Mbeber Kloso Talenta Anak Negeri

REPORTASE BANGBANGWETAN MARET 2018 – ETNOTALENTA

Forum BangbangWetan (BbW) edisi Maret 2018 untuk kedua kali berturut-turut dilaksanakan di ‘rumah’ yaitu halaman Kompleks Balai Pemuda, Surabaya. Forum yang dibuka dengan pembacaan surat At-Taubah serta dilanjutkan wirid serta shalawat mampu menghadirkan suasana kehangatan yang terasa menyatu dalam kekhusyukan pada Minggu, 11 Maret 2018.

Semoga setiap bulan kita memperoleh kegembiraan yang dikirim oleh Allah sehingga dapat beristiqomah untuk menghadiri forum yang Insyaallah barokah. Serta tak lupa para penggiat berterima kasih kepada para jemaah yang telah menyisihkan waktu dan energinya untuk mengikuti forum pencerahan kita bersama.

Malam itu dengan tema ‘Etnotalenta’ jemaah diajak kembali untuk membaca prolog di website http://www.bangbangwetan.org/ sebelum menyelami lebih dalam bersama narasumber yang akan hadir. Pada kesempatan kali itu, hadir grup musik gamelan “Padhang Howo” dari Pasuruan yang mengajak jamaah untuk melantunkan Shalawat Bashirot yang dihadiahkan untuk Rasulullah, para pejuang di jalan Allah, para salikin Jannatul Maiyah, Mbah Nun sekeluarga, dan guru-guru semua, serta seluruh jemaah BbW.

Masuk pada tema, Mas Rio mengawali, “Tema ini berangkat dari pernyataan Mbah Nun bahwa dalam 10 tahun ke depan akan ada pergeseran besar terkait konstelasi ekonomi politik dunia, di mana ekonomi politik bahkan budaya negara adidaya Amerika Serikat akan mengalami degradasi ke level kedua dan pada saat yang sama China akan menempati urutan pertama. Ironisnya negara yang selama ini berada di wilayah Afrika, Amerika Latin, dan sebagian Asia Tenggara akan tetap berada di urutan ke tiga. Lalu di manakah Indonesia? Di manakah posisi Indonesia 10 tahun ke depan?”

Titik pokok pembahasan yang ingin dibincangkan malam hari itu adalah apa yang akan kita lakukan dalam menghadapi era seperti itu? Apakah kita akan menjadi tangan-tangan kekuasaan China? Bahkan pernyataan agen pemerintah sudah mengakui bahwa skill tenaga kerja Indonesia kurang kompeten sehingga tenaga kerja asing dibuka untuk masuk ke Indonesia. Ini merupakan sebuah tantangan besar yang harus kita hadapi.

Pada tahun 1983, Mbah Nun pernah menulis tentang “Etnotalentologi”. Dalam sebuah kesempatan acara Sinau Bareng internal satu hari sebelum BbW di Surabaya, Mbah Nun menyampaikan sebenarnya masyarakat Indonesia itu multitalenta, berbeda dengan masyarakat luar yang hanya ahli di satu bidang. Titik tekannya adalah tekunilah satu hal hingga kau ahli dalah hal itu. Sebuah contoh yang diambil misalnya jika kamu ahli lidi, tekunilah hingga tidak ada orang yang ahli selain dirimu. Multitalenta itu bagus, tetapi harus ada satu konsentrasi bidang yang ditekuni. Tantangan terbesar kita adalah menemukan bakat untuk ditekuni. Seperti salah seorang jemaah yang menceritakan bakat sepakbolanya sejak kecil. Hobinya itulah yang akhirnya membawa keberuntungan hingga bisa mendapatkan penghasilan.

Menjelang pukul setengah sebelas malam, gerimis mulai mengguyur halaman Balai Pemuda. Jemaah diajak untuk lebih merapat ke panggung guna memberi tempat kepada jemaah yang tidak kebagian terop.

