Menjadi pengajar di sebuah sekolah kecil dipelosok kabupaten tentu banyak godaan. Budaya cium tangan siswa kepada guru mungkin berniat baik, tapi buat si guru akan mudah tergelincir pada kebesaran dirinya.

Apalagi yang diajar siswa SMK. Ajaran penghormatan murid kepada guru entah sejak kapan dimulai memang bisa membentuk karakter siswa yang mengerti norma. Harapannya menciptakan siswa yang santun. Meski bagi guru bila itu digunakan secara berlebihan menyebabkan hal yang kedodoran.

Demikian pula dengan Uwais. Bukan untuk melawan budaya “cium tangan”, tapi lebih pada menjaga diri dari besar kepala dan jebakan kedodoran. Uwais kepada beberapa muridnya lebih sering “menggoda”. Sebelum murid mencium tangan setelah bersalaman, Uwais memutar tangannya untuk menggenggam jempol si penyalam. Saling memegang jempol, bentuk salaman yang biasa dilakukan oleh para anggota geng. Bentuk salam antar sesama untuk menunjukkan keakraban, kehangatan persaudaraan. Bukan menciptakan jarak Guru – Murid. Tapi membentuk kesadaran kesetaraan.

Meski itu tidak dilakukan pada semua murid.

Uwais memperhatikan benar posisi psikologis si murid. Setiap orang akan mendapatkan cara, sikap mengajar yang berbeda. Bukan untuk membeda-bedakan, lebih pada agar tidak memaksa kesamaan.

Uwais bukan hanya pengajar satu mata pelajaran. Bukan pula Buruh Ngajar.  Uwais dengan sangat bersungguh-sungguh mendidik muridnya untuk belajar hidup yang menghidupi.

Totalitas lelaku Uwais sebagai seorang Guru tidak berhenti sampai disitu. Ketika hampir semua Guru berlomba dengan Sertifikasi. Uwais memilih jalan sunyi. Bagi Uwais Profesional tidak lantas mengejar terpenuhinya Hak. Bagi Uwais profesional berarti memenuhi kewajiban dan berlomba shodaqoh menjalankan sunah lainnya.

Sudah lebih dari 2 tahun Uwais tidak mengambil jatah Gajinya. Seluruh uang “honor ngajar” disumbangkan kembali ke sekolah untuk beasiswa Murid. “Saya tidak bisa merubah kebijakan sekolah negeri ini, hanya sampai sekian saya berbakti” begitu kata Uwais. “Mungkin tidak banyak yang bisa saya lakukan, tapi saya juga tidak bisa kampanye besar pada teman lain” imbuh Uwais kemudian. Ketika hari ini digalakkan program orang tua Asuh, dimana seorang Guru diharapkan untuk ikut nyumbang mbiayai satu atau dua orang murid. Uwais hanya diam, tersenyum. Uwais sudah melakukan itu dua tahun yang lalu.

Selain menjadi Guru, banyak pekerjaan lain yang dilakukan Uwais. Dari berbagai macam pekerjaan tersebutlah Uwais mengambil keuntungan sedikit untuk mencukupi keluarganya.  Salah satunya adalah toko kelontong. Ditengah kepungan modernitas “minimarket” seperti mart mart lainnya. Uwais tetap bisa bertahan dan menemukan celah bersaing, bahkan lebih unggul. Toko Uwais mampu menyerap hingga 10 orang pekerja. Dengan penghasilan bahkan kesejahteraan yang diperhatikan betul oleh Uwais. Disamping manajemen profesional, Uwais menyelami betul manajemen kehangatan kekeluargaan. Dari hari ke hari Uwais menambah keluarga baru dan terus menerus meningkatkan kualitas dari keluarga yang ada.

 

Oleh : Santrine Ndut

Penulis adalah penggiat maiyah serta seorang yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan