Sinau Wayang #2

Oleh: Rahadian Asparagus

 

Diceritakan, sepuluh orang Kurawa  berniat menyeberangi sungai. Mereka lalu berenang beriringan depan ke belakang. Setelah sampai, Dursasana, kakak tertua kedua Kurawa berkata, “Aku akan menghitung, apakah jumlah kita masih tetap sepuluh ataukah berkurang karena ada yang hanyut atau tenggelam”.

 

Dia pun mulai menghitung. Dimulai dari adik di sebelah kanannya. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan… “Wah, kurang satu”, gumamnya. Mereka pun kebingungan.

 

Salah satu dari mereka, yaitu Kartamarma lalu menawarkan diri, “Kakak Dursasana, biar aku coba untuk menghitungnya lagi.”  Tidak hanya Kartamarma, Bergantian para Kurawa itu menghitung ulang, tetapi tetap saja jumlahnya sembilan. Hmm.. kenapa ini.

 

Jatuhlah mereka dalam kesedihan yang dalam. beberapa di antaranya, Citraksi dan Durmagati sampai menangis meraung-raung, merasa salah satu saudaranya benar-benar tenggelam dan tidak akan muncul lagi.

 

Di tengah tangis yang memilukan, terlihat Wisanggeni yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka di sana dan bertanya, “Apa yang terjadi di sini?”

 

“Oh Wisanggeni, saudara kami tenggelam, mungkin sudah mati. Tadinya kami berjumlah sepuluh orang, sekarang tinggal sembilan”, tutur Dursasana.

 

Wisanggeni bingung, karena sekilas dalam penglihatannya, jumlah mereka masih sepuluh. Setelah beberapa saat, dia pun tersenyum geli dan bisa menerka di mana letak kesalahannya.

 

“Begini saja”, kata Wisanggeni, “Sekarang aku yang menghitung. Kalian berbaris saja”.

 

Hasil pencacahan Wisanggeni menunjukkan jumlah mereka tetaplah sepuluh, tak kurang tak lebih. Para Kurawa pun sangat gembira. “Wah, ini sungguh. Engkau memang Dewa berwujud manusia, Wisanggeni. Engkau bisa menghidupkan kembali saudaraku yang sudah mati”, kata Dursasana.

 

Wisanggeni menjawab, “Ini bukan mukjizat, jangan berlebihan. Kesalahan kalian tadi hanya lupa menghitung diri sendiri. Dursasana dan saudara-saudaraku, inilah yang mesti terus kita benahi. Jangan berlebihan dalam menghitung dan asyik mengamati baik-buruknya orang lain.Sesering mungkin, lakukanlah “penghitungan” atas dirimu sendiri.”

 

“Wooaalaahhhh…” semua Kurawa kompak menjawab.

 

Tancep Kayon

 

 

Penulis adalah lulusan teknik informatika yang lebih asyik dengan pencarian makna di jagad pakeliran. Hari-harinya banyak dihabiskan bersama keluarga dan kawan-kawan di Majelis Maiyah Balitar. Bisa dihubungi melalui akun FB: aspaholic rahadian dan IG @aspaholic