Sonya Ramadlan

Maulid Nabi

 

” Tak peduli seberapa banyak Engkau ditolak, seberapa sering Engkau dihina, dan seberapa deras batu yang menghujanimu. Cintamu pada umatmu tak pernah luntur. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menunjuk katresnan dan rasa terimakasih padamu? “

Putaran masa menuntun kita memasuki paruh kedua bulan penuh berkah ini. Tujuh belas Ramadhan, hampir semua umat Muslim mengetahui dan memeringatinya sebagai Nuzulul Qur’an. Dimana ayat pertama, Iqro’, turun di Gua Hira’ kepada junjungan kita, Muhammad saw, melalui Sang pembawa wahyu, Jabarala.

 

Tak ada yang salah dari catatan sejarah tersebut. Namun, dari guruku, Mbah Nun, saya mendapatkan sebuah pemahaman baru. Satu dari sekian banyak pemikiran revolusioner Beliau yang telah membawaku ke dalam pemahaman baru tentang Maulid Nabi. Awam mengetahui bahwa Maulid Nabi diperingati tiap 12 Rabi’ul Awal. Dimana Muhammad bin ‘Abdullah dilahirkan ke dunia di Kota Makkah pada tahun Gajah. Sedangkan menurut Mbah Nun, Maulid Nabi seharusnya jatuh pada 17 Ramadhan, bersamaan dengan turunnya wahyu pertama pada Beliau.

 

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad

 

Dari sebuah Gua di Jabal Nur peristiwa itu di mulai. Peristiwa yang membuat Engkau harus panas dingin saat menerima wahyu pertamamu sampai-sampai Sayyidatina Khadijah harus menyelimutimu. Sebuah awal dari perjalanan panjang dalam beratnya menyebarkan Islam di muka bumi. Tak peduli seberapa banyak Engkau ditolak, seberapa sering Engkau dihina, dan seberapa deras batu yang menghujanimu. Cintamu pada umatmu tak pernah luntur. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menunjuk katresnan dan rasa terimakasih padamu?

 

Dalam gersangnya jazirah Arab, di saat berpuasa Rasulullah dan para Mujahidin diharuskan berperang melawan mereka-mereka yang akan memerangi agama ini. Fathul Makkah, perang Badar, penaklukan Kota Ta’if, perang Khandaq, perang Tabuk itu sedikit peristiwa dari ujian keimanan bagi umat Islam dalam memperjuangkan Islam pada masa itu. Bayangkan saja bagaimana rasanya jihad fii sabilillah sembari menahan lapar dan dahaga.

 

Sedangkan apa yang kita lakukan? Kita sekarang justru lebih sibuk ngabuburit, buka bersama kesana kemari, belanja baju lebaran, kue lebaran, hingga persiapan mudik dan libur lebaran. Riuh ramai sangat kontras dengan masamu, Ya Rasul…

 

Pada 17 Ramadhan ini lebih dari 6 Abad yang lalu, Engkau resmi diangkat mejadi utusan Allah. Utusan yang dengan penuh cinta menuntun kita keluar dari gelapnya zaman. Utusan yang sangat sabar tak peduli seberapa banyak cobaan yang dihujamkan padamu. Muhammad saw, sosok mulia yang abadi dalam hati kita walau secara raga telah tiada.

 

Engkau yang di saat akhir hayatmu masih sempat mengucapkan ummati, ummati, ummati, apakah saya salah satu bagian dari yang Engkau sebut itu, Ya Rasul? Masih sangat tak sebanding cinta saya padamu. Yang bisa saya lakukan sekarang hanya melantunkan shalawat nan sumbang sebisanya dan sehafalnya. Namun dengan sangat, mohon izinkanlah saya menjadi salah seorang yang Engkau bolehkan gondelan jubahe njenengan.

 

Ya Nabi salam ‘alaika

Ya Rasul salam ‘alaika

Ya Habib salam ‘alaika

Shalawatullah ‘alaika

 


Oleh: Wahyoko Fajar*

*) Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Bisa disapa melalui akun twitter @wahyokofajar