Maiyah dan Muhammad SAW

 

Oleh : Cak Rachmad Rudianto

Bagian I – 

Urut-urutan penciptaan oleh Allah SWT adalah diciptakan olehNya Nur Muhammad. Dari Nur Muhammad baru tercipta seluruh isi alam semesta. Baik yang kita kenal sebagai benda mati maupun  makhluk hidup.

Nur Muhammad, yang dalam densitas manusia mewujud menjadi Muhammad ibnu Abdullah, benar-benar ciptaan masterpiece Allah SWT. Yang Ia puji sendiri kesempurnaannya. Kesempurnaan yang melahirkan kekaguman penciptaNya, yang menghamparlkan kasih sayang tak terhingga. “produk” masterpiece ini sejatinya adalah contoh nyata perintah Tuhan bagaimana seharusnya makhluk lain bergerak searah gelombang untuk menjiplak semirip mungkin dengan beliau kekasih mulia.

Jikalau engkau wahai para makhluk ciptaanKu, demikian seakan-akan Allah berkata, maka tirulah Muhammad kekasihku. Contohlah segalanya dari utusan akhir jamanKu. Pecutlah dirimu meraih kemiripan dengan manusia mulia sang insan kamil. Minimal cintailah dia, seperti yang telah Aku contohkan betapa Aku mencintainya, Aku bersholawat untuknya, dan kuwajibakan seluruh makhluk untuk juga bersholawat untuknya.

Islamnya Rasulullah

Simbah dawuh, beliau tidak dalam rangka mendirikan ajaran atau isme baru. Apalagi organisasi. Yang disebarkan Maiyah adalah bagaimana kita muslim, menempuh keislaman kita se otentik yang di ajarkan Rasulullah. Islamnya Rasulullah. Bukan islamnya ajaran si A, B atau siapapun tokoh dengan kehebatan apapun. Islam cara Rasulullah. Islam rasa Muhammad SAW.

Tak heran simbah berfatwa begitu. Kehidupan simbah tak bisa lepas dari keajaiban cinta pada Nabi Besar Muhammad SAW. Kekagumannya pada sosok Muhammad SAW tercermin dari karya-karyanya. Kepatuhannya kepada kanjeng nabi bisa kita lihat dari bait cintanya :

“ Ya rasul

Kupanggul cintamu berkeliling semesta

Kutaburkan di hutan

di sungai

di kota – kota “

(lirik Kado Muhammad)

Maka maiyah sebagai hidayah yang dilewatkan Allah SWT secara khusus melalui Simbah, tak akan bisa lepas dari spirit Muhammad SAW. Layaknya segitiga yang ujung-ujungnya saling bertautan, kita – Allah dan Muhammad tak akan terpisah satu sama lainnya. Allah mencintai dengan amat sangat Muhammad SAW. Muhammad SAW menyayangi dan mencintai kita umatnya sedemikian besarnya. Kita mencintai Allah melalui cinta tulus dan patuh kepada Muhammad SAW.

Simbah sangat merindukan Kanjeng Nabi dalam napas hidupnya. Nabipun menjawab kerinduannya dengan merekomendasikan kepada Allah untuk memberikan hidayah islam yang otentik (islamnya rasulullah). Allah karena cinta dan kasih sayangya kepada Muhammad, Allah ridho, dan turunlah hidayah Maiyah kepada umat islam generasi sekarang, generasi yang menerima cobaan kegelapan sedemikian dahsyatnya. Simbah menanggung risalah, semacam Muhammad SAW dijaman masyarakatnya yang masih jahiliyah.

Semoga Allah SWT mengampuni imaji liarku. Semoga Rasulullah berkenan membalas cuitan gelisahku .

 

 

Penulis merupakan bagian dari penggiat Majelis Masyarakat Maiyah BangbangWetan Jawa Timur yang terus menemani dari sejak diselenggarakannya di Surabaya.