Mawas Diri sebagai Organisme

WELASAN. Memasuki perjalanan 11 tahun Bangbang Wetan kali ini menjadi moment sangat menggebirakan namun tetap pada nuansa mawas diri khususnya bagi para JM dan pegiat. Ritme 11 tahun BangbangWetantidaklah singkat, terlebih untuk forum yang dengan istiqomah diselenggarakan secara swadaya dan selalu menjadi ladang manfaat agi siapapun. 11 tahun BangbangWetan yang tetap terselenggara hingga saat ini sudah pasti tidak luput dari para pegiat dan Jama’ah Maiyah (JM).

Hal yang berbeda tentang BangbangWetan dulu dan sekarang adalah semakin berkembang, beragam, dan kompleks tantangan yang ditemui dalam Organisme Maiyah di Surabaya. Tantangan ini tampak secara kuantitas dan kualitas endapan ilmu Maiyah pada masing-masing jama’ah. Tidak bisa dipungkiri bahwa situasi datang dan perginya pegiat ataupun JM  tidak menjadi alasan untuk berhenti merawat semangat persaudaraan dan kekompakan untuk mengahadirkan kebaikan. Istiqomah inilah yang menjadi pijakan sehingga BangbangWetan terus ada sampai saat ini.

Generasi JM yang semakin masif secara kuantitas pada perkembangannya kemudian membentuk komunitas-komunitas kecil, ruang-ruang diskusi yang lebih beragam namun tetap berlandasan pada nilai-nilai Maiyah. BangbangWetan saat ini tidak hanya terpaku pada forum-forum Maiyahan. Nilai-nilai Maiyah secara alamiah kemudian masuk pada komunitas-komunitas kecil yang mewadahi generasi muda, sehingga aplikasi dari para JM pun berkembang beragam sesuai muatan yang dialami oleh setiap JM. Contoh konkretnya adalah inisiatif untuk membentuk Bonek Maiyah, Pena Maiyah, Forum Jumat Rono-rene (FJR), pementasan Tikungan Iblis, Hati Matahari dan lain sebagainya.

11 tahun BangbangWetan adalah sikap tandang (kerja). Sikap tandang sebagai kultur masyarakat Surabaya juga tercermin pada JM dan pegiat di setiap proses dan penyelenggaran event BangbangWetan. Demikian pula dengan kesadaran para JM. Dulu di setiap forum BangbangWetan, kehadiran Cak Nun selalu diharapkan sebagai sumber ilmu. JM saat ini berbeda. Mereka pada takaran berjalan dewasa, bijaksana, dan istiqomah untuk memperluas ruang-ruang ilmu dan mencari pintu manfaat masing-masing JM dalam setiap kegiatan endapan, simpul, rolasan, atau lainnya.

11 tahun BangbangWetan bukanlah pencapaian terlebih untuk sekedar mencari eksistensi dan popularitas. JM Surabaya berkembang dengan didominasi oleh usia-usia muda yang semakin bertambah dan beragam. 11 tahun perlu disikapi oleh JM dan pegiat untuk tetap istiqamah melakukan kebenaran ditengah-tengah keruwetan persoalan yang dialami oleh masing-masing JM. Karena JM meyakini bahwa untuk melawan kebatilan bukan dengan cara membenci namun dengan terus-menerus malakukan kebenaran.

Kuantitias JM yang semakin banyak serta tingginya antusiasme terhadap nilai-niali maiyah sebagai icon tentu bisa menjadi bumerang tersendiri bagi JM jika tidak dikelola secara baik. Oleh karena itu konsep dasar tentang nilai-nilai maiyah di 11 tahun BBW ini perlu disinaoni kembali. Maiyah bukan sebagai alat “gagah-gagahan”, sebagai alat untuk merasa telah berkorban atau memberi sesuatu, namun Maiyah merupakan pijakan untuk menghadapi dialektika kehidupan masing-masing JM untuk semakin berkarya, terus bekerja, dan memperbaiki diri secara terus-menerus. Maiyah adalah siklus daur kehidupan yang senantiasa harus terus-menerus dilakoni oleh masing-masing JM.

 

 

Oleh : Akbar Laksana , Salah satu jamaah Maiyah BangbangWetan yang aktif dalam berbagai organisasi serta penggiat olahraga beladiri .