Mas Hari sebagai perwakilan koordinator simpul mengajak jemaah untuk terus mengusulkan butir-butir Piagam Maiyah secara online melalui formulir yang telah disiapkan link-nya di twitter dan facebook resmi BangbangWetan. Dengan adanya usulan butir-butir Maiyah dari para jemaah, Piagam Maiyah bisa segera disusun sebagai pegangan dan panduan dalam berinteraksi dalam menghadapi keadaan zaman sekarang dan yang akan datang.

Dalam kesempatan kali itu pula Pak Didit HP, pengasuh dari Sanggar Alang-alang, Surabaya ikut hadir ke panggung. Beliau tergelitik dengan tema Etnotalenta malam itu. Etnotalenta berasal dari dua kata yaitu, ‘Etno’ yang artinya etnis atau suku bangsa dan ‘Talenta’ yang berarti bakat bawaan. Sanggar Alang-alang telah membimbing anak-anak jalanan hingga menghasilkan banyak anak-anak berbakat. Salah satu contohnya adalah grup music Klantink, juara Indonesia Mencari Bakat di sebuah televisi swasta. Tidak hanya dibidang musik, pada tahun 2014, Sanggar Alang-alang mewakili Indonesia mengikuti pertandingan sepakbola antar anak jalanan di Brazil yang diikuti oleh 12 Negara, dan Sanggar Alang-alang berhasil meraih juara 1. Alhamdulillah pada tanggal 15 April 2018, Sanggar Alang-alang telah memasuki usia 20 tahun. Semoga niat baik Pak Didik senantiasa diberi kekuatan membimbing anak-anak jalanan untuk senantiasa berkarya.

Dengan diantar satu nomor lagu dari Padhang Howo, narasumber naik ke panggung. Pak Suko Widodo, Mas Sabrang MDP, dan Pak Joko Susanto mengajak jemaah untuk mendalami apa yang telah didiskusikan di awal. Langsung ada pertanyaan dari salah satu jemaah yang sebelumnya mengikuti diskusi pembahasan prolog di awal yang menanyakan bagaimana dengan masa depan Amerika Serikat, apakah kelak masih berkuasa?

Selanjutnya, diskusi dibuka dengan pemaparan Pak Joko, pakar Hubungan Internasional dari UNAIR yang takjub karena ternyata masih ada forum di tengah malam yang membahas tentang Amerika Serikat. Pak Joko memancing dengan pertanyaan, “Masih relevankah kita berbicara tentang Amerika atau kita ganti dengan berbicara tentang China?”. Kalau kita berbicara tentang ekonomi, ke depan China akan semakin besar dalam hal penguasaan ekonomi, tetapi China masih mempunyai PR. Menurut Pak Joko, China membutuhkan 22 tahun untuk kaya tetapi dalam waktu 18 tahun mayoritas warga China sudah keburu tua. China keburu tua sebelum kaya karena ada titik lemah dalam penduduknya. China sebagai negara tidak punya kekuatan cukup untuk mendatangkan orang dari luar. Berbeda dengan Amerika Serikat. Lalu apa yang membuat Amerika Serikat jadi hebat? Amerika hebat karena belajar dari ilmu Orang Jawa. Pepatah jawa mengenal tembang “E, dayohe teko. E, beberno kloso. E, klosone bedah. E, tambalen jadah…”. Jadi, kunci kesuksesan Amerika Serikat adalah mbeber kloso karena berhasil mengumpulkan orang-orang terbaik dunia kemudian menyiapkan wahana dan memfasilitasinya untuk membangun negara. Amerika Serikat menyadari kekurangannya dengan mengekspor dolar dan mengimpor otak-otak cerdas.

