Maskumambang Agawe Suka

(News BangbangWetan)

 

Forum Jumat Rono-rene (FJR) edisi, Jumat 23 Agustus 2019, terasa sangat penuh dengan nuansa sejarah dan kelahiran. FJR kali ini bertempat di kediaman Pak Suko Widodo–salah seorang sesepuh di BangbangWetan yang juga Dosen Universitas Airlangga Surabaya–di Perumahan Safira Regency B2 No. 12, Lidah Kulon, Lakarsantri, Surabaya. Sang shohibul hajat memohon agar FJR-an diselenggarakan di kediamannya dengan maksud selain untuk menjalin silaturahmi dan rembuk persiapan milad ke-13 BangbangWetan, juga untuk bersalawat dan wirid bersama untuk mendoakan kandungan anaknya yang memasuki usia 4 bulan.

 

Malam itu kian terasa spesial karena di-rawuh-i Ki Sudrun dari Blitar yang tampak sangat kangen untuk ngumpul bersama dengan generasi muda BangbangWetan. FJR diawali dengan salawat dan wirid bersama yang dipimpin oleh Cak Luthfi dan diteruskan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ki Sudrun dengan melafazkan surat Alinsyirah, Alfil, Alfalaq, Annas, dan diakhiri dengan hizb Nasr.

Ki Sudrun menyampaikan beberapa petuah dengan mengutip tembang macapat dalam kitab Kalatidha, ”Kehamilan adalah fase maskumambang. Kenapa disebut maskumambang, kok bukan pedang-kumambang? Karena mas lah sesuatu yang berharga yang terkandung dalam perut bumi. Mengapa ketika lahir jabang bayi tidak disebut brojol? Kenapa kok mijil? Karena jabang bayi yang sedang kuliah di universitas gua garba ibu akhirnya wijil, wiyos, atau raras untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya.” Jadi menurut Ki Sudrun universitas pembelajaran yang paling tinggi adalah gua garba ibu.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan jagongan bersama penuh canda, tawa, jokes pemancing tawa, dan kegembiraan tak berkesudahan. Kegembiraan itu tersimpan dengan terpancar pada raut senyuman semua yang hadir dengan sangu berkat dan berkah dari Pak Suko sebagai rayuan kepada kasih sayang Allah.

 

[Tim Reportase BangbangWetan]