“Di era milenium yang serba canggih ini, peran manusia lambat laun mulai tergantikan oleh kehadiran robot. Segala lini kehidupan memimpikan kecanggihan dan kemutakhiran. Akan tetapi, hal itu membawa dampak lunturnya peran kemanusiaan kita, ras manusia. Hati dan jiwa mulai mengeras laksana rangkaian bahan baku robot.”

-Ratih Puspa Mustofa-

 

Jika di luar sana sedang terjadi pergolakan robot manusia, justru di sini yang menjadi tren adalah pencetakan manusia robot. Manusia dan robot sama-sama merupakan kata benda dalam KBBI, hanya saja ketika dua kata ini dipadukan maka salah satunya bisa menjadi beda maknanya . Robot manusia adalah sebuah robot yang didesain sedemikian rupa sehingga hampir menyerupai manusia, baik secara rupa maupun fungsinya. Sedangkan robot manusia sudah jelas memiliki arti sebaliknya. Tidak memiliki kedaulatan dan mungkin digunakan hanya untuk sebuah kepentingan. Bahkan juga mungkin manusia robot adalah manusia yang sudah kehilangan kesadaran bahwa dia yang fitrahnya tercipta sebagai manusia  telah beralih fungsi menjadi sebuah robot. Sebenarnya antara manusia robot dan robot manusia memiliki keterkaitan. Manusiaisasi robot yang dimaksud ialah menjadikan robot sebagai pengganti manusia sehingga yang terjadi adalah pergantian peran antar keduanya.

 

Di tahun politik ini, salah satu pokok pembahasan yang menjadi perdebatan calon pemimpin negara adalah masalah pengangguran. Apa sebenarnya penyebab banyaknya pengangguran itu? Apa karena jumlah lulusan sekolah tidak sebanding dengan pensiunan kerja? Atau mungkin ada faktor lain. Saya teringat tetangga saya yang bekerja di sebuah pabrik. Dia pernah mengeluh karena sekarang dia harus bekerja lebih keras dengan gaji yang sama seperti sebelumnya. Alasannya sederhana, karena jika sebelumnya dia melanjutkan proses produksi dari rekan kerjanya, tapi kini ia harus memproses produksi dari hasil mesin yang kinerjanya lebih cepat. Ya, pekerjaan rekannya kini telah digantikan oleh mesin-mesin. Jika dia tidak bisa mengimbangi perubahan ini, pabrik dapat dengan mudah mencari pengganti pegawai baru karena jutaan pengangguran siap menggantikan.

 

Sepertinya memang benar, sudah banyak aspek di kehidupan ini yang dulunya diperankan oleh manusia kini bergeser menjadi peran mesin-mesin robot. Mereka yang memiliki kedudukan dengan mudah mempermainkan dan mengeksploitasi manusia sesuka hati. Anggapan overpopulation mungkin juga mendasari untuk dengan mudah membuang manusia semaunya. Mungkin ini lebih parah dari sekedar robotisasi manusia. Karena jika robot yang rusak maka mereka akan mencari kerusakannya dan memperbaiki, tetapi jika manusianya yang ‘rusak’ maka dengan mudah ia akan mencari pengganti. Tanpa pernah berpikir atau bermusyawarah bagaimana jalan keluar terbaik bersama.

 

Penggunaan robot memang tidak ‘haram’ karena bisa jadi robot dibuat untuk mempermudah manusia memenuhi kebutuhan sesuai dengan tuntutan zaman. Tapi jelas robot tidak dapat menggantikan peran manusia secara penuh. Manusia memiliki akal dan perasaan yang dapat digunakan, tidak sekadar menuruti perintah seperti robot. Padahal jika dalam suatu perusahaan tidak terjadi eksploitasi sepihak maka sangat membuka peluang untuk semua pihak berusaha secara maksimal bersama-sama untuk memajukan perusahaannya. Karena jika perusahaan sejahtera secara otomatis hidup orang-orang di dalamnya juga ikut sejahtera. Tidak perlu menyamaratakan tiap-tiap kedudukan, karena memang setiap kedudukan memiliki perannya masing-masing. Yang terpenting ialah bagaimana tiap-tiap individu sadar akan tugas untuk memajukan perusahaan melalui kedudukannya bukan justru memanfaatkan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

 

Mengembalikan peran manusia dan robot pada posisinya masing-masing bukan hanya bertujuan untuk kesejahteraan semata. Lebih dari itu, ini adalah langkah kemanusiaan. Apalagi dalam lingkungan yang terbiasa dengan berdemokrasi. Setiap individu sudah selayaknya berdaulat atas dirinya sendiri untuk memenuhi kewajiban dan haknya. Sehingga tidak perlu ada paksaan untuk berpihak pada pemilik kekuasaan. Karena tujuannya bukan kesejahteraan pimpinan tetapi kesejahteraan umum.

 

Manusiaisasi robot maupun robotisasi manusia mungkin perlu dikaji lagi lebih mendalam, tidak hanya dalam lingkup perusahaan. Bisa jadi hal ini terjadi dalam bernegara antara pemerintah dengan rakyatnya, bisa juga dalam berkeluarga antara orang tua dengan anaknya, atau mungkin dalam individu kita sendiri yang kadang harus terrobotisasisi oleh nafsu kita sendiri, bahkan mungkin dalam aspek-aspek lain yang menghalangi terwujudnya keadilan sosial.

 

 

JUNIOR DANY WIBISONO

Pernah dilantik sebagai manusia. Bisa disapa melalui instagram @Prof.Yordan