Kolom Jamaah

Masa Depanku itu Gelap

Kemlagen #1

Oleh: Samsul Huda

 

 

Hari ini, seperti biasa selama pandemi, usai mengimami jamaah Subuh di mushola, saya pulang, bikin kopi dan menikmatinya  sendiri  sambil nderes Al- Qur’an nazron beberapa lembar. Lalu pergi ke sawah merawat tanaman padi. Maklum, petani yang hidup di desa. Sekitar jam 08.00 pulang, sarapan, mandi dan sholat Dhuha. Kemudian istri minta diantar untuk satu keperluan. Maklum tidak bisa bersepeda motor. Jadi kemana-mana harus saya antar. Sekalian jalan-jalan menghilangkan kesepian karena ketiga anak saya  mondok di Ploso dan Lirboyo,  Kediri.

 

Sekitar jam 10, di sela acara, istri saya buka WA. Ternyata ada chat  dari Abah Slamet Sidoarjo yang isinya undangan untuk mengikuti forum Bangbang Wetan hari itu juga jam 12 siang. Meski sempat bingung menjawabnya karena mendadak dan harus mengatur jadwal, akhirnya saya putuskan untuk hadir dan mengikuti acara rutin bulanan itu.

 

Sekitar jam 13.30 saya tiba. Acara sudah dimulai dengan tadarus Al Qur’an nazron. Perasaan saya mengembara ke kisaran tahun 2006-2007. Di masa-masa itu, beberapa kali  saya hadir di BbW dan ikut tadarus Al Qur’an. Kembara rasa itu akhirnya mengarah ke pengajian Padhang mBulan tempo dulu yang selalu diawali oleh jamaah dengan tadarus Al-Qur’an 2 hingga 3 juz. Setelah tadarus, sekitar jam 9 malam, dilantunkan wirid Maiyah, Sholawat dan pengajian serta diskusi sampai kurang lebih jam 3-4 dini hari.

 

Sambil bernostalgia, sesuai “jatah”, saya melantunkan  surat Muhammad. Pemaparan tema dan diskusi dimulai sekitar jam 14.00 dengan cak Amin sebagai pemandunya.. BbW kali ini dilaksanakan siang hari karena mentaati pemerintah yang memberlakukan jam malam terkait program PPKM. Karena itu pula maka acara tidak disiarkan secara live, tapi siaran ulang. Nara sumber utama adalah Cak Suko, Dosen Unair dan Mas Karim dari Belanda. Mereka berdua tersambung melalu sebuah aplikas e-meeting. Karena sesuatu hal Gus Sabrang tidak bisa membersamai.

 

Hasil lengkap sinau bareng bisa dibaca di reportase di media kita ini (www.bangbangwetan.org). Namun yang bisa saya hikmahi adalah ungkapan terakhir Mas Karim bahwa “Kita bersyukur punya kebun. Kita bisa menanaminya. Kita bisa berteduh. Kita bisa menikmatinya. Dan kita bisa mengambil manfaatnya kapan saja. Sebagaimana Simbah (Mbah Nun) terus menulis di Kebon“. Saat tulisan ini saya susun, serial Kebon dari Simbah telah mencapai 66 episode. Satu uswah yang terus memberi saya energi dan memutuskan untuk membuat tulisan bersambung.

 

Acara Bbw diakhiri jam 17.00 bersama turunnya hujan yang penuh berkah. Hujan pula yang mengiringi perjalanan saya dari MI Tarbiyatus Syarifah, gedung 2 Pekarungan, Sidoarjo sampai di gedung Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Kembang mBelor, Pacet, Mojokerto.

 

Semua ini karena diperjalankan olehNya. Masa depanku itu gelap. Bahkan sedetik waktuku ke depan itu gelap gulita. “Jalani gelapnya masa depanmu dengan iman dan yakin” begitu Simbah pernah dawuh.

 

Minggu, 24 Januari 2021

 

 

Samsul Huda adalah santri sekaligus  pengajar di PP Roudlotun Nasyi’in dan PP Amanatul Ummah. Seorang jannatul Maiyah yang kemauan belajar serta menulisnya menafikan keterbatasan usia.