Pada tahun 80-an Indonesia adalah yang terdepan dalam menyiarkan tayangan anak lewat film “Si Unyil”, tetapi teknologi berkembang dengan hadirnya anak-anak Indonesia yang kreatif tetapi sistem pemerintahan tidak mampu menyerapnya sehingga orang-orang terbaik kita lari ke negeri tetangga hingga menghasilkan karya seperti “Upin-ipin”. Pak Joko juga menerangkan bahwa yang membangun Menara Petronas di Malaysia merupakan arsitek terbaik Indonesia. Wong jowo wes ilang jawane, kanggo dulur e dewe wes ora mbeberno kloso. Pak Joko menegaskan bahwa Indonesia mempunyai peluang untuk menjadi superpower. Seperti lembaga PricewaterhouseCoopers (PwC) yang membuat skema bahwa pada tahun 2050, ekonomi terbesar yang berdiri paling atas adalah China, India, Amerika Serikat, dan Indonesia.

Pemaparan dari Pak Joko kemudian dielaborasi lebih lanjut oleh Mas Sabrang. Beliau mengawali pemaparannya dengan menjelaskan dari sisi budaya dengan sudut pandang dan jarak pandang yang lain. Indonesia banyak lebih bervariasi dalam kata-kata jatuh dari pada rising, bangkit. Karena kita kebiasaan di atas sehingga banyak kejadian jatuh. Permasalahan China adalah kekurangan anak muda, berbeda dengan anak muda di Indonesia yang banyak dan kreatif. Kita harus belajar dari bangsa lain, mengulang penjelasan Mbah Nun saat Kenduri Cinta dua hari sebelumnya. Mas Sabrang menyampaikan bahwa sebetulnya Indonesia memiliki banyak orang yang pintar, sayangnya tidak didukung dengan sistem yang cetha. Sistem tersebut meliputi sistem apa pun, tidak hanya sistem pemerintahan. “Kita tidak punya budaya membangun sistem kredibilitas pada satu bidang.” Sehingga, menurut Mas Sabrang selalu terjadi perebutan posisi untuk disebut ahli dalam setiap peristiwa, misalnya ketika ramai piala dunia, banyak orang menjadi ahli piala dunia. Namun, kita tidak tahu atau tidak punya sosok yang dapat benar-benar disebut ahli untuk menjadi rujukan mencari kebenaran.

Kyai Muzammil yang hadir di tengah-tengah jemaah ketika Pak Joko Susanto memberi pemaparan mengenai tema BangbangWetan Maret, selanjutnya memberi pemaparan yang tersambung dengan penjelasan Pak Joko di awal. Kyai Muzammil menekankan bahwa yang dikatakan superpower bergantung pada tolok ukur yang dipakai. “Semua hanya persoalan sudut pandang dan cara pandang,” jelasnya. Kemajuan dapat terlihat sebagai kemunduran. Kyai Muzammil berpesan pada jemaah agar mempelajari identitasnya dan tidak perlu menjadi bangsa lain. Kaitannya dengan tema, Ia menegaskan kembali bahwa setiap etnis memiliki talenta yang berbeda-beda, maka yang perlu dilakukan adalah fastabiqul khairat, berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik, tetapi dalam kapasitas sesuai talenta masing-masing.

Menanggapi pertanyaan dari jemaah, Kyai Muzammil menyampaikan bahwa Indonesia akan maju dengan ke-Indonesia-annya. Ia kembali mengingatkan bahwa kita tidak perlu silau dengan barat, lalu ingin menjadi barat. Sejalan dengan yang dikatakan Kyai Muzammil, Mas Joko menambahkan bahwa yang perlu dilatih dari bangsa Indonesia adalah rasa percaya diri atas talenta sendiri. Pak Joko kemudian menutup diskusi dengan sebuah pesan untuk semua jemaah, “Ayo mbeber kloso, biar kita bisa belajar apa pun dari siapa pun. Ning ojo sampe kelangan kloso.”

Tidak terasa diskusi BangbangWetan edisi Maret menginjak pukul setengah empat pagi, sehingga Mas Amin sebagai moderator mengajak semua yang hadir untuk bershalawat bersama sebagai penutup.

Tamalia dan Sita – Tim Reportase ISIM BangbangWetan