Oleh : Prayogi R Saputra

Sepanjang 5 tahun terakhir, Saridin  3 kali mengunjungi Singapura dan beberapa kota di Malaysia. 5 tahun lalu, ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah Malaya, di luar bandar udara KLIA, orang pertama yang ditemui dan ditanyai oleh Saridin justru pemuda Bawean, sebuah pulau di laut Jawa yang menjadi bagian dari Kabupaten Gresik. Pemuda itu sedang berjuang mengadu nasib di Malaysia. Demikian juga pada kunjungan ke 2. Begitu turun dari pesawat dan keluar Bandara, orang pertama yang ditemui adalah orang Madura. Malaysia ibarat kampung halaman kedua bagi para perantau asal Indonesia. Mereka bekerja, hidup, bergaul, dan menikah di Malaysia, bahkan ada yang menikah dengan orang Malaysia. Maka, tak salah jika Saridin merasa sebagai “lokal” di Malaysia.

Sementara, Singapura adalah dunia yang sama sekali berbeda. Negara yang mungil, bersih, terkesan lengang di daerah pemukiman, sangat ketat dan teratur itu seolah bukan  wajah Asia Tenggara pada umumnya. Singapura ibarat kota-kota modern di Australia, Amerika, atau Eropa. Dia adalah anak emas yang mengundang “iri” para saudaranya di Asia Tenggara.

Tulisan-tulisan berikut dimaksudkan sebagai “semacam catatan perjalanan” yang mungkin ada faedahnya bagi anak-anak muda Indonesia dalam meneropong dan menjalani hari-hari di masa depan. Cerita dimulai saat Saridin hendak pindah kota dari Kuala Lumpur ke Johor Bahru.

Malam itu adalah puncak arus balik. Orang-orang Malay baru saja menghabiskan libur satu minggu untuk menyambut hari raya Cina. Di saat itu, hampir semua kedai (toko-toko) di kota-kota di seantero Malaysia tutup karena pemiliknya sedang berhari raya. Mereka pulang ke kampung halamannya atau berkumpul bersama keluarga entah dimana. Jika lebih dari 80% kedai-kedai di Kuala Lumpur tutup, maka  itulah gambaran penguasaan warga Malaysia etnis Cina atas wilayah perekonomian Kuala Lumpur dan Malaysia secara umum.

Seperti halnya di Jawa, arus balik di semenanjung Malaysia juga menjadi kisah tersendiri. Semenanjung Malaya yang tak sepanjang Pulau Jawa hanya dihuni oleh likuran juta jiwa. Bahkan jika ditambah dengan penduduk Sabah dan Serawak, jumlah warga Malaysia tak lebih dari penduduk Jawa Timur. Cerita tentang kehabisan tiket, macet, penumpukan penumpang karena bas yang terlambat berjam-jam, juga terjadi di Malaysia. Kendati skalanya berbeda jauh dengan di Indonesia.

Karena menunggu bas yang delay tanpa kepastian berapa jam, maka Saridin kelayapan di dalam terminal bas TBS yang modern dan canggih. 5 tahun lalu, Saridin hanya berdua saja menunggu bas di tempat boarding yang modern dan luas ini. Saat itu, TBS masih sepi. Lingkungan di sekitar TBS juga masih kosong, hanya berisi semak-semak belukar dan perbukitan yang tak subur. Sementara malam itu, ribuan orang berdesak-desakan di dalam ruangan boarding. Sedangkan di sekitar TBS, bangunan-bangunan baru bertumbuhan menjadi penanda bagaimana kencangnya Kuala Lumpur memacu pembangunan fisik.

Di tengah ribuan orang itulah, Saridin duduk sekenanya di salah satu pojok. Orang-orang lalu lalang di depannya. Tak jauh darinya, banyak juga calon penumpang yang duduk menunggu bas tanpa kepastian. Tak lama duduk, datang seorang anak muda mendekatinya. Dia minta izin ikut duduk di samping Saridin.

Cerita punya cerita, anak muda itu ternyata salah satu mahasiswa di sebuah Universitas di Johor Bahru. Dia mengaku berasal dari Kampung Pusu di timur laut Kuala Lumpur dan menempuh study gratis di Jurusan Teknologi Gas. Selain study gratis, dia juga mendapatkan asrama dan makan secara gratis. Bukan itu saja, dia juga memperoleh uang saku RM 300 setiap bulan.

Saridin tercengang dengan fasilitas yang diterima anak muda itu. Lantas bertanya, apakah itu beasiswa?

“Ya.” kata anak muda tadi.

“Apa syaratnya untuk mendapatkan beasiswa itu?” Tanya Saridin penasaran.

“Tidak ada. Hanya raport di sekolah.” Jawabnya enteng.

“Apakah semua anak bisa masuk kesana?”

“Ya.” Katanya lagi.

“Semua? Dari Sabah dan Serawak juga?”

“Ya. Kami 1 Malaysia. Semua boleh masuk asal dia bumiputera?”

“Siapa yang dimaksud bumiputera?” Saridin agak mencondongkan badannya ke depan.

“Orang yang lahir di Malaysia dan memiliki kewarganegaraan Malaysia.”

“Maksudku, apakah orang Cina dan India boleh juga mendapatkan fasilitas itu?” Tanya Saridin setengah berbisik karena di dekat mereka banyak sekali orang-orang Cina dan India. Dia khawatir jawabannya akan memancing perhatian mereka.

Anak muda Kampung Pusu itu mendekatkan bibirnya ke telinga Saridin dan menjawab lirih, ”Tidak! Hanya orang Melayu yang boleh mendapatkan fasilitas ini.”

Blaaarrrrrr. Saridin terus mengejarnya dengan berbagai pertanyaan.

Malaysia memang disusun dari 3 etnis besar. Mereka adalah Melayu (bumiputera), Cina dan India. Kesepakatan-kesepakatan tentang pembagian peran sosial bagi ketiga etnis tersebut didesain sejak Inggris mulai mempersiapkan memerdekakan Tanah Melayu melalui negoisasi mereka dengan UMNO.

Dalam perjalanannya, pemerintah Malaysia yang dikuasai oleh Barisan Nasional yang merupakan koalisi permanen antara UMNO yang Melayu dengan dua kekuatan etnis lain acapkali membuat kebijakan yang lebih menguntungkan kelompok Bumiputera (Melayu). Misalnya dalam soal di atas.

Kebijakan-kebijakan tersebut tentu saja terasa rasis dan tidak adil. Namun rupanya, itulah pilihan cara pemerintah Malaysia untuk melindungi Bumiputera yang notabene secara sejarah dan de facto adalah pemilik sah tanah semenanjung Malaya. Jika tidak dilindungi dengan kebijakan yang terasa rasis demikian, di masa depan, tentu akan muncul persoalan yang lebih besar lagi. Misalnya saja seperti Singapura yang awalnya adalah kerajaan Melayu Islam namun sekarang Melayu dan Islam hanya menjadi bagian sangat kecil dari Singapura karena orang-orang Melayu terdesak keluar.

Malaysia memang bukan contoh kelas dunia untuk kerukunan dan perdamaian antar etnis, karena mereka hanya memiliki 3 etnis besar. Namun, Malaysia bisa menjadi salah satu contoh bagaimana melindungi Bumiputera yang lemah dari head to head dengan kekuatan-kekuatan raksasa, khususnya kekuatan ekonomi yang berpotensi menindas dan menyingkirkan Bumiputera.* (Bersambung)

 

 

 

. Prayogi R Saputra adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra