Manah Meneb

 

PROLOG BangbangWetan Desember 2017 

Global Peace Index (GPI) atau Indeks Kedamaian Global tahun 2017 menempatkan Islandia di peringkat pertama. Negara di ujung utara bumi itu punya skor tertinggi dibandingkan 163 negara lain di dunia. Indeks Kedamaian diukur dengan beberapa pertimbangan, diantaranya: tingkat keamanan sosial masyarakat, bagaimana hubungan negara tersebut dengan rakyatnya, berapa banyak konflik terjadi dalam kurun waktu tertentu, hingga seberapa stabil kondisi politik suatu negara.

Sejak Mei 2007, laporan Global Peace Index dirilis ke publik untuk memberi gambaran bagaimana suatu negara dinilai lebih atau kurang damai di antara negara-negara lain. Riset tersebut didukung oleh banyak tokoh dunia, termasuk sekjen PBB, tokoh perdamaian dunia, ahli bidang kemasyarakatan, ahli ekonomi, dan sebagainya. Bukan tanpa kritik, karena banyak pula yang menganggap laporan tersebut tidak bisa dijadikan acuan ukuran perdamaian suatu negara. Bagaimana tidak, bayangkan betapa absurd suatu kedamaian diukur dengan besaran angka-angka. Sedangkan ‘bentuk’ kedamaian bagi tiap-tiap manusia sangat beragam dimensinya.

Kedamaian adalah sesuatu yang sifatnya individual dan spesifik. Sebagaimana bahagia, cinta, sedih, bangga, hampa, dan sebagainya sebab hal tersebut tidak tampak secara kasat mata. Manusia bisa terlihat tertawa dengan cerah namun hatinya dalam kesedihan mendalam. Apa yang dirasakan belum tentu terwakili oleh wujud ekspresi jasadiahnya. Tidak mesti orang kaya dengan bilangan harta melimpah punya hati yang terus menerus bahagia. Tidak bisa juga kita katakan negara termasyhur seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina, Jepang, Singapura — punya rakyat yang sehari-hari damai bermasyarakat dan bertetangga. Lebih dekat lagi, apakah kita sebagai rakyat Indonesia, sedang merasakan kedamaian (atau setidaknya pernah merasakan) di tengah kondisi zaman now? Katanya kebahagiaan itu letaknya di hati. Maksudnya, hati yang bagaimana?

Pada sebuah kesempatan, Mbah Nun pernah mengingatkan betapa penting menjaga hati dalam kondisi bahagia. Tidak boleh berputus asa dengan kasih sayang Allah dalam kondisi apapun. Beliau pun pada Maiyahan Juanda bulan lalu menanyakan pada kita “Bagaimana meneropong hati orang lain?” karena hampir tidak mungkin manusia menilai hati yang sifatnya rohaniah. Padahal kesejatian seseorang bukan terletak pada penampilan atau jabatan, melainkan ruh-nya. Maka seringkali pula kita terjebak karena tertipu diri sendiri oleh penilaian hati yang tidak bersih dari prasangka.

Wilayah hati adalah kita sendiri sebagai pemegang otoritas suasananya. Perasaan yang demikian itu tidak akan bisa dicapai dengan hati yang jauh dari Allah. Oktober lalu ketika Padhang mBulan Cak Fuad menjelaskan bahwa perjuangan dakwah dan hijrah manusia saat ini bukan seperti masa Rasulullah, bukan hanya berjuang melawan cacian dan penolakan tetapi lebih pada mempertahankan kesadaran diri yang murni menuju Allah. Mereka yang mampu meloloskan diri dari kegaduhan duniawi adalah yang disebut Allah sebagai Ulil Albab: yang berpikir dengan hatinya. Yakni hati terdalam (Lubb) yang tidak lagi terpengaruh hal lain di luar diri.

Segenap pembahasan soal hati memang tidak segera menemui titik akhir. Hampir setiap Maiyahan menguliti pengetahuan tentang hati. Dalam pengajian ini pula berkali-kali kita kalibrasi keseimbangan posisi hati sehingga tetap pada posisi waspada di berbagai keadaan. Kendati demikian, pasti masih ada sisa pertanyaan yang muncul tentang hati. Hati yang mana? Damai di mana? Meneb yang bagaimana? Di Manah?

 

 

Oleh : NggodokTema ISIM BangbangWetan