Metaforatma

LAUTAN AKHLAK

Oleh : Riz Tugiez

(untuk 12 Tahun Bangbangwetan)

 

Malam begitu cerah kala itu. Orang-orang, kebanyakan pemuda berduyun menuju halaman samping Balai Pemuda Surabaya. Aku memarkir motor di tempat parkir yang sudah cukup penuh. Kuurungkan niat mengambil kopyah di dalam ransel ketika menyadari kebanyakan dari mereka yang hadir tidak memakai kopyah. Terdengar sayup-sayup suara klothek’an dari tempat acara. Jujur saja aku agak shock ketika itu. Karena beberapa hari sebelumnya aku sempat menanyakan tentang acara komunitas Maiyah BangbangWetan melalui pesan singkat di Fanspage BangbangWetan. Dan sang admin fanspage  menjawab jika acara tersebut lebih tepat untuk disebut pengajian yang siapa saja boleh hadir. Benar saja, aku melihat siapa pun bisa hadir, mulai orang-orang bertato dan berambut gondrong, hingga para pemuda perlente dengan pakaian necis. Lebih sangar-nya: tidak ada tarif masuk alias gratis. Gratis!!! Haha, dasar kaum gratisan! Gitu aja shock. Iya dong, sebab sebelumnya kukira harus membayar untuk hadir di forum tersebut, terlebih diadakan di dalam pusat kota. Maklumlah, wong ndeso.

Belum hilang ketakjubanku soal gerombolan orang yang berduyunan memasuki halaman parkir, aku semakin dibuat shock oleh tampilan musik gamelan yang sangat khas. Ini pengajian katanya, tapi sungguh sangat memukau, tidak pernah kujumpai sebelumnya hal yang demikian indah. Kok onok yo, pengajian tapi sambil klothek’an? Terus bisa tanya jawab langsung, audience diberi kebebasan untuk naik panggung. Asyik sekali. Bisa dibilang, aku jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap acara tersebut.

Bagaimana bisa aku dipertemukan dan bersentuhan dengan Maiyah, lebih khusus BangbangWetan? Ah, ceritanya nanti saja ya, kalau tidak malas sih. Yang jelas pertemuan pertama itu terjadi pada akhir tahun 2012, seingatku saat acara 6 tahun BangbangWetan, seingatku loh ya. Aku meyakini, orang-orang yang terlibat dan bersentuhan langsung dengan Maiyah adalah orang-orang terpilih. Sebut saja mereka itu: diperjalankan. Ciahhh diperjalankan jare, gayamuuuu le, wong kremi babi ae kok nggaya!!!

Eh, tapi ini beneran loh? Ciyus tauk! Kau tak akan sanggup bertahan lama jika kehadiranmu di forum tersebut didasari oleh sebuah alasan, bukan oleh ketulusan. Aku mengalaminya langsung soal ini, beberapa kali aku mengajak teman. Tapi yang terjadi, mereka tidak sanggup bertahan lama. Ada yang baru mulai sudah terlihat sangat gelisah, ada juga yang sempat beberapa kali ikut tapi justru main game di tempat. Karena itu aku berani bilang jika orang-orang yang bersentuhan langsung dengan BangbangWetan adalah orang terpilih yang sedang diperjalankan.

Seiring berkembangnya waktu, BangbangWetan menjadi semacam entitas yang seakan menjadi oase di tengah peradaban penghancuran. Ia menjelma bak lautan. BangbangWetan, atau Maiyah pada umumnya, seakan menjadi tren segar di kalangan milenial. Bisa dikatakan, tahap kedua revolusi lautan jilbab kini mulai lahir. Dulu di tahun 80’an Mbah Nun pernah menggelar teater bertema lautan jilbab. Ketika itu jilbab adalah sesuatu yang langka. Namun kini, apa yang diteaterkan Mbah Nun itu menjadi nyata.

Kalau dulu Mbah Nun memprakarsai lahirnya lautan jilbab, kini Mbah Nun memprakarsai lautan akhlak. Kejelian Mbah Nun membaca sejarah untuk meraba masa depan agaknya memang cukup akurat. Buku-buku beliau yang lahir sebelum era reformasi hingga kini masih sangat relevan untuk dijadikan refrensi dalam membaca zaman.  Maka, aku cukup yakin jika di masa depan, lautan akhlak itu akan benar-benar terjadi. Sekarang saja, sudah mulai bermunculan acara sejenis yang boleh dibilang mengadopsi konsep Maiyah di berbagai kota/kabupaten seluruh Indonesia. Ada semacam kesepakatan di masyarakat bahwa: nek gak melok Maiyah, gak keren.

Dengan berkembangnya berbagai Simpul Maiyah di berbagai kota, menimbulkan dua macam pemikiran bagi saya: pertama, ini merupakan gejala lahirnya sebuah peradaban baru yang lebih baik dengan sistem nilai teratur yang ditaati dan disepakati bersama. Kedua, kekhawatiran bahwa Maiyah hanya akan menjadi alternatif lain dari masyarakat yang frustasi oleh kebobrokan zaman. Atau, lebih mengkhawatirkan lagi adalah jika Maiyah, khususnya BangbangWetan, hanya dijadikan tren atau gaya hidup semata, terlebih oleh kaum milenial urban.

Apabila yang terjadi adalah yang kedua, mungkin saja nanti ketika Maiyah semakin berkembang pesat, kita akan kecele. Kita menyangkanya sebagai “lautan”, padahal hanya buih semata. Berkaca pada fenomena lautan jilbab yang mulai tumbuh dan berkembang tahun 2000’an, yang ternyata hanyalah buih jilbab. Mayoritas masyarakat menjadikan jilbab sebagai mode pakaian. Semua orang membaur dan mengenakan jilbab. Gak pakai jilbab, gak cantik. Maka, maaf, pelacur pun mulai berjilbab. Dan sekarang kita kesulitan membedakan mana perempuan baik-baik, mana yang menjajakan diri. Pandangan ini, aku akui, memang terlalu naif karena melihat sesuatu sebagai hitam-putih. Tapi kenyataannya, diakui atau tidak, memanglah demikian.

Meski demikian, saya masih sangat optimis jika generasi milenial punya kelengkapan orisinalitas untuk mengambil dan menerapkan nilai-nilai Maiyah. Bukan hanya menjadikan Maiyah sebagai tren semata. Dengan begitu harapan akan lahirnya generasi lautan akhlak kemungkinan besar dapat diwujudkan. Kalau pun nantinya lautan akhlak itu hanyalah menjadi buih, tapi saya yakin ada danau-danau ataupun sungai-sungai akhlak. Sebagaimana kini, bahwa diakui atau tidak, masyarakat jilbab bukanlah buih seutuhnya. Ada berbagai danau dan sungai yang tidak menutup kemungkinan akan menjadi lautan jilbab yang hakiki.

Maka yang wajib kita pelihara secara kontinyu agar kelahiran lautan akhlak itu terwujud adalah niat kita untuk hadir ke BangbangWetan. Kalau sudah terbesit satu saja keinginan atau alasan untuk hadir, sebaiknya urungkan saja. Jangan ada alasan diantara kita, fiuh! Gayamu, le! Maiyah tak butuh alasan. BangbangWetan gak pathek’en nek koen gak teko. Sebagaimana yang sering dilontarkan Mbah Nun: BangbangWetan gak penting keberadaannya. Maiyah gak ada, gak masalah. Asal Allah dan Muhammad selalu ada dalam kesadaran hidupmu. Kalau dengan bermaiyah, hidupmu tidak berubah jadi lebih baik, atau malah justru terpontal-pontal, sebaiknya tinggalkan saja. Tapi kalau dengan bermaiyah menjadikan kehidupanmu lebih bermanfaat, maka lakukanlah. Terapkan nilai-nilai Maiyah dalam lingkunganmu. Kalau engkau mau pernyataan yang lebih ekstrim, bisa menukil Mbah Sujiwo Tedjo, seorang murid yang mengaku gurunya Mbah Nun: “Gak ada Allah pun gak masalah, sebab Dia tak membutuhkan nama, yang penting kau mengetahui karepe Gusti Allah nyiptakno koe”. Ajur tah gak koen, le, musuh Mbah Tedjo kok?!

