Dalam “Piramida Maslow”, kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri menempati tingkatan tertinggi. Kebutuhan ini muncul setelah kebutuhan biologis dan rasa aman terpenuhi. Namun seiring perkembangan politik, ekonomi, dan sosial budaya, manusia seringkali melompati secara akseleratif tataran-tataran yang dirumuskan Abraham Maslow itu.

Di samping pendekatan sosio-psikologis yang bisa kita lakukan, mari kuliti tema BangbangWetan Januari dari sisi ilmu komunikasi. Kita mengenal teori korespondensi yang menyatakan bahwa satu informasi mengandung kebenaran bila terdapat kesesuaian antara pesan dengan fakta dari obyek bersangkutan. Semakin rapat kesesuaian fakta dan informasi maka semakin tinggi pula nilai kebenarannya.

Bertolak dari kedua pendekatan di atas ditambah satu kata kunci yakni “kepentingan”, maka mulai bisa kita urai benang merah mengapa kecenderungan macak gagah kian menggejala dan ironisnya diterima sebagai suatu.kewajaran oleh khalayak. Tidak ada yang perlu dijadikan bahan diskusi atau materi kerisauan. Semua adalah urutan logis dari apa yang disebut sebagai manifestasi demokrasi, strategi pemasaran, dan kelaziman untuk hidup dan bertahan di era kekinian.

Pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana Maiyah mencermati gejala ini, bersikap dan melakukan gerakan sadar untuk wani ra usum mengatakan tidak atasnya. Ditambah oleh teladan yang diberikan dalam laku keseharian Dzat dan Marja’ untuk kemudian seolah menjadi trade mark dari Maiyah yang secara alamaiah–atau memang memilih untuk–tidak macak gagah, semua unsur ini menjadi semacam keunggulan komparatif sekaligus kompetitif kita untuk melanjutkan tirakat “nandur, shodaqoh, dan pasa”‘

Selengkapnya, malam panjang di tujuh Januari 2018 akan menjadi media bagi rembuk hangat kita bersama.

 

Team Tema ISIMBangbangWetan