Manusia Nir-Zalzalah

 

Kompleks Balai Pemuda, Surabaya. Di bawah langit cerah kota, sekumpulan manusia tulus berkumpul rapat dalam cinta. Bilah-bilah pagar seng penuh mural yang melingkari tempat acara tak mampu memisahkan rasa paseduluran mereka dalam BangbangWetan edisi Februari 2018.

Bertemakan ‘Neraca Zalzalah; nunggang jaran larat’, setelah pembacaan kalamullah, dulur-dulur Kanjeng Bungkul –grup musik yang beberapa tahun lalu juga pernah mengisi di Padhang mBulan– menemani setiap jeda sesi melalui lagu-lagu yang mereka dendangkan, juga beberapa shalawat nabi.

Tak ketinggalan, tepat sebelum Mbah Nun hadir di tengah-tengah Jamaah Maiyah, tiga anak muda dari Gardu Puisi (Gapus), Badan Semi Otonom (BSO), Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Surabaya, dengan rancak membacakan Tajuk yang ditulis oleh Mbah Nun dalam rangka memperingati 44 tahun peristiwa Malari yang berjudul ‘Ma RI wa La RI Disingkat: MALARI’.

Malam itu juga, paranoia banyak pihak terkait bentrokan antar pendukung sepakbola dalam babak 8 besar Piala Presiden benar-benar tak terbukti. Di Maiyahan lah, kita dapat melihat pemuda beratribut Arema dengan tenang duduk bersanding bersama pemuda beratribut Bonek dan Persebaya. Mereka rukun bersama nimbo ilmu dalam rangka mencari kebenaran yang lebih benar dibandingkan kebenaran sebelumnya.

Tak ada impresi selain keyakinan bahwa merekalah generasi anti cetek, cekak, dan ciut berpikir; Merekalah manusia-manusia seimbang, yang tak goyah oleh zalzalah; Merekalah para penakluk jaran larat, yang tentunya tetap dengan perkenan Allah swt. Aamiin…

Tim Reportase BangbangWetan