Maiyah, khususnya BangbangWetan pada dasarnya juga membutuhkan kritik untuk dirinya sendiri. Apalagi ini adalah tahun kedua belas kelahirannya. Ibaratnya seorang anak yang mulai memasuki masa Akhil  Baligh. Saya pribadi mengalami sentuhan langsung dengan BangbangWetan sejak 2012. Artinya, sudah enam tahun saya mengikuti maiyah, meski tidak rutin hadir tiap bulannya. Ada berbagai hal dan nilai yang berusaha kucerna untuk kulakukan, meski sampai saat ini masih tertatih.

Dulu, di awal persentuhan yang kurasakan terhadap Maiyah adalah perkumpulan yang amat cair. Tapi belakangan, menurut pendangan subyektifku,  Maiyah, lebih khusus BangbangWetan mulai memadat dengan beberapa aturan yang telah disepakati bersama. Sebagai misal, mulai dibentuk garis koordinasi semacam Isim dan sebagainya. Hal ini membuat seolah ada jarak antara panggung dengan lesehan di depannya. Antara penggiat dengan para pelaku Maiyah pada umumnya. Walaupun jarak itu sangatlah samar, bahkan mungkin tak disadari oleh pelaku Maiyah. Atau barangkali jarak itu memang tidak ada, hanya pandangan bodohku saja yang menganggap seolah ada. Bukan sebenarnya ada, hanya seolah.

Kedua, yang sampai saat ini tidak kumengerti adalah kenapa Bulletin Maiyah kebanyakan memuat tulisan tentang Maiyah? Bukan lebih memilih untuk memberi pembeda dengan menghadirkan apa yang ada di luar Maiyah untuk ditampilkan dan dipelajari bersama. Kok saya melihatnya semacam onani, ya? Sebab, harus saya akui, saya sendiri pernah dan sering melakukan itu, baik secara harfiah atau substansi. Itu yang menyebabkan saya bisa berpikiran demikian. Saya pernah beronani, dalam hal ini saya menulis sebuah novel, kemudian bekerja sama dengan penerbit indie untuk mencetaknya, lalu saya sendiri yang menjual buku itu. Hal terbodoh yang pernah saya lakukan. Haha! Asem lah. Ah, mungkin itu beda konteks. Bisa jadi redaktur Maiyah punya alasan tersendiri untuk melakukan itu. Misalnya itu adalah cara untuk memasarkan nilai Maiyah kepada masyarakat umum. Memasarkan? Masyarakat umum? Ah, sudahlah. Aku kira aku terlalu berprasangka. Sudah bersentuhan lama dengan Maiyah kok masih berprasangka, duh! Maafkan hamba.

Baiklah, tulisan ini sudah terlalu panjang untuk ditampilkan. Saya harus tahu batas. Enam tahun saya bersentuhan dengan BangbangWetan. Tapi selama itu, saya hampir tidak pernah berkontribusi apapun. Jadi, tulisan ini saya dedikasikan sebagai ungkapan rasa syukur telah “diperjalankan” untuk bersentuhan langsung dengan Maiyah BangbangWetan. Sugeng Ambal Warsa BangbangWetan.

Oiya, di awal tulisan tadi saya bilang bahwa akan menceritakan bagaimana awal-mula saya bisa kenal dan bersentuhan dengan Maiyah BangbangWetan. Tapi karena tulisan ini sudah terlalu panjang, dan saya juga sudah mulai agak malas mengetik, mungkin kapan-kapan saja saya ceritakan. Kalau masih ingat dan tidak malas, sih. Duh, banyak alasan ya.

Sekian,

 

Riz Tugiez. Pengeja senja yang masih terbata-bata, Tinggal di : bersamatugiez.blogspot.com