Redaksi

Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh “Sanabila” Langkah Panjang Untuk Hanya Menanam

 

Ada pepatah Jawa yang berbunyi “kriwikan dadi grojokan“. Tiga kata ini menggambarkan betapa hal kecil berpotensi menjadi besar dengan skala perkembangan yang tak pernah kita duga. Ini pula latar belakang lahirnya Sanabila, sebuah lembaga amil yang merupakan salah satu endapan dari BangbangWetan sebagai satu organisme di bawah perkauman Maiyah Raya.

Berawal dari percakapan kecil di FJR-an, rapat persiapan dan evaluasi pelaksanaan BbW dan pastilah, obrolan ringan di dan berkelas warung kopi, tercetus keinginan untuk membentuk satu badan amil yang setidaknya bergerak secara internal di dalam lingkup jama’ah Maiyah. Ide kecil ini kemudian dibawa ke Cak Nang, salah seorang yang sangat dekat dengan BbW dalam dinamika keseharian.

Beberapa nama dengan didampingi Cak Nang sowan ke Cak Fuad untuk meminta validasi dan petunjuk teknis atas pemikiran yang dirasa kian mengkristal. Dari beliau, bukan hanya arahan yang kami dapatkan namun juga nama yang selain manis namun juga sarat makna.

Sanabila, sebuah nama yang dinukil Cak Fuad dari surat Al-Baqarah ayat 261 merupakan penggambaran bahwa setiap benih kebaikan yang kita tanam akan membuahkan beratus pahala dan imbalan.

Sejak awal perjalanannya, Sanabila memilih untuk tidak mengambil sedikitpun dana titipan jama’ah untuk hak amil dan biaya operasional. Ide cemerlang ini sekarang banyak diterapkan oleh lembaga amil zakat lainnya. Satu langkah di depan yang sudah dihentakkan Sanabila jauh sebelum menjadi fenomena umum dan di tempat lain dijadikan alat pengukuh pesona.

Sejalan dengan harapan dulur-dulur di jajaran redaksi BMJ agar jama’ah ikut meramaikan buletin dengan bombardir naskah dan kinarya, pengelola Sanabila setali tiga uang kiranya. Berbekal nilai-nilai Maiyah dan semangat “Menyucikan Harta, Membahagiakan Sesama” kami mengajak dulur-dulur untuk mengamanati zakat, infaq dan shodaqohnya ke Sanabila.

Lalu kemana saja Sanabila mengalirkan dana zakat maupun infaq yang telah terkumpul dan menjadi amahnya? Secara prinsip, Sanabila memrioritaskan internal jama’ah dan keluarga mereka yang membutuhkan serta—dalam koridor fiqh zakat—merupakan salah satu dari delapan asnab. Membantu lembaga pendidikan setingkat Madrasah Diniyah di Tuban dan Jombang, beberapa nama yang kondisi perekonomiannya sangat memrihatinkan serta bantuan dana pendidikan bagi beberapa siswa yang menemui kesulitan dalam melanjutkan sekolahnya adalah sebagian dari catatan pengurus. Di samping itu, Sanabila juga ikut serta dalam pengadaan beberapa fasilitas penyelenggaraan event rutin kita bersama.

Satu hal yang masih terus dicari solusinya, adalah bagaimana mengatasi  tantangan untuk memiliki satu-dua orang petugas yang siaga dan siap melayani jama’ah dan muzakki yang hendak berhubungan dengan lembaga ini diluar jam dan hari pelaksanaan BangbangWetan dan Padhang mBulan. Keterbatasan sumber daya manusia ini  menyangkut sifat dan intensitas kegiatan para pengurus. Beberapa cara telah ditempuh dengan misalnya meminta keluarga di rumah dimana Sanabila “menumpang”  untuk menerima setidaknya telepon atau kunjungan para muzakki. Namun hal ini tidak bisa berlangsung konsisten. Lagi-lagi karena, berpuluh kegiatan lain yang menempati prioritas hukum “lebih wajib” bagi mereka.

Gerai Sanabila bisa dijumpai di event bulanan Padhang mBulan dan BangbangWetan serta kegiatan Maiyahan lain di kawasan Gerbang Kertasusila. Satu yang tak terlupa, teman-teman yang bertugas di anjungan Sanabila siap memberikan konsultasi tentang dasar hukum, cara menghitung hingga mustahik yang berhak atas zakat, infaq dan shodaqoh dulur-dulur semua.

Menyikapi kenyataan di atas, ijinkan pengurus terus berharap agar dulur-dulur yang berniat memercayakan urusan zakat, infaq dan shodaqohnya ke Sanabila tidak mengurangi niatan tersebut dan mewujudkannya dengan mendatangi stan Sanabila di forum BangbangWetan dan Padhang mBulan.

Seperti pernah diucapkan Cak Nun bahwa “Hidup bukan untuk memetik, hidup adalah menanam”, demikian halnya semangat yang hendak senantiasa disebarluaskan teman-teman pengurus Sanabila. Bahwa setiap apa  yang kita lakukan hanya ditujukan untuk menanam tanpa pernah berpikir tentang menuai  hasilnya. (RNS/Red.)