Masjid As-Sakinah, Balai Pemuda

Oleh : Prayogi R Saputra

Bagi Jangkung, mencintai Masjid As-Sakinah bisa jadi seperti mencintai kampung halaman. As-Sakinah tertanam dalam di lubuk hati, meskipun dia jarang berkunjung untuk menemui. Begitulah hubungan Jangkung dengan Masjid As-Sakinah, Balai Pemuda, Surabaya. Sejatinya, Surabaya, dan Balai Pemuda, bukan menjadi bagian dari mimpi-mimpi ideal Jangkung. Surabaya, kota yang panas kendati sekarang indah, tetap saja tak mampu menaklukkan hatinya untuk jatuh hati kepada Surabaya. Sebab, Jangkung sudah terlanjur menjatuhkan diri, membiarkan diri terjerembab, bahkan berkubang, di Kota Berhati Mantan: Jogja.

Namun, apa lacur. Tuhan mengirimkan titahNya kadangkala –mungkin juga seringkali– justru di tempat yang tak kita sukai, bahkan benci. Begitulah yang terjadi pada suatu malam. Saat itu, Jangkung baru saja boyong dari “pesantren” di Jember. Lantas tinggal sementara di Surabaya yang sebenarnya bukan pilihan terbaik. Tapi, seringkali manusia memang tidak diberi pilihan. Jangkung akhirnya berada di Surabaya. Ya! Sekedar ‘berada’ di sana, bukan untuk tinggal, apalagi menetap. Hatinya masih sangat terpikat dan membiarkan diri gagal move on dari Mantan.

Untunglah, ada saudara Mantan di Surabaya. Kalau jantung si Mantan tinggal menetap di Kasihan, Jogja. Maka, saudara Mantan ini tinggal di Balai Pemuda. Hingga pada suatu malam Jangkung berkunjung ke sana. Dia ikut membicarakan Mantan dan saudara mudanya: BangbangWetan, di beranda selatan masjid kompleks Balai Pemuda. Jangkung tak tahu nama masjidnya. Juga tak ada niat mencari tahu.

Disela-sela obrolan, seorang gadis pamit ke belakang. Tubuhnya tinggi, langsing, penampilannya sederhana. Entah siapa namanya. Eh, dia mengambil sepasang sandal untuk pergi ke toilet. Gadis itu bertanya kepada orang-orang yang hadir, siapa pemilik sandal yang hendak dipakainya. Kebetulan, sandal itu milik Jangkung. Tahukah engkau wahai para Jomblo bahwa jika sandalmu dipinjam oleh seorang gadis untuk dipakai ke toilet, itu sebuah tragedi. Tragedi luar biasa. Mau ditaruh di mana mukamu, jika bepergian ke suatu acara dengan mengenakan sandal yang levelnya pantas diajak ke toilet. Seperti Hamish yang mendadak lupa teks akad nikah saat prosesi pernikahan dengan Raisa.

Tapi rupanya, Tuhan menyembunyikan rahasiaNya di balik sandal toilet itu. Ternyata sejak malam awal musim kemarau itu, “sandal toilet” tidak pernah bisa benar-benar lepas dari telapak kaki si gadis. Sandal itu terus menerus membuntutinya. Menghantuinya. Mengikuti ke mana pun dia pergi. Bahkan, ikut melayang bersama mimpi-mimpi malamnya. Pelajaran moral pertama, Kawan: jangan pernah meremehkan sandal toilet. Karena, dia bisa saja menghantui hidupmu. Jika perlu, hingga habis sisa umurmu.

Sembilan bulan kemudian, gadis peminjam sandal itu bertekuk lutut dan bersumpah untuk menyerahkan dirinya seluruh-luruhnya kepada Jangkung. Hahaha!!! Dia menjadi istri Jangkung. Lantas, mereka menetap di tempat yang bertahun-tahun menghantui mimpi-mimpi Jangkung: di desa yang udaranya sejuk, dekat Universitas, dan ketika pagi atau senja mulai luruh ke cakrawala Jangkung bisa menyeruput kopi di beranda sambil memandang puncak gunung di kejauhan. Mimpi-mimpi masa kecil yang diwujudkan oleh Tuhan, berawal dari hal yang bahkan paling tidak disukai oleh Jangkung.

Begitulah, titik awal kehidupan Jangkung bermula dari tragedi sandal yang dipinjam ke toilet di Masjid Balai Pemuda. Setelah beberapa tahun kemudian, baru Jangkung dan istrinya tahu bahwa nama masjid itu adalah As-Sakinah. Sebuah nama yang lekat dengan urusan berkeluarga.

Jangkung memang bukan tipe orang yang merasa nyaman dengan arsitektur Masjid As-Sakinah yang jadul. Tapi bagaimana pun, di masjid itu, Jangkung seringkali duduk, berbaring atau ikut tidur bersama anak balita Jangkung jika malam-malam BangbangWetan. Dan, kelakukan seperti itu bukan hanya dilakukan oleh Jangkung. Kawan-kawan Jangkung juga seringkali melakukannya. Puluhan, ratusan, mungkin ribuan orang memiliki ceritanya masing-masing atas Masjid As-Sakinah, Balai Pemuda.

Saat ini, masjid itu dibongkar. Menurut informasi, untuk direnovasi menjadi lebih luas, indah dan nyaman. Mungkin juga untuk dipindahkan. Tapi, Masjid As Sakinah yang jadul itu tetap tak tergantikan. Ribuan kisah sudah terpahat di dinding-dindingnya, dan dalam kenangan para pelakunya.

Masjid As Sakinah menjelma menjadi seperti kata Sapardi:
Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan kurelakan sendiri

Selamat Jalan Masjid As-Sakinah Lama, Engkau menyimpan di lubuk hatimu rahasia dan kisah-kisah cinta kami semua. *

 

Prayogi R Saputra adalah penulis buku “Spiritual Journey” yang berdomisili di Malang. Lulus dari jurusan Hubungan Internasional namun lebih akrab dengan perbincangan mengenai sastra dan filsafat. Bisa disapa melalui akun facebook Prayogi R Saputra