Kolom Jamaah

Lepas Landas di Jalur Baru, Berawal dari Halte Bus dan SPBU – Bukan Anak Jalanan (3)

Kemlagen #27

Oleh: Samsul Huda

Ternyata pengalaman hidup menjadi manol di Terminal Joyoboyo, Surabaya, pada tahun 1984, saat kelas dua MA, bisa dibawa manfaatnya ke Malang. Sebagai tukang angkut barang penumpang, saya menjadi terbiasa–bahkan terampil–naik turun bus yang sedang berjalan. Pengalaman itu saya tulis di seri Kemlagen #16, (Santri Manol–Amul Huzni 4)

Sejak Oktober 1985, saya memulai periode hidup baru sebagai penjual onde-onde keliling. Dengan berjalan kaki, saya jajakan kue bulat bertabur biji wijen dan berisi kacang hijau manis itu mengelilingi beberapa kawasan di Kota Malang. Saya menjadi bagian dari bisnis UMKM seorang juragan. Dia menyediakan kebutuhan makan dan fasilitas tempat tinggal.

Rutinitas yang harus saya lakukan adalah membuat dan menjual sendiri onde-onde. Setiap hari, sebelum Subuh saya harus sudah bangun untuk “balapan” dengan teman- teman. Siapa yang lebih dulu bangun dan bikin adonan, punya hak untuk lebih awal menggoreng dan berangkat jualan. Semakin awal berangkat maka semakin besar peluang untuk lebih cepat laku dan menghabiskan dagangan. Hal ini berhubungan dengan kebiasaan banyak orang yang menginginkan makanan ringan sebagai teman minum kopi atau teh panas sebelum sarapan.

Selain berkeliling di kawasan pemukiman, saya juga naik turun bus jurusan Malang– Surabaya  untuk  mendapatkan  lebih banyak pembeli.  SPBU  Singosari dan Lawang adalah tempat mangkal favorit, beristirahat sambil bercengkrama dengan beberapa pedagang asongan lainnya. Untuk naik atau turun bus, saya menjadikan halte bus antara Lawang dan Terminal Malang sebagai jalur “pergerakan”.

Saat itu terminal bus dari berbagai kota di Jawa Timur masih berpusat di tengah-tengah Kota Malang, letaknya di sebelah barat stasiun kereta api. Namun saya hampir tidak pernah mencari pembeli di Terminal Malang. Saya memilih untuk lebih sering menjajakan onde-onde di dalam bus dari arah Surabaya menuju Kota Malang atau sebaliknya.

Waktu berjualan selalu saya sesuaikan dengan jadwal kuliah. Kalau ada pelajaran siang hari (mulai pukul 12), maka pukul 6 pagi saya harus sudah berangkat keliling. Sebaliknya, kalau kuliahnya pagi hingga siang hari, maka berangkat jualan sekitar pukul 3 sore sampai sekitar pukul 9 malam. Tak jarang, perkuliahan berlangsung pagi sampai sore sehingga onde-onde saya jajakan setelah Maghrib sampai larut malam. Akibatnya, hampir setiap malam saya ada di jalanan antara Surabaya–Malang.

Di minggu-minggu pertama menjadi pedagang asongan di SPBU dan halte bus tentu banyak kesulitan dan duka lara yang saya alami dan rasakan. Setelah sebelumnya delapan tahun hidup di pondok pesantren salaf bahkan pernah menjadi pengajar, tiba- tiba harus bekerja menjadi pedagang asongan. Maka, saya harus bisa menguatkan dan memaksa diri untuk bersabar serta menerima kenyataan.

Bukan hanya untuk terus menjalani kehidupan yang penuh warna, namun juga harus benar-benar bisa membagi waktu. Memenuhi standar target yang diberikan juragan di satu sisi, sambil tetap disiplin mematuhi jadwal perkuliahan di sisi yang lain. Apalagi kuliah di semester awal yang relatif lebih ketat dan wajib saya ikuti.

Beruntung, juragan dan keluarganya termasuk orang yang baik. Mereka bisa mengerti dan memahami saya. Interaksi dengan kami, armada yang dikelolanya berjalan dalam suasana kekeluargaan. Kesadaran saling membutuhkan antara juragan dan anak buah benar-benar terasa. Yang juga menjadi keberuntungan lain adalah teman-teman seprofesi, senasib, dan sepenanggungan yang sangat baik sikapnya kepada saya. Faktor-faktor itulah yang menunjang keberhasilan saya melewati masa-masa sulit dan berat.

Saya akhirnya mampu keluar dari ketergantungan pada teman-teman. Lambat laun, proses membuat adonan dan menggoreng onde-onde bisa saya lakukan sendiri. Begitu juga sasaran tempat dan pembeli. Saya mulai berani berjualan tidak bersama mereka lagi di SPBU dan halte bus jalur Surabaya–Malang. Saya merintis rute baru dan berhasil memiliki pangsa pasar dan langganan sendiri. Omset penjualan terus merayap naik. Pelan namun pasti, bisa menyamai teman-teman lainnya bahkan termasuk dalam kelompok dengan omset terbanyak tanpa harus merebut dan mengambil pangsa pasar mereka.

Dalam Surah Ali-Imran (3) Ayat 159, Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

—oOo—

Penulis adalah santri di PP Roudlotun Nasyi’in, Beratkulon-Kemlagi dan PP Amanatul Ummah Pacet. Keduanya di Mojokerto. Mengaku sebagai salah seorang santri di Padhang mBulan, penulis bisa ditemui di kediamannya di dusun Rejoso-Payungrejo, kecamatan Kutorejo, Kab. Mojokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *