apa-apa ngomong keliru-keliru asalkan untuk membuang yang kotor-kotor di dalam otakmu, sehingga yang tersisa adalah kristal-kristal murni yang membuatmu lebih cerdas. Mbah Nun juga memberikan pemahaman baru alasan kenapa Alquran dititipkan kepada Nabi Muhammad bukan diturunkan langsung kepada manusia, yaitu agar tertib satu loket dan tidak dimanipulasi manusia yang mengaku diberi wahyu untuk kepentingan dirinya sendiri.

Sifat Allah yang dimiliki oleh Nabi Muhammad adalah Azis, Rauf, dan Rahim. Maka dari itu Nabi Muhammad selalu merasa tidak tegaan kepada umatnya.

Kita perluas prespektif sinau kita kepada cara berkeluarga. Seharusnya urutan berkeluarga adalah rahmah, mawaddah, sehingga menjadi sakinah. Berkeluarga itu mencari sakinah. Sikap-sikap untuk menjadi keluarga sakinah adalah ngalah, neriman dan loman.

Dalam Sinau Bareng suatu hal yang sedang dibahas tidak hanya berhenti pada pemahaman, tetapi juga harus benar-benar ditemukan ilmunya dalam perilaku sehari-hari. Karena itulah Mbah Nun juga melatihkan sikap-sikap berkeluarga pada kita melalui dolanan lepetan.

Dolanan lepetan adalah suatu latihan agar kita siap berkeluarga untuk tahu kapan seharusnya ngalah, neriman, dan loman. Di tengah-tengah menyanyikan lagu dolanan, Mbah Nun juga menekankan cara  dan sikap dalam berkeluarga agar jangan sampai ada yang saling mengungguli, merasa menang atau keras suaranya, dan yang lain. Semua harus seimbang dan seirama. Ada yang harus mengalah untuk tidak bersuara keras dari saudaranya yang bersuara pelan begitu juga yang bersuara pelan harus tetap menyeimbangkan diri untuk tetap berada satu irama suara yang sama. Mbah Nun mengatakan bahwa dalam Alquran, Allah memuji orang mutrobah.

Mutrobah adalah orang yang berjuang sampai berlepotan lumpur dan debu sehingga dalam keluarga harus wani tandang (bersimbah keringat) demi menafkahi keluarga. Untuk memberikan kesadaran baru kepada semua jemaah yang hadir dan mendengarkan bahwa dalam berkeluarga harus selalu berjuang tanpa henti demi keberlangsungan hidup dan menafkahi keluarga. Serta untuk selalu mengembangkan pemahaman, kesadaran, dan pengalaman hidup kepada Allah. Maka dari itu kenapa Allah itu allahu akbar bukan allahu kabir. Karena Allah selalu lebih besar dalam pemahaman, kesadaran, dan pengalaman hidup manusia.